Ketika Letkol Suharto Persunting Putri Mangkunegaran

Foti; Instagram/istimewa
Keluarga besar Suharto
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SUATU hari pertengahan tahun 1947 Letnan Kolonel Suharto bertandang kepada bibi dan pamannya Prawiro Hardjo yang sedang berada di Yogyakarta. Waktu Itu Suharto menjabat komandan resimen 22 Yogyakarta yang bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan presiden, wakil presiden berserta jeluargacyang berada (dalam rangka hijrah) di istana Ngayogyakarta.
Setelah ngobrol ngalor ngidul, bibinya berkata. "Harto kamu ini sudah 26 tahun, kok belum menikah. Orang lain di Wuryantoro sana sudah pada punya anak, kapan kamu mau berkeluarga?".
Suharto yang sejak usia 8 tahun tinggal dan sekolah bersama bibi dan pamannya di Wuryantoro sebuah kewedanaan di Kotapraja Solo. Pamannya Prawiro Hardjo menjabat Mantri (bukan menteri) Pertanian Kecamatan Wuryantoro.
Menjawab pertanyaan bibinya Suharto bilang, "Bule di resimen itu sedang genting. Bisa saja Belanda menyerang tiba-tiba,".
"Dalam keadan genting juga, nikah bisa kok".
"Lagian siapa yang mau sama saya, laki-laki dari kampung anak petani miskin," jawab Suharto seperti kurang percaya diri.
"Begini, kalau begitu kamu ingat nama Siti Hartinah teman sekelas adikmu Sulardi?," kembali bibinya bertanya.
"Oh iya, dia itu putri kerabat Mangkunegaran III. Katanya sekarang ikut berjuang dan aktif di Palang Merah Indonesia. Apa dia mau sama saya?" kata Suharto agak sumringah.
"Begini, aku punya tetangga di Wuryantoro yang kenal dekat dengan RA Hatmanti Hatmo Hudoyo (ibu Siti Hartinah). Nanti bibimu mau minta bantuan untuk menjadi penghubung dengan keluarga RM Sumo Haryono," kata bibinya.
"Kalau begitu saya mengikuti bule saja," jawab Suharto sambil pamit kembali ke markas kesatuannya.
Selanjutnya bulenya atau bibinya Suharto datang ke rumah Wuryantoro meminta bantuan menjadi penghubung. Begitu bertemu keluarga RA Hatmanti Hatmo Hudoyo (ibunya Siti Hartinah), suami istri itu sampai berkerut kening mengingat nama Suharto lLantaran tidak ketmu saja. Maka dipanggil lah sang putri.
Ketika ditanya apalah kenal dengan Suharto?, Siti Hartinah menjawab. "Oh iya temen satu sekolah. Sekarang sudah jadi perwira muda,".
Singkat kata, sepertunya Siti Hartina dan keluarganya setuyju mempertemukan dengan Suharto. Selanjutnya disepakati akan ada acara bertemu dan nontoni (lamaran).
Karena permasalahan ada pada keluarga ningrat acara nontoni berjalan dengan lancar. Disepakati pernikahan akan dilaksanakan tanggal 26; Desember 1947 di kediaman RM Sumo Haryono.
Pada waktunya ditemani adiknya Sulardi, Suharto berangkat ke Wuryantoro menggunakan kendaraan dinas militer.
Di jalan sang adik menggoda dalam nada canda. "Ternyata menaklukkan tentara Belanda lebih mudah daripada menikahi putri Mangkunegaran," Suharto hanya mesem.
Singkat kata Ijab qobul dilaksankan sore hari dengan dihadiri oleh beberapa keluarga kedua. Malam harinya diadakan pesta kecil-kecilan yang dihadiri oleh beberapa teman pengantin pria dan wanita. Tapi diaantara sedikit undangan itu tampak hadir Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Suharto hanya punya waktu empat hari berada di rumah mertua. Ia harus segera berangkat ke Front Ambarawa mengusir tentara sekutu.
Setahun berada di hutan hutan ternyata sang istri sudah melahirkan anak pertama. Sang ayah baru bisa pulang ketika bayi berusia 3 bulan. Sesungguhnya Suhsrto ingin dapat anak pertama laki-laki, tetapi Allah memberi seorang perempuan.
"Ya sudah mau apa lagi, falsafah Jawa menyebut laki perempuan sama saja . Itu anugerah. Putri pertama Itu diberi nama Siti Hardiyanti Astuti. Belakangan orang memanggilnya Mbak Tutut.
Putra kedua lahir dua tahun kemudian. Juga tanpa keberadaan sang ayah. Mayjen Suharto sedang dinas di Ujung Pandang (Makassar) sebagai Panglima Operasi Mandala. mau membebaskan Irian Barat (Papua Barat).
Putra kedua laki-laki yang diberi nama Sigit Harjo Yudanto. Selanjutnya selang dua tahun kemudian lahir lagi anak lelaki ke tiga diberi nama Bambang Tri Hatmojo, berikutnya lahir putri ke 4 Siti Hediati Heriyadi (Titik Suharto ), disusul Hutomo Mandalaputra (Tommy); dan yang paling akhir Tri Hutami Endang Adiningsih.
Jadi total semua enam anak. Tiga putra dan tiga putri. Jadi semua berdelapan menjadi satu keluarga yang terkenal dengan nama keluarga Cendana dengan segala konotasi positif dan negatifnya.**
*) Dari berbagai sumber.
