Perjalanan Umrah ke Tanah Suci
Merpati di Tanah Suci, Antara Mitos dan Fakta Warnai Kemegahan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

Yayan Sofyan
Burung-burung merpati ini mengiasi kawasan Majidil Haram, Nabawi dan Masjid Quba di Tanah Suci Arab Saudi
Laporan YAYAN SOFYAN
MENGIKUTI perjalanan ibadah bersama 45 jemaah umrah yang diberangkatkan agen Travel PT Madinah Iman Wisata (MIW) Bandung dengan program “Umrah Plus Thaif dan Badar 9H” ternyata banyak kenangan religi dan pemandangan terekam jadi catatan manarik.
Perjalanan umrah sejak Kamis (2/7/2026), hingga Sabtu (11/7/2026) di Madinah dan Makkah di bawah bimbingan Ustaz Dede S Hidayat dan Ustaz Muhammad Amin Zaini (Mutowif), selain melihat kemegahan Masjid Nabawi dan Masjidilharam, terdapat pula kenangan yang terekam dan jadi kenangan.
Kenangan tersebut terkait keberadaan burung merpati di Tanah Suci (Mekkah dan Madinah). Pemandangan ini dinilai ikonik. Berdasarkan pantauan, burung-burung ini sangat jinak, berkeliaran bebas di pelataran Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Quba menjadi daya tarik tersendiri bagi jemaah haji dan umrah untuk berinteraksi serta memberikan makan secara langsung.
Menurut sejumlah sumber yang dihimpun, merpati di kawasan ini dikenal sebagai merpati tempat suci, dan menurut sejarah, mereka diyakini sebagai keturunan burung merpati yang bersarang di Gua Tsur saat Nabi Muhammad SAW berhijrah.
Selama melakukan ibadah umrah (dalam keadaan ihram), ternyata dilarang mengganggu, menangkap, atau mengusir burung-burung ini.
Area di sekitar Masjid Nabawi (terutama dekat pintu 310) dan pelataran Masjidil Haram menjadi tempat favorit jemaah untuk memberi makan biji-bijian yang banyak dijual di sekitar lokasi.
Menurut legenda setempat dan cerita para jemaah, burung-burung ini sangat menghormati Ka'bah sehingga tidak pernah terbang melintasi atau berada tepat di atas bangunan Ka'bah.
Jika mengunjungi tanah suci di Arab Saudi, maka akan mudah menemukan burung dara atau merpati berkeliaran. Di antaranya di pelataran Masjidil Haram di Makkah, di depan kawasan Masjid Nabawi di Madinah, di pelataran Masjid Quba di Madinah, dan bahkan di jalanan.
Burung dara tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi umat Islam yang datang dari berbagai negara.
Terpantau pula umat muslim membeli biji-bijian lalu menaburnya di dekat area burung dara berkumpul. Sontak ratusan unggas itu berdatangan menuju biji-bijian tadi untuk dimakan.
Jika pemberi makan membuat kaget, maka burung-burung dara tersebut sontak berterbangan sehingga menimbulkan bunyi kepakasan sayap yang riuh.
Sesaat kemudian burung dara kembali ke bijian tadi, dan itu membuat pemberi makan terhibur. Itulah pemadangan yang setiap hari terlihat di pelataran Masjidil Haram, Nabawi maupun Masjid Kuba.
Sejarah singkat
Lalu bagaimana sejarah singkat ribuan burung dara bisa berkeliaran di Makkah dan Madinah?
Sejumlah pendamping umrah, termasuk Mutowif mengatakan, terdapat satu cerita yang melegenda di Arab Saudi. Yakni burung-burung itu dikisahkan sebagai hasil keturunan dari sepasang merpati atau dara yang dibawa jamaah Indonesia ke Arab.
"Wallahuallam cerita yang beredar di masyarakat itu katanya zaman dulu orang Indonesia yang bawa," kata seorang pendamping umroh di pelataran Masjid Quba.
"Ceritanya wallahuallam orang Indonesia yang yang pergi haji, mereka membawa sepasang merpati. Karena ' kan zaman dulu itu masih bebas, perjalanan transportasi dari satu negara ke negara lain masih bebas. Nah ada jamaah dari Indonesia itu bawa merpati ke sini, katanya untuk jodoh untuk apalah wallahuallam," tambahnya.
Sementara pendamping jemaah umroh lainnya mengatakan, burung merpati atau dara sudah ada sejak zaman Nabi Adam yg berpasang-pasangan sampai turun temurun hingga sekarang.
Adapun Allah memberikan Isyaroh kepada burung merpati agar bertelur di depan mulut Gua Jabal Tsur ketika Rasulullah menghindar dari kejaran kaum Kuffar Makkah. Jadi bukan dibawa oleh jamaah haji indonesia.
"Kalau dibawa oleh jamaah haji, pada saat rasul bersembunyi, Islam belum berkembang sampai ke indonesia, jangankan Syariat Haji, zakat dan puasa saja belum turun wahyunya pada saat itu," ujarnya.
Meski begitu cerita itu belum terkonfirmasi. Satu yang pasti, kata dia, merpati atau burung dara dilarang ditangkap di Arab Saudi.
Hal inilah yang membuat perkembangbiakannya cepat sehingga mudah ditemukan di berbagai pelataran maupun jalanan Makkah dan Madinah.
Larangan membunuh
Perasaan aman dan nyaman dirasakan jamaah haji atau umroh saat berada di Makkah. Ketenangan disana diklaim mendatangkan burung-burung merpati yang berseliweran di kawasan Masjidil Haram.
Dilansir dari Arab News, jamaah haji biasa bersinggungan dengan merpati selama beribadah. Biasanya, jamaah haji memecah kerumunan burung ketika berjalan menuju Masjidil Haram. Kicau merpatiyang semuanya berbulu warna abu-abu saling bersahut-sahutan seolah menyambut para jamaah haji.
Tak terlihat ketakutan dari para merpati yang terbang kesana kemari. Mereka bebas bergerak tanpa takut diganggu jamaah haji. Pemandangan kerumunan merpati disana diklaim menjadi salah satu yang terbaik di dunia.
Ratusan, bahkan ribuan merpati tak perlu takut kelaparan. Jamaah haji dan penduduk bakal selalu menyediakan makanan dan minuman bagi merpati. Mereka berharap mendapat ridha Allah dengan berbagi pada merpati.
Banyak jamaah, termasuk saya mengabadikan foto bersama merpati saat berada di Makkah. Foto-foto ini lalu berseliweran di jagad media sosial.
Tak jarang, foto merpati di Makkah diikutsertakan dalam lomba dan pameran dunia oleh juru foto profesional.
Penduduk Makkah biasa menyebutnya sebagai merpati Al-Hema. Mereka diklaim telah lama hidup beranak pinak di Makkah hingga menghadirkan kisah tersendiri.
Berbagi kasih sayang
Salah seorang penduduk Makkah, Abdul Razzak Muhammad Manan (65) menceritakan bahwa merpati dan jamaah haji saling berbagi kasih sayang. Ia sering berbagi makanan dan minuman pada para merpati.
"Setelah sholat Subuh, saya biasa ke atap rumah untuk memberi merpati makan dan minum. Saya suka melihat mereka," kata Muhammad.
Muhammad merasa seolah menjalani meditasi dengan mendengarkan kicauan burung setiap harinya. Hatinya makin tenang ketika melakukannya.
"Sejak kecil kami tak pernah takut merpati. Kami terbiasa hidup bersama merpati karena orang tua kami mengajarkan memberi makan dan minum merpati di luar rumah, di jalan atau di lapangan," kenang Muhammad.
Ia menyebut sebagian jamaah haji ada yang kaget ketika mengetahui banyaknya merpati di Makkah. Jamaah haji mulanya heran soal bagaimana para merpati hidup berdampingan dengan penduduk.
"Apalagi ada hukum yang melarang membunuh merpati, siapa saja yang membunuh merpati akan di denda," sebut Muhammad.
Terdapat berbagai kisah mengenai asal usul merpati di Makkah. Ada yang mengatakan mereka hewan yang mulanya berhasil diselamatkan nabi Nuh saat banjir besar melanda dunia. Sebagian lain mengatakan merpati disana keturunan dua merpati putih yang hidup di pintu masuk Gua Tsur yang menyelamatkan nabi Muhammad bersama
Abu Bakar ketika proses hijrah ke Madinah. Cerita lain menyebut merpati berasal dari Eropa. Entah kisah mana yang benar. Yang pasti kehadiran mereka seolah makin menghidupkan Makkah. Merpati yang identik dengan simbol kedamaian seperti ingin menggambarkan damainya Masjidil Haram.**
