Kampung Kemukus dan The Smiling General

Foto : Istimewa
Foto resmi Soeharto "The Smiling General".
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
ANDAI masih hidup, mantan Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto pada 8 Juni 2026 lalu berusia 105 tahun, ia lahir pada 8 Juni 1921. Saat menjadi presuden, Soeharto mendapat julukan "The Smiling General" dan julukan itu pula menjadikan judul buku biografi Soeharto yang terbit 1969, yang disusun penulis berkebangsaan Jerman, OG Roeder.
Penulis buku The smiling general inioun juga menutis buku Anak Desa pada 1976. Dalam bukunya OG Roeder melukiskan tentang kampung kecil nan sepi Kemusuk yang terletak 37 kilometer dari Candi Borobudur yang masyhur itu.
Kampung Kemusuk hingga kini tetap merupakan kampung yang sepi. Penduduknya tidak berubah dari dulu sampai sekarang, menanam dan memulai padi. Irama yang tidak berubah selama berabad-abad.
Di kampung itu masih tampak pemandangan indah setiap hari dari dulu hingga kini, menjulai dan melambai-lambai pohon bambu dan kelapa. Di atas pematang yang memisahkan petak-petak sawah tadah hujan tumbuhlah tanaman sayuran seperti kacang panjang, ubi terong, dan tanaman lain.
Pun pada musim kemarau, matahari bersinar garang, sedang di musim hujan air menggelegak menutupi areal persawahan, terkadang membeludak dan banjir.
Sungguh berat bekerja dengan hanya mengandalkan tulang dan balung serta cangkul dan garpu doang Oleh kerena itu satu-satunya yang menjadi sahabat sejati adalah kebo sejak mahluk itu berada di muka bumi
Dahulu kala, siapa nyana di tengah hamparan sawah yang luas di tengah kampung yang sunyi, suatu pagi menjelang siang tanggal 18 Juni 1921 lahir satu sosok bayi laki-laki yang kemudian menjadi pemimpin negeri dan berkuasa lebih dari 30 tahun.
Seorang perempuan yang sebenarnya keturunan bangsawan bernama Raden Roro Sukirah mbrojolkan sosok bayi itu. Suaminya atau bapak bayi itu bernama Kerto atau Karto Sudiro. Dia adalah petani merangkap mantri ulu-ulu atau pengatur air irigasi di persawahan kampung itu.
Lantaran hidup di kampung yang bau lisung, suami istri itu biasa dipanggil orang sekampung, Sukiman dan Suminem. Sakiman saat istrinya berjuang melawan maut sedang berada di pematang sawah mengatur pembagian air ke sawah-sawah milik para petani.
Dan alhamdulillah bayi laki-laki Itu lahir dnegan selamat. Kedua orang tuanya memberi nama Soeharto. Orang yang kemudian kita kenal menjadi pemimpin satu era dari suatu bangsa besar yaitu era Orde Baru selama 32 tahun dengan segala tindak tanduk antara disenangi dan juga dibenci.
**-
KELAHIRAN bayi Soeharto (8 Juni 1921) nyaris bersamaan dengan tumbuhnya gerakan kemerdekan. Tahun 1908 lahir Budi Utomo. Organisasi kenangan itu digagas oleh dr. Wahidin Sudirohusodo. dan beberapa orang pelajar Stovia (Sekolah Dokter Jawa). Lalu Dr Soetomo terpilih sebagai ketua pertama.
Budi Utomo berfokus pafs masalah pengajaran, pendidikan dan kebudayaan, antara lain menuntut pemerintah (kolonial) menyediakan lembaga pendidikan untuk siswa yang tidak mampu.
Tahun 1920 muncul gerakan Kebangkitan Nasional. Tokoh nya selain dr Wahidin Soedirohoesodo dan dr Soetomo, muncul nama Ki Hadjar Dewantara atau Soewardi Soeryaningrat, dr.Cipto Mangoennkoesoemo, dan Douwes Dekker atau Danudirdja Setiabudi.
Tujuannya tiada lain membangkitkan rasa nasionalisme persatuan dan menegakkan identitas kebangsan.
Dalam buku Presiden Indonesia dari masa ke masa yang ditulis Ton Finaldin dan Drs Sali Iskandar diungkap tentang kehidupan Soeharto waktu kecil.
Prihatin, malah boleh dibilang mengalami pahit getir karena himpitan ekonomi. Bahkan pada usia 40 hari bayi yang maish merah itu diserahkan kepada kakeknya. Usia satu tahun kemudian ayah ibunya bercerai, lalu masing-masing punya istri dan suami lain.
Ibu kandung Soeharto, Sukirah menikah lagi dengan Atmosuwiryo dan melahirkan anak yang menjadi adik Soeharto yakni Soedwikatmono. Isteri baru ayahnya tidak disebutkan cuma tercatat, Kerto Suwiryo berganti nama menjadi Atmo Prawiro
Sejak umur 3 tahun Suharto kecil sudah dilibatkan dalam pekerjaan sang ayah. di anataranya sering ikut membajak sawah. Hampir setiap hari ia ikut ke sawah. Ketika sang ayah sibuk menggarap sawah ditemani dua ekor kebo yang setia, Soeharto kecil asik mencari belut (ngurek, bahasa Sunda). Jika dapat satu atau dua ekor iya pulang dengan sukacita. Lalu belut itu dimasak/dipanggang.
Disebutkan Soeharto sangat gemar dengan panggang belut itu. Sampai dewasa, bahkan sesudah jadi presiden. Panggang belut sering dikirim dari Kenusuk .Urusan panggang belut itu smpai sampai diurus pengusaha dan konglomerat Probo Sutejo dan seorang adiknya yang tinggal di Kemusuk.
Soeharto mengalami pindah sekolah bolak balik. Pertama masuk sekolah yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah. Kemudian ketika orang tuanya pindah ke Kemusuk Kidul, Soeharto masuk sekola desa yang merupakan sekolahnya yang kedua. Pada usia 8 tahun dan baru kelas ia diajak bibinya tinggal bersamanya di Wuryantoro.
Di sana ia numpang hidup bersama pamannya yang menjadi mantri (bukan menteri) pertanian. Disana pula Soeharto menamatkan pendidikan dasar (shakel shool).
Dalam buku tadi diungkap keprihatinan Soeharto waktu kecil. Setiap hari hari mengurus kambing yang dibelikan ayah kandungnya. Juga ngangon (menggembala) kebo sawahnya.
Ada cerita lucu tapi bisa jadi mengundang rasa prihatin dan empati.. Begini: Pada suatu pagi dalam usia empat tahun ia diminta mengawal kebo lebih dulu ke sawah, sementara ayahnya akan menyusul kemudian.
Di perjalanan, kebo atau kerbau itu mengambil jalan sendiri. Tidak mau lewat pematang sawah tapi menyusuri parit. Makin lama parit itu makin dalam dan akhirnya kebo itu nyublek dis itu, macet. Maju tak bisa mundur pun sama, mentok.
Karena kehabisan akal, Soeharto kecil itu mewek sesenggukan. Akhirnya sang ayah datang menjemput dengan beberapa orang petani membawa cangkul dan balincong. Dibobollah parit itu untuk membuang airnya, hingga akhirnya kedua kebo itu bisa diputar balik.
Setelah baca tulisan ini siapa bilang Soeharto kecil hidup bahagia dan enak surenak. Hanya takdir dan qidarullah, juga kunfayakun, Allahlah yang membuatnya dia berkuasa atas negara besar ini selama hampir 32 tahun.**