Sultan Mahmud Badaruddin 2 Berebut Timah dengan Inggris dan Belanda

foto

Foto: Wikipedia/istimewa

Sultan Mahmud Madaruddin 2

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

TERLAHiR dengan nama Rd Hasan Pangeran Ratu, tanggal 23 NoVember 1767 ia merupakan generasi ke tujuh kesultanan Darussalam Palembang.

Naik tahta pertama tahun 1804 seminggu setelah ayahnya Sultan Muhammad Badarudin I wafat.
Ia dikenal sebagai ahli strategi perang. Terlibat dalam perang segitiga dengan Inggris dan Belanda.

Kedua negara kolonialis itu sedang berebut pulau Jawa dan Sumatra. Keduanya tertarik masuk Palembang kerena baru diketemukan tambang timah di Pulau Bangka yang potensial. Sultan Mahmud Badaruddin 2 tentu saja keberatan.

Enak elu gak enak di gua. Perang besar terjadi tahun 1819 ketika Sultan Mahmud Badaruddin 2 sedang bertahta kedua kalinya (1818-1821). Perangnya cukup sengiot dan terkenal dengan nama Perang Menteng inti utamanya memperebutkan Loji ( pusat perdagangan) Aur 10.

Tahun 1816 Belanda kembali menguasai Jawa dan Palembang. Tahun 1821 dengan cara licik Belanda menangkap Sultan Mahmud Badaruddin Lalu bersama keluarga dibuang ke Ternate Maluku Utara.

Konon di tempat pembuangan Sultan masih berjuang melawan Belanda. Setelah merdeka namanya menjadi perdebatan sengit di kalangan pemerintah pusat apakah Sultan Mahmud Badariddin layak jadi pahlawan nasional. Ada yang pro dan ada yang kontra,

Pertama, pemberian gelar pahlawan nasional yang baru dimulai tahun 1959 masih berfokus pada peristiwanya zaman revolusi fisik antara 1945+1949., Sementara perjuan Sultan Mahmud Badaruddin 2 (SMB 2) terjadi jauh sebelum kemerdekaan.

Tim peneliti dari kementerian Sosial tidak bisa menemukan data sejarah. Kerena itu mereka tidak bisa merekomendasikan pemberian gelar pahlawan nasional kepada SMB 2.

Padahal dukungan datang dari berbagai pihak. Tahun 1980 Gubernur Sumatra Selatan H. Sahrian Sagiman. Ketua DPRD Sumatra Selatan (Ketuanya Mohd. Umar R dan anggota DPRD (Achmad Kori),
Bahkan juga panglima Kodam Siliwangi waktu itu Brigjen Tri Sutrisno mendukung pemberian gelar, namun tetap saja macet. Kurang apa lagi, coba.

Akhirnya presiden Suharto ngambil jalsa pintas sebagai solusi. Tahun 1984 dikeluarkan Keppres Nomor O63/ KP/1984 yang memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Mahmud Badaruddin 2.

Sultan sendiri wafat tanggal 26 Nopember 1852 di tempat pembuangsn Ternate. Dan kepada almarhum, selain diberi gelar Pahlawan Nasional nama Sultan Mahmud Badaruddin 2 juga diabadikan dalam nsms bandara internasional Palembang yaitu bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2.

Bahkan juga wajahnya sempat menghiasi kembaran uang kertas pecahan Rp 10.000 emisi tahun 2005. Bukan salah bunda mengandung. Jati moal kasilih ku junti, kristal Idak akan ketukar dengan peuyeum Bandung.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
In Memoriam, Mas Pono yang Bersahaja
Operasi Senyap Membujuk Pulang Begawan Ekonomi