Piala Dunia 2026 Sudah Berakhir?!

Foto : Istimewa
Timnas Mesir kontra Argentina yang dinilai penuh kontroversi.
Catatan IMAM WAHYUDI (iW)*
PENTAS Piala Dunia 2026, kadung kehilangan pesona. Itu pula narasi penulis, sedari awal. Cacat bawaan turnamen yang sudah berkabut.
Tak semata suasana perang di kawasan Teluk yang melibatkan Amerika Serikat. Tak ada kaitannya. Tapi, justru negara Paman Sam sebagai tuanrumah tak sepadan tradisi sepakbola se-jagat itu.
Faktanya, campur aduk di mata Donald Trump. Tak setara jabatan presiden dan panglima perang melawan Iran. Haus darah yang tak seharusnya dilakukan di arena sepakbola. Reputasi dan wibawa tuanrumah pun runtuh seketika.
Intervensi yang mengubur akal sehat. Meminta Folarin Balogun, si penyerang utama AS -- dicabut sanksi kartu merah, saat lawan Bosnia Herzegowina. Celakanya boss FIFA, Gianni Infantino -- mengangguk. Tak kuasa menolak tekanan Trump. Pun tak peduli melanggar aturan federasi dunia dan Piala Dunia 2026, yang mestinya tertutup dari berbagai upaya intervensi.
Blunder Trump tak membuahkan hasil apa pun, kecuali distorsi reputasi. Toh, tak menolong hasil positif lawan Belgia. Malah keok mencolok 1-4. Tuanrumah AS pun tersingkir. Kian babak belur.
**
Wajah Piala Dunia 2026 yang kadung bopeng, pun berlanjut. Timnas Mesir harus tersingkir. Skenario wasit asal Prancis, Francois Litxer dipertontonkan di arena laga antarkeduanya. Kekalahan yang diyakini tak perlu terjadi. Dipaksa menyerah 2-3 dari juara bertahan, Argentina.
Timnas Mesir dengan andalan striker M. Salah lebih dulu unggul 2-0, sebelum kejahatan sepakbola menghajarnya. Bahkan bisa tiga gol, andai satu gol terakhir tak dianulir wasit. Akhirnya, kalah satu gol di menit akhir, setelah tiga gol beruntun untuk Argentina. Lebih condong, agar Argentina tetap melaju ke babak perempatfinal. Merugikan M. Salah dkk yang sangat mungkin dinilai mengurangi magnet marketing Piala Dunia 2026 itu.
Wasit bagai dirigen pesanan, yang memimpin orkestra sumbang. Tak lagi memaksimalkan monitor VAR, bila tak sesuai misinya. VAR yang juga tak identik slogan: VAR is Fair. Piala Dunia yang kehilangan greget, akibat pendekatan pragmatis. Diawali kebijakan yang menurunkan kualitas dengan semata menambah kuantitas jumlah negara peserta.
Dari semula tradisi 32 negara, menjadi 48 timnas peserta. Terindikasi "jual beli" slot wakil zona. Akibatnya jadWal pertandingan terseok dan tercecer, tidak segera mengerucut pada peningkatan prestasi tim partisipan. Turnamen strata utama dunia yang mendayu-dayu. Mirip karnaval, asal terpenuhi giliran naik pentas.
Semua kebijakan (pengaturan) semata soal uang. Terindikasi kuat, demi Leonel Messi untuk berlanjut tampil. Wasit yang tak peduli akibat sejarah kelam Piala Dunia. Timnas Mesir seakan tak layak naik tangga. Apa pun geram pelatih Mesir, Hossam Hassan dan protes sang kapten, M. Salah. Bahwa timnas zona Afrika yang sedang menanjak prestasi itu harus dihentikan.
Timnas Mesir lebih pantas lolos. Tampil lebih baik dibanding Argentina. Kini sesederhana itu sepakbola dunia. Hasil pertandingan Argentina vs Mesir yang penuh noda, sejatinya Piala Dunia 2026 sudah berakhir. Toh, timnas Mesir akan pulang dengan kepala tegak. Kehormatan pun mengalir dari berbagai penjuru sepakbola dunia. Sungguh.**
*) jurnalis senior, anggota PWI Pusat.