Kampuang Nan Jauh di Mato

Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
"ADIK" saya Al ustadz H. Engkos Kosasih. M.Pd., tadi mengirim kabar, katanya dia sedang berada di kampung halamannya, Mandala Kecamatan Cikalong. Tasikmalya Selatan. Lokasinya tepat berada di pinggir pantai selatan, bibir Lautan Hindia.
Saya jadi ingat lembur tempat kecil hingga remaja. Bukan di pinggir Laut. Namanya Kampung Sindangreret, dulu termausk Desa Karangnunggal. Jarak ke pantai (Cipatujah) sekitar 22 km. Lebih dekat ke Pamijahan. Di sana ada makam Syech Abdul Muhyi dan goa destinasi wisata religi yang tiap hari tumpah ruah wisatawan berkunjung ke sana.
Saya juga teringat lagu Minangkabau yang diciptakan dan dipopulerkan penyanyi Melayu Oslan Husein tahun 1931 (Wallahu alam). Liriknya menarik sekali:
Kampuang nan jauh di mato
Gunuang sansai bakuliliang
Takana jo kawan-kawan nan lamo
Sangkek den basuliang-suliang
Panduduknya nan elok
Nan suko bagotong-royong
Sakik sanang samo-samo diraso
Den takana jo kampuang
Takana jo kampuang
Induak ayah adiak sadonyo
Raso maimbau-imbau den pulang
Den takana jo kampuang
Arti Lagu Kampuang Nan Jauh di Mato
Kampung yang jauh di mata
Dikelilingi banyak gunung
Teringat kawan-kawan lama
Sewaktu bermain suling
Penduduknya yang baik
Yang suka bergotong-royong
Susah dan senang sama sama dirasakan
Ku teringat dengan kampung
Teringat dengan kampung
Ibu, Ayah, adik dan semuanya
Serasa memanggil ku pulang
Ku teringat dengan kampung
Setelah tahu artinya lagu Sumatra Barat itu, saya juga jadi ingat kawan waktu kecil di kampung halaman. Ingat Ian Berlian, Dana Sasmita. Ibin Suibin, Holil Oman Rohman. Dengan mereka setiap hari pergi sekolah selalu pergi bersama=sama, Ngaleut ngeungkeuy kaya urang Baduy mau seba yaitu mengirim hasil pertanian kepada Olot (Bupati Lebak).
Kami tidak suka lewat jalan besar (jalan koral bukan aspal). Lami lebih suka melawati jalan tikus ke Kompeang (pusat penggalian batu Mangan atau Mn, unsur kimia dengan nomor atom 25.
Ada cara unik yang biasanya kami lakukan, Sili akod atau gantian saling gendong setiap seratus meter. Dilakukan sambil ketawa-ketawa senang, tak terasa capa, hingga sampai di seberang sekolah SR Katangnunggal yang berlokasi di Batucai. Dan kami bubar lalu berlarian masuk kelas.
Di lembur saat ino hampir sudah tidak ada siapa siapa. Emak (Hj. Enah Sukaenah) dan bapak (H. Ahmad Asikin) sudah tiada. Dua kakak dan empat adik sudah wafat duluan. Yang tinggal dua keponakan. Salah satunya, Tedy Ernawan. S.H., menjabat ketua DKM meneruskan tapak lacak bapak yang jadi ketua DKM seumur hidup.
Kampuang nan jauh dimato. Sangkek den basuliang-suliang.
Alhamdulillah Kamis hari ini 9 Juli 2026 saya berulang tahun dirayakan dengan makan nasi liwet peda dan tumis leunca. Cucu saya Agneiza Putri Pawarti yang sedang bertugas sebagai bidan di kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmslya mengajak tetangga makan basamo.
Kampuang nan jauh di mato.**