Dari KLB ke KLB Pula, Erick Thohir Harus Mundur!

Foto: Imam Wahyudi
Imam Wahyudi (iW) wartawan senior Bandung.
Catatan IMAM WAHYUDI (iW)
(Wartawan Senior)
ERICK Thohir (ET) harus mundur dari Ketua Umum (Ketum) PSSI. Ambisi yang terbukti tanpa dibarengi prestasi. Saatnya tiba untuk menepi.
PSSI di tangan Erick tak ubahnya cuma batu loncatan. Berbalut kepentingan politik yang akhirnya mengandaskan kejaran dan harapan. Bak fatamorgana.
Mundur jabatan tanpa perlu menunggu jatuh korban yang pernah menggusur Iwan Bule, juga selaku Ketum PSSI. Penulis mendesak copot jabatan, menyusul Tragedi Kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan, Malang, 01 Oktober 2022 yang menelan 135 korban jiwa. Kongres Luar Biasa (KLB) digelar 16 Februari 2023, Erick Tohir jadi Ketum PSSI.
Produk KLB, Erick harus menghadapi rambu KLB juga. Tak harus menunggu berakhirnya masa jabatan pada 2027. Cukuplah sampai di sini. Lebih bijak, Erick menyatakan undur diri dan menyilakan gelaran KLB. Bila tak sesegera, maka para pemangku kepentingan di PSSI wajib mendorong agenda darurat itu.
Bukan cuma konsekuensi kegagalan timnas Indonesia di kancah kualifikasi Piala Dunia 2026. Bukan pula soal pelatih Patrick Kluivert atau Shin Tae-yong yang sarat perdebatan. Tapi soal kepatutan yang menuai conflict of interest dalam jabatan di pemerintahan.
Sebagai Menteri BUMN, Erick nyaris tanpa jeda mengucurkan dana atasnama peningkatan prestasi PSSI yang diketuainya sendiri. Padahal dalam waktu bersamaan, sejumlah perusahaan BUMN dilaporkan merugi. Bahkan terjadi perampokan alias korupsi skala super jumbo bernilai ratusan triliun. Alih-alih mundur secara sukarela, hingga akhirnya tergusur dari kursi pundi tanpa batas.
Erick merenda asa menjaring pemain naturalisasi. Berlangsung lancarjaya dalam senyap. Cukup mencolek para anggota komisi-XI DPR RI. Duit mengalir deras di antara bulir keringat rakyat yang tak kunjung sejahtera.
Tangan kanannya di KemenBUMN, Arya Sinulingga ditarik sebagai sayap di PSSI. Bahkan, entah seperti apa diskusi dan kalkulasi -- Zaenudin Amali rela meninggalkan pos menpora yang lebih prestisius -- "hanya" untuk jabatan Waketum PSSI.
Pada spasi itu, ditengarai adanya hidden agenda. Tak melulu peningkatan prestasi menuju pentas Piala Dunia 2026. Sekali dayung aji mumpung, ada kalkulasi yang setara spekulasi. Andai mulus dan berhasil menabuh genderang prestasi, minimal lingkup Asia -- bukan tak mungkin berlaku bargaining politik agenda pilpres 2024. Masa itu, Erick tampak getol bermanuver politik.
Kini, jabatan Menteri BUMN digusur. Digeser ke pos baru Menpora. Selintas relevan dengan jabatannya sebagai Ketum PSSI. Justru di sinilah puncak konflik kepentingan.
Konflik kepentingan itu tak harus berlanjut, tersekat tabir gagal Pildun 2026. Tak cukup meminta maaf. Perlu tanggungjawab lebih jauh dan ksatria. Erick mundur dari jabatan Ketum PSSI. KLB pun bergulir.**