Max Havelaar, Ambtenar Melihat dan Mendengar

Foto : Istimewa
Eduard Douwes Dekker alias Multatuli dan karyanya, Max Havelaar. ROMAN Max Havelaar terbit kali pertama pada 15 Mei 1860 di Amsterdam.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BUKU Max Havelaar Itu sempat menyentak keras pusat pemerintahan sang kolonial Belanda di Nederland, pascaterbit tahun 1860
Penulisnya Ernest Francois Eduard Douwes Dekker (DD), dia adalah seorang keturunan Belanda yang humanis, yang punya rasa kemanusiaan. Dia juga sosok bule yang simpatik pada penderitaan rakyat terjajah di Hindia Belanda akibat politik tanam paksa yang dikomandani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johanes Van de Bosch mulai tahun 1830.
Max Havelaar sebuah novel yang disusun oleh Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli. Fakta dan data Itu diperoleh ketika DD menjabat Asisten Residen Banten tahun 1856.
DD juga mengutip penglihatan dan pendengaran seorang ambtenaar atau pegawai negeri di Kabupaten Lebak. Ambtenaar Itu bernama Max Havelaar.
Keduanya Douwes Dekker dan Max Havellar secara bersama-sama atau sendiri-sendiri melihat dan mendengar penderitaan rakyat Banten yang menderita dan sengsara gara-gara dipaksa tanam komoditas untuk keperluan ekspor ke Eropa gara gara Belanda terancam bangkrut akibat perang Diponegoro ( 1825-1830).
Max Havelaar sangat tidak setuju dan menentang kekejaman yang mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan para petani di Banten dan seluruh Indonesia. Karena sikap itulah Max Havelaar dipecat sebagai pegawai negeri di Kabupaten Lebak.
Seolanjutnya Max Havellar bertemu dan bersahabat dengan Eduard Douwes Dekker yang tehun 1856 diangkat menjadi Aden (Asisten Residen) Banten berdasarkan data dsn fakta yang disampaikan Max, dan apa yang dia dengar dan lihat sendiri. DD menyusun novel dengan nama penulis Multatuli.
Karena sikap kritisnya sebagai wartawan de Locomotief. DD resign dari jabatan Aden setelah hanya beberapa bulan bekerja lalu pergi ke Belgia Selatan untuk menyelesaikan novelnya. Penyusunan buku Itu hanya 1 bulan resmi terbit tahun 1860 di Nederland dengan judul Max Havelaar.
Buku yang awalnya terbit dalem bahasa Belanda, tehun 1972 diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh HB Yasin dan beredar di Nusantara. Buku yang menggemparkan itu mesjid salah satu sebab dihapusnya politik tanam paksa oleh pemerintah Belanda, dan menjadi cikal bakal lahirnya gerakan kemerdekaan Indonesia., yang berujung pada proklamasi 17 Agustus 1945.
Di negeri Belanda buku Itu menjadi pelajaran wajib bagi semua jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Bahkan di Kabupaten Lebak dibangun Museum Multatuli.
Saya pikir ada baiknya jika sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dikaitkan dengan perjuangan DD dan lainnya empati dan memiliki humanisme terhadap penderitaan rakyat Indonesia.**