Kang Holil Trauma Galungung Meletus

Foto : Istimewa
Pemandagan malam hari saat Gunung Galunggung meletus.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
INI pengalaman saya tahun bulan Oktober 1982 atau enam bulan setelah Gunung Galunggung meletus. Letusan pertama 5 April 1982. Hari itu saya sedang berjalan-jalan menuju pusat pengungsian yang sedang dipusatkan di Desa Linggarjati, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.
Karena sedikit lelah saya beristirahat di Kampung Pasir Datar, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu.
Tiba-tiba muncul seseorang mengaku bernama Holil katanya penduduk kampung tempoat saya beristiraha.
Holil bercerita tentang gelegar gunung waktu pertama meletus. Segala yang ada rumah dan isinya berserakan, kambing dan hewan peliharaan lainnya berlarian kemana-mana,
Lalu seminggu kemudian aliran lahar dingin yang mencair bersama-sama dengan derasnya hujan yang turun pada sore membuat keadaan kampung makin mencekam. Masih kata Holil, lahan bekas rumahnyai berubah jadi bukit abu.
Saat bercerita, pria berusia 50 tahun tampak kulitnya kecokelatan. Saat itu ada kondisi yang mengherankan saya, mengapa kulit Holil dan anggota keluarganya kecokelatan, bukan sawo matang sebagaimana lazimnya urang Jawa Barat.
Yang mengherankan lainnya saat Holil bercerita lainnya tentang berbagai musibah yang mereka alami. Holil mengaku terkilirm dari tumitnya keluar tulang engsel. Tak lama kemudian ia juga menyebut anaknyapun kena musibah digigit anjing
Ada yang heran bagi Holil dalam ceritanya, di kampung ini banyak ratusan anak seusia Romdon (nama anaknya), tapi mengapa yang digigit cuma anaknya?. Musibah berlanjt, istrinya juga dipatil lele ketika hendak menggoreng ikan tersebut.
Musibah terus berlanjut, kali ini becak mertuanya menubruk (bukan ditubruk) mobil yang sedang parkir ketika sang mertua pulang solat tarawih. Lengkap sudah penderitaan Holil dan keluarga.
"Ya Tuhan apa salah dan dosaku sehingga harus menanggung derita sepedih ini, bukankah ada ratusan gunung di negeri Ini kenapa yang di pelupuk mataku yang kau letuskan," begitu kira-kira kalimat Holil saat berdoa, tentu saja dengan bahasa Sunda.
Dengan rasa empati yang tinggi saya mencoba menenangkan dia sambil mengelus-elus punggungnya sampai dia terkulai dalam pelukanku, terdengar suara tangisanya yang tersedu-sedu.
Sindrom Gslunggung Holil, gumamku sambil meneruskan perjalanan menuju barek pengungsi yang sedang dipusatkan di desa Sinagar.
Letusan Gunung Galunggung itu memang sangat fenomenal. Selama 6 bulan ahmpir setiap malam meluncurkan bara api sekitar 50 meter dari atas puncak gunung. Kembang api alam itu menjadi tontonan masyarakat yang sedang jalan-jalan malam antara kota Tasikmalaya sampai Malangbong, Kabuoaten Garut.
Tapi jangan lupa banyak hikmah dan maslahat yang dipetik dari meletusnya Gunung Galungung ini. Banyak orang selain derita dan trauma seperti halnya dialami Mang Holil dan keluarga.**