Perjalanan Hidup Presiden Pertama RI (1)
Sukarno Itu Bima Alias Werkudara

Foto : Istimewa
Soekarno saat masih mahasuswa di THS Bandung.
Catatan DEDI ASIKIN
(Reporter Senior)
LAHIR di Lawang Saketeng Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901. Ayahnya Soekemi Sosrodiharjo adalah seorang guru dengan gaji bulanan 27,5 Gulden. Sebagai pebaijani gubernemen (sekarang PNS/ASN) Soekemi yang beluga dari Blitar dimutasi ke Bali.
Di Pulau Dewata, Soekemi bertemu dan jatuh cinta dengan seorang gadis cantik bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Nasib mempersatukan mereka dalam.sebuah mahligai pernikan. Pertunjukannya fenomenal dan bahkan kontroversial.
Sukemi itu Islam abangan sedangkan Ida Ayu seorang ningrat Hindu berkasta Brahmana. Perkaniyan beda agama Ini sampai segarah masih kontroversial jika dilihat dari UU no 1 tahun 1974 tentang perkaniyaan bangakan PR nikahan beda agama dan boleh kilakkan antar agama. Namun UU Perkawinan belum ada waktunya.
Jadi apa yang dilakukan pada kedua makhluk ini adalah pelanggaran budaya dan adat istiadat. Apa boleh buat, itulah yang terjadi. Bahkan, kemudian mereka memiliki dua putra yang diberi nama Sekarmini dan Kusno (dinamai berdasarkan Sukarno).
Soekarno atau Kusno kecil masuk pendidikan dasar Volkskool (Sekolah Rakyat) dilanjut ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School), dua jenis sekolah dasar untuk penukang pribumi (bumiputera) yang diberikan kepadanya oleh penjajah Belanda saat itu.
Sekolah saya adalah Sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Kemudian, saya bersekolah di HBS (Higher Burger School), sebuah sekolah menengah pertama, lalu pergi ke Surabaya dan menjadi mahasiswa. Seorang tokoh politik dan pejuang bernama Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto) tinggal di rumah saya. Saat itulah saya mengenal dunia politik dan perjuangan melawan berbagai macam orang.
Bung Karno mengakui HOS Tjokroaminoto merupakan sosok legendaris yang sangat dekat dengan Kagumi. Sebagai pendiri Serikat Islam, Islam sangat kuat. Sebagai tokoh politik, Pak Tjokro memiliki banyak tokoh politik lainnya, antara lain KH Agus Salim, Muso, Alamin. Darsono Suryopranoto dll
Mereka semua masih sangat muda dan sangat muda Islam dan banyak berdiskusi dengan pak HOS Tjokroaminoo. Di dalamnya, Kusno sering menyimak bahkan ikut berdiskusi dengan Menika.
Nikmati pertunjukan wayang.
Sejak kecil Kusno sangat meenangi seni wayang kulit. Ia sering mesikta waktu untuk bisa menonong cahaya wayang kulit hingga natala suntuk.
Tokoh wayang yang dikaguminya adalah Bima yang dikenal juga dengan Nama Werkudara. Dia adalah satria dari Pandawa, ayah dari Gatotkaca dan istrinya bernama Dewi Kunti.
Kakek Kusni yakni Raden Sosrodikromo adalah seorang ahli kebatinan.dan pengamal ilmu gabib dan di kampung dalam komunitas Jawa biasa diketun dukun.
Suatu pagi sang kakek bilang pada cuunya.
“Kusno kamu itu mirip kucing canframawat,” kata kakek.
Namun Kusno pun membantah, "Bukan Mbah bilang bukan kucing. Belilah Bima.".
Di sekolah seinara Kusno tidak begitu rajin belajar. Saya lebih tertarik dengan cerita pertempuran Bharatayudha, perang besar antara Kurawa dan Pandawa.
Dalam filsafat Jawa, ada kepercayaan bahwa seseorang memiliki dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan, katanya. Mereka bahkan sering menjadi Santapan Batara Kala.
Untuk menghilangkan serangga tersebut harus ditebus dengan pijat dan pertunjukan wayang kulit serta dimandikan dengan air bunga. Terapi itu sering kali terasa manjur menurut perkayaan rakyat Jawa dulu. Kusno sering ditanya.
Kusnopun melanjutkan pendidikannya di THS Bandung, THS atau Technische Hoogeschoo, yang merupakan perguruan tinggi teknik pertama dan lembaga pendidikan tinggi pertama di Hindia Belanda yang dibuka pada tanggal 3 Juli 1920.
THS merupakan bagian dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Disinilah Kusno melanjutkan pendidikannya. Meski tidak begitu rajin belajar toh Kusno bisa lalus pada tahun 1926.ITB, dan bergelar insinyur / arsitek yang saat itu sangat teluang untuk proyek proyek pembangunan infrastruktur.
Ketika insinyur yang menerima ijazah itu diperkenalkan kepada ibunya, wanita yang mulai memikirkan tentangnya itu menangis, lalu mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah SWT.
Begitulah kehidupan Sukarni sejak lahir hingga menyelesaikan pendidikannya di Bandung. (bersambung) **