Peliknya Menentukan Pahlawan Nasional, dari Bung Tomo Hingga Mohammad Toha

Foto : Istimewa
Bung Tomo baru tagun 2008 menjadi Pahlawan Nasional.
Alasannya, Bung Tomo berjuang secara lokal.
Surat Itu membuat istri Bung Tomo yakni Ny.Sulistina Sutomo marah. Dengan emosi amplop coklat yang berisi surat itu disobeknya.
Kepada wartawan dengan terisak-isak, ibu Sulistina memmpetanyakan mengapa Bung Tomo disebut berjuang secara lokal. Padahal sejarah mencatat bahwa para laskar rakyat itu datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada dari Aceh Sulawesi. Jawa Timur Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Dan dengan senjata bumbu runcing para laskar berhasil memgalahkan tentara sekutu yang bersenjata modern.
Perdebatan antara pemerintah dan keluarga Bung Tomo itu belum berahir hingga Surato lengser kepabron alias menuatakan mujndur sebagai Presidena RI. Dan usulan Bung Tomo menjadi pahlawan nasionalpun tak juga keluar hingga ganti presiden dari BJ Habibie, Gus Dur, hingga Megawati Sukarnoputri, usulan tak terdengar lagu.
Tiba-tiba pada tahun 2008 saat presidennya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), barulah lahir Keppres untuk Bung Tomo sebagai pahlawan nasional, ditandatangani SBY. Dan sejak saat itulah keluarga besar Bung Tomo baru plong hatinya.
Selain Bung Tomo, satu lagi yang saya temui di literasi yang saya temukan adalah pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sultan Mahmud Badaruddin 2, juga mengalami kesulitan. Namun akhirnya kelar juga, Sultan Mahmud Badaruddin asal Pelembang ini baru bergelar pahlawan nasional 1982 saat presdennya Suharto.
Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin 2 berlangsung jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Sultan ini berjuang melawan Belanda dan Inggris antara tahun 1803-1821. Beliau dua kali naik tahta sultan Darusalam Palembang (1803-1813 ) dan 1818-1821. Kemudian meneruskan perjuangannya di Ternate tempat beliau dibuang.
Jadi kemungjkinan tim pencari data dari kementerian Sosial kehilangan data sejarah sehingga pemberian untyuk Sultan Mahmud Badaruddin-2 terlambat.
Memang upaya yang berangkat dari amanat bung Karno itu dalam praktiknya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak kendala terutama fakta sejarah yang dihadapi. Mungkin sekali bsnyak orang yang berjasa dan berjuang, tapi fakta sejarahmya sulit dilacak hingga yang terjadi hanya diakui oleh masyarakat lokal saja.
Salah satu contohnya, Mohammad Toha yang oleh warga Bandung khususnya dan warga Jawa Barat ;pada umumnya Mohammad Toha adalah pahlawan Bandung Selatan. ia telah meledakan gudang mesiu hingga gugur. Namun hingga kini, gelar pahlawan nasional untuknya tak juga kelar. Bisa saja fakta formil dianggap belum mendukung.
Namun bagi warga Bandung (kabupaten./kota), Mohammad Toha pahlawan nasional atau bukan tak pernah jadi pikiran lagi, biarlah pusat tidak mengakui tapi bagi mereka Mohammad Toha tetap Pahlawan Bandung Selatan, titik!.**
