Late is Better Than Never, Semula Jembatan Ampera Namanya Bung Karno

Foto : Istimewa
Jembatan Ampera Palembang masih tetap kokoh melintang di atas Sungai Musi hingga kini.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
JEMBATAN yang melintasi Sungai Musi di Palembang Sumatra Selatan itu awalnya (1965) diberi nsma jmbatan bung Karno. Nama itu sepadan dengan jasanya mendapatkan pampasan perang dari Perdana Menteri Jepang Hayato Ikeda.
Lewat cara diplomatik Bung Karno mengancam akan membawa perkara ke Mahkamah Internasional dengan tuduhan Jepang selama menjajah Indonesia telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
Rupanya sang Saudara Tua itu ngeper juga sehingga akhirnya menyanggupi mebiayai pembangunan jembatan terpanjang di Asia tenggara itu
Tadinya jembatan itu bisa dibuka tutup. Ada dua pilar beton pada kedua sisinya, baik yang arah ke Plaju maupun ke kota Palembang. Tentang kedua pilar itu panjangnya 145 meter yang bisa berdiri secara elektronik padahal berat kedua pilar itu hampir 900 ton.
Maksudnya pilar beton itu dibangun dengan tujuan ketika ada kapal besar yang mengangkut batu bara atau minyak bisa lewat dengan aman, maka pilar akan dibuka.
Tapi tahun 1974 kedua pilar itu mendadak sontak macet, tidak mau berdiri lagi. Teknisi elektronik setempat tidak mengutak stiknya. Pilar itu akhirnya bagai polisi tidur, melintang di tengah jalan.
Sadar, selain tidak bisa secara teknis juga tidak punya wewenang, maka tahun itu juga dilaporkan kerusakan itu ke pusat, karena memang pemerintah pusat yang punya gawe dan wewenang, saat itu adalah Direktur Jendral Bina Marga.
Tetapi respon pak Dirjen sangat lemot. Tapi tidak perlu dibanding-bandingke dengan Presiden Prabowo. Lengkap pak Dirjen Bina baru terdengar tahun 1978, empat tahun setelah menerima laporan. Pasific konsultan internasional diminta bantuan.
Langkah Dirjen agraria yang lambat itu ditanggapi orang Palembang sebagai prinsip alon alon waton kelakon. Ibarat solat ashar pukul setengah enam. Late is better than never, lebih baik daripada tidak.
Pasifik Consultant International pun segera begerak.
Mereka langsung ke Palembang menyelami Sungai Musi sampai kedalaman 22 meter Dalem laporan kepada pemberi order dalam bahsa Inggeris setebal 125 halaman konon ada disebutkan mereka menemui 6.000 titik karat di ke-dua pilar beton Itu.
Tapi Dirjen Bina Marga tak tampak tersentak membaca laporan itu. Alasannya sekarang sangat jarang kapal besar yang lewat. Selain itu tidak berdirinya pilar berarti lalu lintas lancar
Untuk diketahui, sekali pilar itu dibuka maka memakan waktu antara setengah sampai satu jam. Dan itu akan lalu lintas macet karena jalan antara Plaju Palembang itu sangat padat, apalagi sekarang sangat padat sekali.
Kalau Bung Karno (wafat 1970) masih ada tentu ia akan bilang bahwa karat itu diibaratkan subversif yang menghambat jalannya revolusi. Tapi kondisi itu dimanfaatkan pak Ditejn untuk terus berdalih menutupi kelambatan dan kegemoyannya.**