Merdeka Ala Mang Becak

foto

Dedi Asikin

Dedi Asikin

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

SAAT ini sudah masuk bulan kemerdekaan. Di kampung - kampung sejak tanggal 1 Agustus semua rumah yang letaknya di pinggir jalan sudah mulai memasang bendera merah putih, bahkan dilengkapi umbul-umbul, gapura dan juga lampu kerlap kerlip untuk waktu sebulan penuh.

Cucu saya si Gia sangat bangga jadi ketua Panitia Tingkat RW dan RT. Mereka sudah menyusun programnya, di antaranya 80% kegiatan pertandingan kejuaraan antar-RT, dan persiapan puncak acara mulai makan kerupuk sampai panjat pinang juga tarik tambang. Biayanya, biasa saja minta sumbangan dari warga.

Saya punya langganan becak. Namanya Mang Atang, usianya sudah 78, tapi masih menarik becak walau dengan napas ngos-ngosan. Kemarin saya minta dia mengantar keliling kota. Dia cerita belum punya uang untuk membeli bendera Rp 30.000, Makanya saya kasih dia dan suruh beli, keburu dimarahi pak RT.

Dia cuma tersenyum kecut ketika saya suruh lapor ke Pak Prabowo, presiden kita. Kata Mang Atang, sepertinya Pak Prabowo tidak berkenan masih ada tukang becak, supir angkot, atau sopir ojek yang berusia lebih dari 60 tahun masih bekerja.

Mang Atang cuma tersenyum kecut, "Wah, pimanaeun teuing. Wadul eta mah pa haji,".

Sambil bergumam dia bilang, "Pak Prabowo mah tukang wadul. Kenyataan saya juga masih menemukan supir angkot yang masih jalan padahal usianya sudah 81 tahun,".

Mang Atang menjawab pertanyaan saya, apakah kita sudah merdeka, "Ya merdekalah pak
Sekarang ada BLT, bansos sembako dan beras," kata Mang Atang.

Itulah makna merdeka bagi seorang tukang becak. Sederhana. Dapat BLT, Bansos dan sembako, bukan jadi pejabat negara.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Munasabah Jika Mendapat Julukan Tasikmalaya Islami
Persoalan Sampah, Elok di Atas Kertas Lumpuh di Lapangan
Barikade-Barikade Haji
Rahasia-Rahasia Ali Murtopo
Cari Muka Cari Aman