Persoalan Sampah, Elok di Atas Kertas Lumpuh di Lapangan

Foto: Iwan N.Irawan
Iwan N.Irawan
Oleh IWAN N. IRAWAN
(Wartawan Senior)
PERSOALAN sampah di Bandung Raya memang tidak pernah betul-betul usai jika kita hanya sibuk membereskan urusan di hilir. Berangkat dari kesadaran itu, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat memutuskan mengambil langkah terobosan, menerjunkan tak kurang dari 25.000 mahasiswa mulai Oktober ini untuk mendampingi warga memilah sampah dari dapur rumah tangga.
Program ini dirancang serius. Keterlibatan mahasiswa bahkan dikonversikan hingga 10 SKS, lengkap dengan modul dan perangkat digital. Harapannya ideal, jika gerakan edukasi dan pemilahan dari hulu ini berhasil menekan volume limbah harian secara signifikan, daya tampung Tempat Pembungan Akhir (TPA) Sarimukti bisa dijaga agar tetap bernapas lega sampai akhir 2029 hingga proyek TPPAS Legok Nangka siap beroperasi pada 2030. Sebuah gagasan yang tampak elok di atas kertas dan patut diapresiasi sebagai panggung pengabdian akademis.
Namun, di sinilah letak persoalan utamanya. Edukasi masif dan gairah memilah di tingkat hulu akan berujung sia-sia, bahkan ironis jika tidak diimbangi dengan kesiapan ekosistem pengangkutannya.
Mengajari warga cara memilah sampah tentu penting, tetapi memastikan sampah yang sudah dipilah itu dijemput tepat waktu dan armada pengangkutnya memadai adalah kunci yang jauh lebih mendesak.
Lihat saja realita di lapangan. Di kawasan Kompleks Perumahan Rancaekek Kencana, misalnya, sebagian warga sebenarnya sudah memiliki kesadaran dan berinisiatif memilah sampah secara mandiri.
Bahkan, Ketua RW Blok 15, H. Eri Nalendra, sudah melangkah lebih jauh dengan mengolah sampah organik menjadi pupuk. Meski demikian, Eri mengaku sama sekali belum tersentuh sosialisasi maupun informasi resmi mengenai program edukasi dari Pemprov Jabar tersebut.
Persoalan makin krusial ketika semangat mandiri warga justru berbenturan dengan layanan dasar pengangkutan sampah. Di lingkungan pemukiman ini, sampah baru dijemput sepuluh hari sekali.
Bahkan bisa lebih lama jika armada truk mogok atau rusak. Akibatnya mudah ditebak, jika disimpan di dalam rumah, tikus merajalela; jika ditaruh di gang atau pinggir jalan, bau menyengat merebak dan mengundang potensi penyakit.
Kondisi di Rancaekek Kencana adalah cermin retak dari idealisme pengelolaan sampah kita. Semangat warga memilah, bahkan jika didampingi puluhan ribu mahasiswa sekalipun, pasti akan membentur tembok tebal jika rantai pasok pengangkutannya tidak beres.
Jangan sampai kehadiran 25 ribu mahasiswa di tengah pemukiman justru melahirkan kebingungan baru bagi warga. Sampah sudah rapi dipilah, tetapi akhirnya membusuk menumpuk di depan rumah, atau malah diangkut oleh truk yang mencampur adukkan kembali hasilnya.
Edukasi dan konversi SKS tentu bernilai positif. Namun, ketepatan jadwal penjemputan, penambahan armada truk, serta kepastian alur pemrosesan adalah benteng pertahanan yang sebenarnya.
Tanpa pembenahan armada angkut yang nyata, gerakan kolosal puluhan ribu mahasiswa ini dikhawatirkan hanya akan berakhir sebagai parade seremonial yang manis di media, tetapi tetap meninggalkan bau menyengat di depan pintu rumah warga.**