Drama Rengasdengklok, Penculikan Atau Pengamanan?

Foto : Istimewa
Bung Karno tengah membacakanb Prok;amasi Kemerdekaan Republik Indinesia di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta 17 Agustus 1945.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
HARI-hari menjelang proklamasi kemerdekaan, terdapat perbedaaan paham antara para pejuang kelompok senior (Sukarno Hatta) dengan kelompok muda (Chairul Saleh, Sutan Syahrir, Adam Malik dll). Perbedaannya bukan soal merdeka, tapi soal momentum proklamasi.
Kelompok muda ingin proklamasi segera dilakukan secepatnya. Apalagi Sutan Syahrir, dia sudah mendengar siaran radio Australia bahwa tanggal 2 dan 8: Agustus Hiroshima dan Nagasaki dua kota industri besar di Jepang sudah luluh lantak dihantam bom (percobaan) atom Amerika Serikat.
Sementara Bung Karno dan Bung Hatta masih tampak adem, alon-alon waton kelakon, mereka menunggu kepastian, dan masih akan membicarakan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang ia ketuai.
Selain itu juga Sikarno Hatta maish menunggu janji Jepang yang katanya akan menghadiahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.
Alih-alih mengikuti kehendak para pemuda, Sukarno Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat malah berangkat ke Delat Vietnam Utara. Mereka menemui Panglima Angkatan Perang Jepang Marsekal Besar Teraichi Hiaichi Untuk membicarakan (menagih) hadiah itu.
Dalam p;ertemuan itu, panglima perang Jepang tetap menjanjikan bahwa Jepang akan memberikan hadiah kemerdekaan kepada bangsa Indonesia itu pada akhir Agustus, tepatnya tanggal 28.
Tetapi apa yang dikatakan dan dijanjikan Jepang, para pejuang muda Indonesia tidak mau menerima begitu saja. Bagi mereka yang terbauk adalah proklamasi secepatnya, apalagi Kaisar Hirohito sudah mengakui kekalahan dan menyerah kepada sekutu tanggal 12 Agustus. Para pejuang muda juga menilai, proklamasi harus atas nama rakyat bukan kerena hadiah. Malu-maluin aja.
Karena kesal, tanggal 15 Agustus 1945, mereka para pejuang muda mengadakan pertemuan di Jln Cikini Raya no 71. Adam Malik dalam buku Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945: yang terbit tahun 1950 menyebut nama nama yang hadir dalam pertemuan itu.
Mereka adalah; Chairul Saleh, Wikana, Darwis, Yuskandar, Subadio, Sudewo, Armansyah, J Kasimo,, Sukarni dan tentu saja Adam Malik sendiri.
Pertemuan malam Itu berlangsung dua kali. Pertama pertama pukul 2O.00 dipimpin oleh Chairul Saleh. Dalam pertemuan itu diputuskan, mengutus Wikana dan Darwis menemui Bung Karno dan Bung Hatta untuk menyampaikan permintaan terakhir kepada kedua tokoh senior itu.
Rapat kedua direncanakan pukul 24.00 untuk mendengarkan laporan Wikana dan Darwis. Pukul 22.00 Wikana dan Darwis menemui bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur no 56. Mereka mengajak kedua tokoh Itu keluar dari Jakarta untuk menghindari pengaruh dan menghindari kontak senjata dengan tentara Jepang yang masih berusaha mempertahankan kekuasaannya.
Tapi Bung Karno dan Bung Hatta tetap menolak dan akan menunggu perkembangan, serta mau dibawa ke rapat PPKI dan yaitu tadi, juga masih menunggu kemerdekaan yang akan dihadiahkan oleh Dai Nippon. Dengan kesal dan kecewa kedua utusan itu pulang kembali ke Jalan Cikini.
Dalam rapat kedua pukul 24.00, setelah mendengar kegagalan misi Wikana dan Darwis, para politikus muda pada marah. Ada yang usul menggerakkan massa menggeruduk rumah Bung Karno. Waktu Itu pula muncul wacana penculikan, mau membawa paksa kedua tokoh itu ke Luar dari Jakarta. Tapi kemana dan bagaimana caranya.
Kebetulan dalam pertemuan itu ada yang hadir dari Shudanco (kapten PETTA) Singgih. Ia tampil menyatakan siap membawa paksa kedua tokoh itu keluar dari Jakarta. Tempatnya disebut Rengasdengklok yang aman secara militer. Semua setuju menyerahkan tugas Itu kepada Singgih.
Dan itulah yang terjadi. Tanggal 16 Agustus 1946 dinihari Singgih dengan pasukannya menggeruduk rumah Bung Karno dsn membawa paksa kedua tokoh Itu bersama ibu Fatmawati dan bayi Guntur yang baru berusia 10 bulan.
Kepada wartawan Mahbub Djunaidi (tahun 1981) Singgih (74 tahun) menyebut mereka menggunakan power wagon berpenumpang 6 orang. Singgih duduk di depan, disamping pengemudi seorang nintara (budancho) Harun.
Di bangku kedua duduk Bung Karno dan Bung Hatta diapit sebelah kanan Wikana. Wikana menggunakan seragam PETTA dan dipinjami sebuah pistol. Di bangku belakang duduk Bu Fatmawati dan bayi Guntur diapit dua pengawal penembak jitu dengan senjata caraben dan granat tangan. Pukul 12.00 siang mereka sampai di Rengasdengklok Karawang.
Para tamu tak diundang itu ditempatkan di rumah Giauw Kie Siong seorang petani keturunan China. Sampai menjelang sore Singgih belum berhasil membujuk bung Karno dan bung Hatta. Tapi sore hari sekitar pukul 17.00 datang Wikana dsn Soebadio seorang politikus PSI (Partai Sosialis Indonesia).
Wikana masuk ke dalam. Ketika keluar dia langsung berteriak, "Proklamasi kemerdekaan akan dibacakan besok tanggal 17 Agustus di Jakarta, Kalau tidak, tembak kepala saya. Sekarang tugas kalian mengembalikan mereka ke Jakarta!".
Maka Singgih pun terpaksa mengembalikan mereka malam itu juga. pukul 21.00 mereka sampai di Pegangsaan Timur. Lalu dipersiapkan tata cara proklamasi.
Ahmad Subardjo yang hadir disana mengaku memberikan kata pembuka "Kami bangsa Indonesia" seterusnya Sayuti Melik ditugaskan mengetik teks yang dibacakan oleh Bung Karno
Dan itulah puncak sejarah. Besok paginya, hari Jumat tanggal 17 Agustus kebetulan pula Tanggal 17 Ramadhan, proklamasi kemerdekaan itu dibacakan oleh Bung Karno didamping Bung Hatta.
Sebagai pengibar bendera Merah Putih muncul mendadak Latief Hendradiningrat seorang perwira muda PETTA didampingi Suhud Sosrokusumo dari barisan pelopor dan Suratri Karma (SK) Trimurti, istri dari Sayuti Melik.
Kebanyakan orang menyebut drama atau peristiwa Rengasdengklok Itu sebuah penculikan. Salah satunya Mr Mohamad Room. Dalam ceramah di depan para anggota The Anglo Indonesian Society di London tanggal 16 Juni 1976 mantan Perdana Menteri itu bilang 'Both Sukarno and Hatta argued that the kidnaping had been entirely point."
Tapi Singgih, juga kepada Mahbub Djunaidi mengklarifikasinya: Itu bukan penculikan. Itu upaya mengamankan kedua tokoh Itu dari jangkauan pengaruh dan senjata tentara Jepang yang masih berkeliaran dan kejam.
Apakah yang sebenarnya terjadi, penculikan atau pengamanan peristiwa itu telah terjadi dan menggemparkan seluruh dunia.**
