AI Kini Jadi Andalan Tempat Curhat, Manusia Tengah Kehilangan Kemampuan Mendengar?

Ilustrasi
Ilustrasi, Ketika AI jadi andalan.
Oleh Shafa Khoirunnisa Fajri
KEMAJUAN kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi dalam ilmu komputer yang membuat sistem atau mesin mampu meniru cara berpikir, belajar, dan menyelesaikan masalah seperti manusia
Cara kerja AI membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Awalnya, teknologi seperti ChatGPT dimanfaatkan untuk mencari informasi, menyusun tulisan, hingga membantu pekerjaan sehari-hari. Namun, belakangan muncul fenomena yang lebih menarik: semakin banyak orang menjadikan AI sebagai tempat mencurahkan isi hati.
Fenomena ini bukan sekadar tren digital. Ia menjadi cermin bahwa ada sesuatu yang sedang berubah dalam hubungan antarmanusia. Ketika seseorang lebih memilih berbicara kepada mesin dibandingkan kepada sahabat, keluarga, atau pasangan.
Persoalannya, bukan lagi soal kecanggihan teknologi melainkan semakin langkanya ruang yang benar-benar mau mendengarkan.
Di tengah aktivitas kehidupan yang serbacepat, banyak orang merasa kesulitan menemukan telinga yang bersedia mendengar tanpa menghakimi. Percakapan sering kali berubah menjadi ajang memberi nasihat, menyela, atau membandingkan pengalaman. Akibatnya, tidak sedikit orang memilih memendam masalah daripada dianggap berlebihan atau merepotkan orang lain.
Di sinilah AI hadir mengisi kekosongan tersebut. AI memang tidak menghakimi, tidak menunjukkan ekspresi bosan, dan selalu tersedia kapan pun dibutuhkan. Bukan karena AI memiliki empati layaknya manusia, melainkan karena ia memberikan sesuatu yang kini terasa mahal: kesempatan untuk berbicara sampai selesai.
Ironisnya, kondisi ini justru menjadi kritik bagi kehidupan sosial saat ini. Media sosial membuat manusia semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat. Di balik ribuan pertemanan digital, banyak orang justru merasa kesepian. Mereka melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, sementara kesulitannya sendiri disimpan rapat-rapat karena takut dinilai.
Meski demikian, AI tetap memiliki batas. Sebagus apa pun respons yang diberikan, teknologi tidak benar-benar merasakan kehilangan, kekecewaan, ataupun luka batin. AI hanya mengenali pola bahasa, bukan pengalaman hidup. Karena itu, kehadiran manusia tetap tidak tergantikan ketika seseorang membutuhkan empati yang nyata.
Fenomena maraknya curhat kepada AI seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat. Bukan alarm bahwa teknologi akan menggantikan manusia, tetapi alarm bahwa manusia mulai kehilangan budaya saling mendengarkan.
Padahal, sering kali seseorang tidak membutuhkan solusi yang rumit. Ia hanya ingin ada orang yang bertahan mendengarkan tanpa memotong pembicaraan dan tanpa tergesa-gesa memberi nasihat.
Pada akhirnya, AI bukanlah lawan manusia. Kehadirannya justru mengingatkan bahwa kemampuan paling sederhana -- mendengarkan dengan tulus -- mulai menjadi barang langka. Jika manusia kembali menyediakan waktu untuk hadir, mendengar, dan memahami satu sama lain, maka AI akan kembali pada fungsi utamanya sebagai alat bantu, bukan menjadi tempat pertama untuk mencari pelarian ketika hati sedang lelah.**
*)Penulis adalah mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan. di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
