Memaknai Wartawan Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Ilustrasi
Ilustrasi wartawan
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
DARI sononya wartawan itu merasa sebagai pilar atau tiang keempat (the fourth estate) daripada demokrasi. Sejajar dan setara dengan tiga pilar yang sudah ada sesuai dengan azas Trias politica, legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Wartawan berfungsi sebagai pemantau kekuasaan (watchdog) dan ruang publik untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Peran penting insan pers ini meliputi:
- Kontrol Sosial: Memantau kebijakan pemerintah agar tetap sejalan dengan kepentingan rakyat dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
- Penyampai Informasi & Edukasi: Menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan mendapatkan informasi yang akurat.
- Ruang Diskursus: Menyediakan ruang terbuka bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam perdebatan politik dan isu publik yang sehat.Kebebasan dan independensi pers merupakan syarat mutlak agar peran ini dapat berjalan dengan baik.
Di Indonesia, kedudukan, hak, dan kewajiban pers dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana kode etik dan fungsi pers menjaga iklim demokrasi di tanah air,
Wartawan dan medianya hadir sebagai penyeimbang. Jika tidak ada wartawan dan medianya tentu saja gedung parlemen di Senayan sudah doyong bahkan ambruk mencium tanah.
Fungsi wartawan itu kata mereka bukan hanya penyampai informasi dan kontrol sosial saja, juga pendidik dan penghibur
Sebagai penyampai informasi ada elemen komunikasi dua arah, two way trafick communication. Menyampaikan rencana dan kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Maksudnya supaya rakyat paham. Kalau sudah paham bukan hanya manggut-manggut tanda setuju tapi juga mengambil peran.
Namanya partisipasi. Way kedua, wartawan mengangkat aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada pemerintah. Maksudnya agar keputusan atau langkah pemerintah sesuai dengan aspirasi atau keinginan rakyat
Dulu profesi wartawan itu bergengsi. Saking bergengsinya ada beberapa pejabat negara yang nyambi sebagai wartawan. Salah satunya Mohammad Isnaeni. Dia itu Wakil Ketua DPR dari Fraksi PDI.
Selain Itu dia juga Isnaeni Pemimpin Redaksi Koran Suluh Indonesia, koran resmi PDI. Tapi politikus kelahiran Madiun Itu selalu ngomong, "Saya juga wartawan"..
Yang satu lagi adalah Harmoko. Sudah jadi Menteri Penerangan masih ngomong. "Darah daging saya tetap wartawan".
Apaan tuh?!. Kalau saja mereka ada di Isfahan Iran atau lahir di sana saya berani taruhan mereka sudah termasuk para Mullah Millah itu gelar kehormatan kepada orang yang pengetahuan Islamnya sangat tinggi. Dianalogikan dengan Arsy ya itu Singgasananya Allah di Yaumil akhir.
Tapi jadi wartawan juga harus benar, kata Harmoko (Harun Mochammad Kohar). Bagawan atau suhu Jurnalistik Yacob Utama wanti-wanti, wartawan jangn sampai terjebak kedalam jurnalistik tanpa makna.
Apa itu Jurnalistik tanpa makna?.
Kata pendiri dan pemilik rajanya koran Indonesia yaitu Harian Kompas/Gramedia, jurnalistik tanpa makna itu adalah wartawan yang hanya memberitakan sebuah peristiwa atau kejadian saja. Padahal berita itu harus dalam (depth reporting) harus lengkap (reportase komprehensif). harus berimbang (Cover both side) tidak boleh memihak pada si emen atau si Eon (balance dan independent).
Sekarang ini di era digitalisasi kata Mbah Yacob setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik seliweran jutaan informasi tanpa melalui editing yang baik. Itu adalah sisi negatif dari digitalisasi yang lahir sejak awal abad 19.
Yang paling kentara adalah informasi di media sosial, orang awam sulit membedakan apakah setiap informasi di media sosial ini dapat dikategorikan produk jurnalistik? Ya jelas tidak, sebab yang namanya produk jurnalistik seperti diurai di atas, yang paling mendasar adalah harus faktual alias berdasarkan fakta, sumbernya jelas, dapat dipertanggungjawabkan, aktual (berita terkini), dan berimbang.
Bukan hoaks, berita palsu, atau bohong dan sumbernya tak dapat dipertanggungjawabkan. Dan informasi di media sosial yang begini inilah yang kini menguasai medsos. Dan ironinya, saat sekarang banyak orang yang mudah sekali menyebut dirinya wartawan, hanya karena sering tampil di media sosial walaupun kredibilitas dan profesionalitasnya masih dipertanyakan.**
