Belajar dari Adam Malik, Apa Yang Kau Mau Apa Yang Kau Rindu Pasti Ketemu

Foto: Istimewa
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
TULISAN Itu saya baca di kaca belakang sebuah mobil minibus di kawasan wisata Songgoriti Kecamatan Songgo Kerto, Kota Batu Malang, Jawa Timur tahun 1979. Waktu itu kami para wartawan Priangan Timur baru bertemu dengan Wali Kota Malang, Kolonel Sugiono.
Kami difasilitasi Pemkot Malang menginap di hotel Songgoriti. Sebelumnya kami diajak mampir di perkebunan apel yang lagi ranum berbuah. Kami para wartawan diperbolehkan memetik sendiri dan makan sepuasnya. Bahkan juga boleh membawa pulang untuk oleh-oleh ke rumah.
Makna tulisan itu baru mulai terurai maknanya setelah dikira-kira.
Di rumahku kebetulan ada buku (autobiografi) Adam Malik berjudul "Mengabdi Republik". Adam Malik itu sekolahnya cuma sampai kelas dua Sekolah Rakyat (SR). Out dari sana sempat pesantren di madrasah Para bek, tetapi juga tidak lama. Ia pulang kampung di pematang Siantar Sumatra Utara
Adam Malik memang dilahirkan di Pematang Siantar Sumatra Utara tanggal 2O Januari 1920. Menjelang dewasa dia marah kepada tuan tuan kebun. Sebab yang disaksikan Adam Malik bahwa para mandor kebun galak sekali kepada buruh sadap yang kedapatan sedang istirahat. Selain dihuitt verdom syeh juga dipukuli.
Adam Malik pun mencoba jadi wartawan. Dan kasus mandor kebun itu ia bikin lalu diberitakan di koran Pewarta Deli. Dari situ rupanya dia udah mulai menjadi wartawan.
Makin dewasa ia mulai tertarik dunia politik, maka masuklah menjadi anggota Partindo yang didirikan Mr Sartono tahun 1933. Dalam ternyata di dalam partai ia mulai kelihatan talentanya, maka anak muda Itu dalam usia 17 tahun sudah jadi Ketua Partindo Cabang Pematang Siantar.
Tapi bagi dia,Pematang Siantar bahkan Sumatra Utara terlalu sempit buat karrir hidupnya. Ia pun nekad pergi ke Betawi alias Jakarta. Di sana bertemu teman-teman semasa menjadi wartawan
pada tahun 1937, di antaranya Sumanang, AM Sipahutar, dan Pandu Kartawiguna. Mereka ini mulai mendirikan Kantor Berita Antara.
Dalam lembaga itu Adam menduduki jabatan Wakil Direktur merangkap ketua Dewan Editor. Sementara jabatan Direktur dijabat Sumanang. Kantor Berita Antara menyebar terutama berita tentang perjuangan dan gerakan kemerdekaan.
Adam Malik masih juga belum pernah puas, dari wartawan ia mencoba masuk pada pemerintahan. Dan ;angsung diterima Presuden Sukarno dan mengangkatnya menjadi Menteri Perdagangan. Periode berikutnya ia ditunjuk presiden menjadi Menteri Luar Negeri.
Di era rezim Soeharto, dia masuk Golkar bahkan Suharto mengajak berduet dalam pemerintahan sebagai wakil presiden (1079+1983), menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang mengundurkan diri.
Jabatan sebagai menteri luar negeri memungkin dia (tahun 1971-1972) terpilih sebagai Ketua Sidang Majelis Umum PBB. Tapi Adam Malik mengakui waktu Itu banyak negara, bahkan negara-negara besar menganggap keberadaan PBB sudah tidak relevan lagi
Kondisi politik global saat itu memang tengah mereda. Uni Soviet dan Amerika tidak lagi membawa isu konflik yang terjadi kedua negara adikuasa ini hanya "perang dingin". Di badan dunia itu (PBB), konflik mereka selesai dengan sendirinya.
Kemudian yang terjadi, Uni Soviet bubar menyusul kehancuran ekonomi dengan diperkenalkan oleh kebijakan ala Presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachev yakni Glasnost and Perestroika. Ini adalah dua kebijakan reformasi yang dicetuska pada pertengahan 1980-an.
Tujuannya adalah untuk menyelamatkan Uni Soviet dari krisis ekonomi dan politik yang parah, yang justru berujung pada keruntuhan negara tersebut pada tahun 1991.
Glasnost (Keterbukaan Politik). Secara harfiah, glasnost berarti "keterbukaan". Kebijakan ini memberikan kebebasan berbicara, kebebasan pers, dan transparansi bagi rakyat dan pemerintah Uni Soviet.
Tujuannya adalah membuka ruang bagi masyarakat untuk mengkritik pemerintah dan memberikan ide-ide baru guna memperbaiki sistem yang korup dan kaku.
Dampaknya, media massa menjadi lebih berani, kejahatan masa lalu rezim Soviet mulai diungkap, dan masyarakat mulai menuntut lebih banyak kebebasan.
Kemudian Perestroika (Restrukturisasi Ekonomi) Secara harfiah, perestroika berarti "restrukturisasi" atau penataan ulang. Kebijakan ini berfokus pada perombakan sistem ekonomi dan politik Uni Soviet. Dan perkembangan selanjutnya Uni Sovyet bubar dan muncul 15 negara baru, du anatarnay yang terbesar adalah Rusia.
Ihwal PBB yang mulai banyak dinafikan oleh sejumlah negara, di antaranya RRT tak membawsa kasus dengan Taiwan. Korea Utara dan Korea Selatan serta Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Bahkan Indonesia sendiri tidak membawa konflik dengan Belanda kepada PBB saat itu Sekjennya Kurt Waldheim.
Yang terjadi, Adam Malik hanya bicara sendiri atau langsung dengan Sekjen PBB, karena jika dibiucaran di forum sidang terbuka bisa saja keputusan Sekjen diveto oleh salah satu pemegang hak veto (Amerika Serikat Inggris, dan Prancis).**
