Alarm dari Mahasiswa

Foto : Istimewa
Aksi massa mahasuswa di jalanan jangan dipandang sebelah mata.
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
DEMONSTRASI oleh massa mahasiswa adalah alarm keras bagi pemerintah. Suara protes jalanan dari kampus jika dipahami dengan kepala dingin oleh penguasa sesungguhnya sebagai representasi kekecewaan publik.
Berlelah-lelah di jalanan sebenarnya tidak mau dilakukannya. Ingin tenang di kampus, kuliah dan wisuda. Tapi apa daya, ia harus "marah" untuk sepenuhnya mewakili suara rakyat atas kebijakan ekonomi atau sosial yang dirasakan memberatkan.
Bukan Bermusuhan
Aksi protes bukan untuk bermusuhan. Tapi untuk memberikan sudut pandang yang mungkin kali terlewat oleh ambisi politik sang penguasa sebagai pembuat kebijakan.
Gelombang kritis dari mahasiswa juga bukanlah untuk menjatuhkan atau memaksa presiden berhenti dari jabatannya. Apalagi bermusuhan dengan tentara dan polisi yang berpagar kawat berduri dan bersenjata api.
Dengan kata lain, ekspresi suara jalanan yang kian lama kian masif itu adalah pengingat agar pemerintah tetap berada di jalur yang benar.
Terimalah!
Masukan dari mahasiswa semestinya diterima sebagai bahan koreksi untuk memperkuat kebijakan yang seharusnya dijawab dengan ruang diskusi yang terbuka, bukan dengan perlawanan atau pembungkaman.
Percayalah, mengabaikan suara anak muda berisiko memicu hilangnya kepercayaan serta akumulasi kemarahan sosial yang lebih besar. Apalagi kekuasaan yang menekan, sangat rentan jatuh diperjalanan waktu.**
