Konferprov PWI Jabar 2026, Uji Nyali Wartawan Berdemokrasi

Imam Wahyudi
Imam Wahyudi
Catatan IMAM WAHYUDI (iW)
HARI ini, Rabu, 12 Agustus 2026 -- Konferprov PWI Jabar 2026 mulai digelar. Berlangsung hingga Kamis esok di Hotel Horison, Bandung.
Adalah tradisi bagi suksesi kepemimpinan PWI Jabar. Majelis dengan kekuasaan tertinggi yang kelak memutus dan menetapkan figur ketua anyar masa bakti lima tahun mendatang.
PWI sebagai induk organisasi profesi wartawan. Tak cukup menyebut singkatan PWI. Hendaknya dibaca secara lengkap: Persatuan Wartawan Indonesia. Justru, ada sebutan kata WARTAWAN. Kata benda (nomina) yang merujuk pada orang atau profesi.
Wartawan sebagai profesi luhur. Rasanya bakal marak suasana konferprov itu. Betapa tidak, tercatat 755 peserta dalam daftar pemilih tetap (DPT). Mereka siap berselancar di arena berdemokrasi yang menjanjikan obsesi. Tak kecuali, PWI dengan segala aspek sudah (jauh) bertransformasi. Beda masa.
Penulis yang juga ditakdirkan berprofesi wartawan, sejatinya cukup menjadi penonton. Delalah tercatat dalam DPT. Maklum mengantongi KTA PWI sejak 1983, kini berlaku Seumur Hidup. Adalah kewajiban moral mengurai benang merah.Sewajarnya saja.
Bahwa PWI yang tak semata sebagai pajangan pilar Trias Politica. Bukan cuma pemanis rasa dalam sistem tata kelola pemerintahan. Maka, momen konferprov menjadi ruang evaluasi dan konsolidasi organisasi.
Ruh atau jiwa insan wartawan adalah idealisme, independensi, serta kepatuhan pada etika dan akurasi dalam menyuarakan kebenaran dan melayani kepentingan publik. Narasi terpuji yang tak setara sayup-sayup suara money politic. Hal yang dipastikan mendistorsi ruang berdekomkrasi.
Penulis tak percaya itu bergulir di area Konferprov PWI Jabar 2026. No way. Wartawan seiring sejalan label "bermartabat dan berintegritas." Kiranya, itu pula Konferprov PWI Jabar 2026 dengan gagah mengapungkan tema "Merawat Profesionalisme Menuju Pers Berintegritas dan Bermartabat".
Keutamaan berdemokrasi suksesi, tentu menjamin kemerdekaan partisipan untuk memilih dan dipilih. Adalah kehormatan dan harkat diri peserta yang notabene wartawan. Bakal calon hingga kandidat calon, cukup bersosialisasi dan kampanye untuk beroleh sebanyak dukungan atau suara.
Lazim berlaku simple mayority atau unggul 50% plus satu. Sistem demokrasi ini tak minta lebih. Sesederhana itu. Tak perlu embel-embel lain dengan atasnama apa pun. Nah, bila peserta dalam DPT (755 orang) itu hadir -- cukup bagi kandidat menghimpun 378 suara. Dengan kata lain, separuh jumlah pemilih plus satu. Mencakup peserta yang memberikan mandat memilih.
Dalam DPT, tercatat 191 orang dengan catatan "dalam proses". Bila berlanjut, hak pilih "hanya" 564 peserta. Keunggulan pun bisa dicapai dengan 283 suara. Itu demokrasi yang visibel.
Lewat Konferprov PWI Jabar 2026, sejatinya uji nyali korps wartawan dalam praktik berdemokrasi. Sependek mana menghasilkan suksesi yang mumpuni untuk dedikasi dan prestasi. Merajut asa PWI Jabar nan berkibar.***
*) jurnalis senior, anggota PWI.