Tiada Maaf Bagimu Jurnalis!

Ilustrasi Jurnalis
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
ALIANSI Jurnalis Independen (AJI) mendesak Prabowo Subianto untuk meminta maaf menyusul pernyataannya dalam Harlah ke-28 PKB yang menuding jurnalis sebagai "londo ireng".
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pun mengingatkan presiden, pernyataan itu sebagai stigmatisasi terhadap kebebasan sipil. Sedangkan Persatuan Wartawan Indoensia (PWI) memilih "mode diam".
Tiada Maaf, Jurnalis!
Sampai sekarang pihak Istana belum memberi sinyal klarifikasi terkait pernyataan presiden sebagai Londo Ireng. Apalagi pernyataan minta maaf.
Atas nama penguasa, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), pemerintah menyatakan bahwa ungkapan tersebut adalah kiasan politik.
Presiden bertujuan mengajak waspada terhadap narasi pesimisme. bukan untuk menyerang profesi jurnalis atau media tertentu.
Londo Ireng
Londo Ireng secara harfiah adalah "Belanda Hitam". Istilah dalam sejarah untuk pribumi yang membela penjajah Belanda melawan bangsa sendiri.
Londo Ireng itu tidak sepenuhnya sebagai prasangka negatif, tapi senyatanya sebagai labelisasi untuk tentara Afrika yang dibawa Belanda ke Jawa.
Hal ini bisa ditelusuri asal-usul katanya dari tulisan seorang sejarawan asal Belanda Ineke van Kessel dalam buku berjudul " Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indië"
Karya ilmiah itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831–1945 (terbit tahun 2011 oleh Penerbit Komunitas Bambu).**
