Jejak Sepatu Lars Dalam Perjalanan Sejarah Indonesia

foto

Foto : Istimewa

Dominasi ABRI di masa Orde Baru.

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

TIGA dekade hidup di bawah kekuasaan rezim militer yang otoriter bisa membuat bsnyak orang amnesia. Tiga puluh dua tahun (1966-1998) berada dalam bentakan dan derap sepatu lars membuat bsnyak orang trauma. Tapi anehnya setelah Soeharto dipaksa lengser, orang malah segera merindukanya.

Publik seperti menderita sindrom stockholm yang malah banyak yang menyebut presiden terbaik sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Tentang sindrom stockholm atau Stockholm syndrome adalah kondisi psikologis saat korban penyanderaan atau kekerasan merasa simpati, sayang, atau terikat secara emosional kepada pelaku. Hal ini muncul ketika terjadi peristiwa perampokan sebuah bank di Stokholm Swedia Swedia tshun 1973. Dan, aneh suraneh-nya adalah para korban justru merindukan dan membela para perompak yang menyekap mereka di dalam bank Itu selama berhari-hari.

Bukan untuk menciptakan kembali sindrom stockholm, tapi menarik bila cerita tentang para tentara yang berjejer disamping kiri kanan, muka belakang daripada Soeharto kita ungkap satu persatu.

Dan di masa itu (Orde Baru) bukan hal aneh jika ada demo di kampus yang menjaga atau menyerbu kampus bukan polisi melainkan tentara bersepatu lars. Dan bukan pula hal yang aneh jika pucuk pimpinan sipil dari mulai menteri, gubernur, bupati dan wali kota, didominasi wajah-wajah militer.

Nama-nama perwira tinggi yang jadi menetri, kepala badan dan lembaga, hingga eksekutif, legislatif dan yudikatif, juga berasal dari kalangan ABRI (TNI). Makanya dulu ada anekdote, kalau mau jadi bupati, wali kota, gubernur atau menteri, tak perlu sekolah di IPDN (Instiut Pemerintah Dalam Negeri) ataui STPDN, masuk saja AKABRI (kini Akmil), maka masa depan jabatan sipil di depan mata.

Masih ingat saat itu, bulan Oktober 2013 majalah berita Tempo terbit dengan sampul bergambar wajah Ali Murtopo. Buat pembaca muda Tempo, nama Ali Murtopo mungkin tidak terlalu banyak dikenal, meskipun dalam kiprahnya lelaki bersepatu lars itu memainkan peran signifikan sebagai asisten pribadi, Menteri Penerangan (1978-1983) dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (1983-1984).

Ali Murtopo tentara tangan kanannya Soeharto.  Dia salah satu tentarayang meluluskan proses naiknya Soeharto ke panggung kekusaan yang fenomenal (persisnya 31 tahun dan 71 hari). Ali Murtopo berhasil mendekati para pemimpin gerakan mahasiswa (KAMI )'yang sedang bergerak menurunkan Sukarno. Disitu ada Yusuf dan Sofyan Wanandi, Cosmas Batubara. Fachmi Idris, Abdul Gafur, Soe Hok Gie dll.

Ali Murtopo memandang perlunya partai politik yang mem-back up kekusaan dari pada Soeharto, dan ia memilih Sekber Golkar. Langkah  zigzag Ali Murtopo kian kemari mendekati para pemimpin Sekber, Korpri dan keluarga. Bahkan sampai-sampai hansip pun digerakkan untuk menggiring masyarakat memilih Golkar. Hasilnya memang tidak sia sia, dalam pemilu 1971 Golkar meraih 63,3% suara dan memperoleh 236 dari 36O kursi DPR.

Giliran Soeharto membalas jasa dengan menempatkan orang-orang Golkar dalam eksekutif dan legislatif.
Ali Murtopo sendri kebagian kursi Menteri Penerangan menggantikan Mashuri Saleh pada tahun 1978.

Ali juga menggagas perlunya tentara memasuki ranah sipil. Itulah awal politik Dwifungsi ABRI. Sepoerti ditulis di atas, saat itulah nyaris semua jabatan sipil, gubernur, bupati wali kota sampai kabinet penuh jejak sepatu Lars. 

Orde Baru memang merusak kehidupan demokrasi. Represif terhadap orang yang berani bersikap kritis tidak mendukung pemerintah. Mereka ditangkap dan dipenjara. Pers diberangus dengan lembaga bredel.
Aktivis mahasiswa diculik dan disekap.

Puncaknya adalah peristiwa Malari, tangal 15 Januari 1974. Ali Murtopo membakar emosi Hariman Siregar yang menjadi beringas setelah Ali Murtopo menerobos hampir naik mobil komando pendemo. Akibatnya demo yang awalnya damai berubah menjadi beringas.

Saat itulah berubah jadi chaos, dimana-mana terjadi pengrusakan dan pembakaran bangunan. Pascaperistiwa itu Ali Murtopo kehilangan jabatan asisten pribadi kerena lembaga Itu sesuai tuntunan massa, dibubarkan oleh Presiden Soeharto.

Ali Murtopo sendiri tidak manggung sampai akhir kekuasaan Orde Baru. Ia keburu wafat karena serangan jantung pada tahun 1984. Tapi jejak sepatu Lars masih menggurat direntang sejarah kita.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Ketika Presiden Keseleo Lidah
Final Piala Presiden 2026, Saatnya Erick Thohir Mundur
Bung Karno: Liberalisme dan Neoliberalisme itu Kolonialisme dan Imperialisme Gaya Baru
NU Tak Ubahnya Partai Politik
KDM Ojo Kesusu