Bung Karno: Liberalisme dan Neoliberalisme itu Kolonialisme dan Imperialisme Gaya Baru

foto

Foto : Istimewa

Bung Karno antiliberalisme

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

ADA yang bertanya kepada saya pascatulisan tentang Neoliberalis,e menyenggol hampir semua Presiden Republik Indonesia.

Pertanyaan itu berbunyi: Apakah Bung Karno juga Neolib?

Saya berani katakanan, bukan. Bung Karno Itu bukan neolib atsu saudara tuanya liberal. Bung Karno itu antikeduanya. Katanya liberalisme dan neoliberalisme itu adalah Neokolonialisme dan imperialisme atau liberal dan neoliberalisme gaya baru.

Mereka adalah yang tidak peduli pada rakyat. Membiarkan ekonomi pada mekanisme pasar. Meskipun rakyat dibiarkan sengsara, mereka tak peduli. Bung Karno memang seorang penganut ekonomi nasionalis sosialisme. Ia juga antibantuan asing

"Go to hell with your aid!" sergahnya ketika menolak uluran tangan bantuan dari Amerika Serikat.

Bung Karno mengajarkan Marhaenisme yaitu cinta kepada kaum proletar kaum tani dan buruh yang miskin di pedesaan.

Dalam politik pemerintahan ia mengajarkan prinsip Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri,). Kalau perlu makan jagung. Euforia makan jagung itu dipraktekkan dengan mengundang wartawan Jakarta ke Puncak Bogor.

Di sana bersama menteri-menteri Kabinet Dwikora Bung Karno pesta makan bakar jagung. Besoknya koran-koran terbit dengan headline foto Bung Karno sedang makan jagung.

Dalam prinsip Berdikari, Bung Karno juga sempat membuat beras mode baru. Namanya beras Tekad, campuran ketela kacang dsn jagung. Diproduksi PT Mantrust di Bandung. Tentu saja tidak berkembang kerena tidak cocok dengan selera orang Indonesia.

Tapi kenapa pada waktu dipimpin Bung Karno itu rakyatnya sengsara?. Jawabnya adalah karena waktu Itu Bung Karno menjadikan politik sebagai panglima. Uang habis digunakan perang merebut kembali Irian Barat (Papua). Menghancurkan separatisme DI TII Karto Suwiryo.

Ada pula projek pencitraan, membangun Gelora Bung Karno, menyelenggarakan pesta olah raga Asean Games (kedua) dan Ganefo (Games of the New Emerging Forces), adalah pesta olahraga internasional yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963 sebagai ajang tandingan bagi Olimpiade, dan maaf-maaf kata sorry-sorry to say, membangun masjid (Istiqlal), juga terbesar di Asia tenggara.

Bung Karno sendiri berpegang teguh pada prinsip ekonomi kerakyatan yang digagas Bung Hatta seperti yang termaktub dalam pasal 33 Undang undang Dasar 1945.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Rayakan Karnaval Agustusan dengan Miras dan Obat Keras
Gegara Banyak Pungutan Pajak, 13 Koloni Inggris Berontak Momentum Berdirinya Amerika Serikat
Klarifikasi Presiden Ihwal Upah Kupas Bawang
Megawati di Antara Intrik dan Licik Politik
Botok, Sang Pendobrak