NU Tak Ubahnya Partai Politik

foto

Nahdlatul Ulama saat ini sedang mengadakan mukmatar di antaranya memilih Ketua Umum.

Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)

MUKTAMAR ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai 27 hingga 31 Agustus 2026 tak ubahnya pemilihan pimpinan partai politik: dinamis, masif dan panas!

Kekuatan NU Melebih Parpol

Relasi Nahdlatul Ulama (NU) dan politik kenegaraan pun lebih kompleks ketimbang partai politik.
Lingkaran pengaruh oligarki dan kekuasaan politik NU di Indonesia tidak ada yang sebanding dengan partai pemenang pemilu sekalipun.

Jamaah NU yang lebih besar dari jumlah anggota parpol resmi manapun di Indonesia. NU lebih signifikan memberi dukungan elektoral kepada partai politik manapun yang pernah berkuasa membuat NU lebih partai dari partai politik sungguhan.

Ketua PBNU Elite Politik

Dan, tak berlebihan kalau ada asumsi Ketua PBNU dan elite ormas keagamaan ini dipilih secara berhati-hati. Disaring sedemikian rupa dengan persyaratan ketat karena kerap menjadi elite politik yang memberi andil bahkan penentu legitimasi narasi politik elit kekuasaan.

Bobot kekuatan dan kepopuleran ketua PBNU sangat mungkin melampaui ketua partai politik pemenang eletoral pemilihan umum.

Itu sebabnya kontestasi pada muktmar NU tak bisa dilepaskan sepenuhnya sebagai domain internal organisasi. Tapi lebih luas dari itu.

Dan, hasilnya tidak bakal berbeda dengan dinamika organisasi politik modern yang cendeung ditandai perebutan jabatan.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Rayakan Karnaval Agustusan dengan Miras dan Obat Keras
Sistem "Layering" Versi Profesor Unsoed
Alarm dari Mahasiswa
Represi Politik Itu...
Megawati di Antara Intrik dan Licik Politik