KDM Ojo Kesusu

Foto : Istimewa/instagram
Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) datang ke Nusa Tenggara Timur (NTT) serahkan bantuan untuk korban gempa.
Catatan HARI SINASTRIO
SAYA termasuk salah satu pendukung Kang Dedi Mulyadi (KDM). Malah nyoblos oge teu tanggung-tanggung di coblos tarangna, sebagai Gubernur Jawa Barat. Hehe.. Dan menang.
Namun, di berbagai kebijakan, perjalanan, sungguh membuat saya dan mungkin sebagian rakyat Jawa Barat teu paruguh perasaan dari penduduk Jawa Barat mungkin saya salah satunya.
KDM ojo kesusu (jangan buru buru). Hanya karena elektabilitas yang moncer mengalahkan presiden saat ini. Terus di "gaspol" digeber.
Aksi KDM sang Gubernur Jawa Barat datang langsung ke NTT membantu korban gempa mendapatkan perhatian luas. Namun dibalik aksi heroik kemanusian tersebut, muncul juga kritik prioritas sebagai seorang kepala daerah termasuk saya (jujur. hehe..).
Apa urgensi harus datang bersama rombongan khusus ke NTT dan dimungkinkan dengan biaya yang cukup besar?. Dan tidak mungkin laleumpang ke NTT pasti munggah sepur mabur Belum lagi biaya akomodasi di sana, yang sebenarnya bisa langsung disalurkan melalui badan yang resmi disana.
Kalau ingin pencitraan iya sah sah saja sebenarnya. Akan tetapi sebagai seorang kepala daerah tidaklah elok sampai harus ekspos di berbagai sosial media sambil dengan enteng membagikan bagikan uang yang dibawanya, ditengah himpitan kemiskinan rakyat Jawa Barat.
Kalau selebritis okelah karena itu memang bagian yang harus diberitakan luas. Bahwa "nih gue nih menyumbang". Ini KDM gubernur, kepala daerah ditengah skala kemiskinan rakyat Jawa Barat yang cukup tinggi yang perlu penanganan juga yang serius.
Jadinya ada anggapan di satu sisi kehadiran pejabat di lokasi bencana dapat dianggap sebagai bentuk kepedulian. Namun disisi lain, publik juga mempertanyakan. Apakah aksi tersebut murni sosial kemanusiaan atau strategi membangun popularitas.
Sebagai rakyat Jawa Barat, saya lebih cenderung KDM fokus terlebih dahulu pada persoalan di Jawa Barat.
Seperti kita ketahui Jawa Barat tahun 2026 mengalami defisit anggaran Rp 5,7 triliun dan selanjutnya terpaksa harus berutang Rp3,4 triliun.
Saya bukan termasuk golongan pro atau kontra. Tapi saya di barisan rakyat jelata. Digugu heug henteu kajeun. Sejatinya KDM menahan diri, Jangan centil seperti seleberitas yang haus akan pujian dan popularitas. Kalau rakyat Jawa Barat makmur sentosa tidak usah jauh jauh ke NTT juga elektabilitas pasti tetap moncer.
Hapunten KDM kumawantun.**


