Bansos Sang Primadona

  • 22 jam lalu
foto

Ilustrasi

Ilustrasi pemberian beras bansos.

Catatan HARI SINASTRIO
(Pengamat Sosial)

KATA-kata untuk pejabat teras (teras terbawah), selalu syahdu terdengar, "Pak RW iraha bansos (bantuan sosial) turun?,".

Sebagai seorang pejabat kelas sudra, tentu harus menjawab se-merdu mungkin. Penuh janji "bari jeung teu nyaho iraha turuna". Biar tentram.

Ketika ada yang mencaci maki dan menjurus fitnah, iya harus diterima. Bongan bet  daek jadi  Ketua RW. Tidak perlu gundah gulana ngan gondok saeutik. Pada dasarnya sifat manusia merasa paling bener, dan pasti sok tahu.

Apalagi di zaman medsos, orang bisa berkata "semau gue". Tanpa data dan fakta yang valid yang penting viral.

Istilah bantuan warisan kolonial presiden Jokowi memang macam-macam ada BLT (bantuan langsung tunai), PKH  (program keluarga harapan), BST (bantuan sosial tunai), BNPT (bantuan tunai non tunai), KPM (keluarga penerima manfaat), PIP  (program Indonesia pintar), KIP (kartu Indonesia pintar). Yang semuanya berbagai jurus jenis bantuan.

Sekarang ada istilah yang masih hangat DTSEN-data tunggal sosial dan ekonomi nasional dimana semua jenis bantuan terintregasi secara nasional datanya diambil dari BPS- biro pusat statistik melalui sensus ekonomi. Jadi kalau ada orang merasa sok pintar. Bahwa semua bantuan RT, RW, dan Lurah yang menentukan itu hanya "omon omon" yang tidak ada dasarnya.

Penulis yang merupakan pejabat kelas akar rumput (RW) sampai molotok hal hal seperti itu. Dan molotoknya sampai ke ubun ubun, jangan sampai dicap masyarakat sebagai RW bloon. Teu nyaho nanaon.

Kalau bantuan untuk sekarang di tahun 2026 jangan bicara tepat sasaran. Jauh api daripada panggang. Karena data yang dipakai adalah data BPS tahun 2021, dengan rentang 5 tahun pasti sudah mengalami perubahan.

Karena mungkin petugas Dinsos  hoream memutakhir data jadi nya eta eta keneh nu kaluar, yang dapat bantuan Kabayang data puluhan juta bahkan mungkin ratusan juta pasti aya we nu misleukna.

Penulis sebagai garda level bawah ( RW) tidak ambil pusing ketika ada warga yang ingin dimiskinkan demi bantuan. Ketika seseorang merasa miskin. Iya silakan miskin. Simpel saja bagi penulis, Mereka butuh bantuan matak ngajukeun oge.

Di tengah kritik yang membabi buta, Presiden Prabowo ditengah program efisiensi, berbaik hati menggelontorkan bantuan pangan berupa beras 3 karung, masing masing orang, satu karung berisi 10 kg beras bulog. Di kelurahan tempat tinggal penulis yakni Kelurahan Kebon Jayanti kurang lebih ada sekitar 700-an penerima. Kebayang Aula kelurahan jadi gudang bulog.

Penulis yang terlibat langsung dalam pembagian kupon. Iya 'kan Ketua RW. Disambut sangat antusias oleh warga. Bayangkan 3 karung. Teu ngaleuleungit aya we warga yang berbagi kasih masihan beas ka RW, majar, ieu mah kadeudeuh cenah. Menggoda iman ieu mah. Hehe. Jumlahna teu kudu nyaho bisi jadi viral, kan keur usum ayeuna mah. Grafitikasi henteu nya? tapi jujur ditolak lain teu butuh. Sieun kena OTT ku ku KPK. hehe

Bagi penulis sudah lumrahlah pemerintah membantu rakyatnya. Daripada ditelan bulat-bulat oleh koruptor. Uang triliunan rupiah sedianya buat rakyat kecil jadi bancakan para "biawak" bangsa.

Bansos memang masih primadona, kehadirannya selalu dinanti. Rakyat tidak butuh janji-janji rakyat tidak butuh konten-konten pejabat kelas kakap yang tajir melintir. Yang dibutuhkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Konferprov PWI Jabar 2026, Uji Nyali Wartawan Berdemokrasi
Drama Rengasdengklok, Penculikan Atau Pengamanan?
Pasca-Malari, Hariman Siregar Masuk Bui dan Ali Murtopo Tersingkir dari Panggung Kekuasaan
Badai Dahsyat Dibalik Mundurnya Daripada Soeharto
Ketika Presiden Keseleo Lidah