Sarwo Edhi Wibowo, Pejuang yang Terbuang

foto

Foto : Istimewa

Sarwo Edhi Wibowo

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

PADA tanggal 2 0ktober1965 pagi hari, Komandan RPKAD ( Resimen Para Komando Angkatan Darat) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo sedang betada di rumahnya di Cijantung. Subuh hari kedatangan ajudan Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), Letjen. Ahmad Yani yang melaporkan situasi Jakarta sedang gawat

Insting militernya bekerja. Ia segera berangkat dengan naik sebuah panser menuju ke Jakarta.
Di perjalanan sempat memberi perintah agar semua anggota dan pasukan RPKAD merapat standby di Cijantung tunggu perintah selanjutnya.

Sarwo sendiri menuju markas Kostrad di Jalan Medan Merdeka Timur menemui Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Perintah Pangkostrad pun turun, bebaskan gedung RRI Pusat dan kantor Besar Telekomunikasi yang masih dikuasai oleh komplotan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September (G-30-S/PKI).

Sarwo Edhi segera memerintahkan kepada para prajurit dan pasukan RPKAD supaya merapat ke Kostrad.

Sore hari menjelang magrib satu peleton RPKAD (kini Kopassus) dipimpin oleh Letnan Dua Sintong Panjaitan (lulusan AMN 63) bergerak menuju sasaran dengan jalan kaki. Hanya butuh waktu 20 menit kedua gedung vital Itu sudah dibebaskan. Beberapa orang penjaga yang merupakan sukarelawan pemuda rakyat bertekuk lutut.

Perintah turun lagi untuk masuk dan membebaskan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma. Disana terdapat kekuatan G30S PKI, bahkan Presiden Sukarno juga masih berada disana. Pesan Soeharto, usahakan tidak terjadi tumpah darah, hindari korban kalangan sipil.

Sarwo Edhie menyusul ke Halim dan ikut terlibat baku tembak. Tidak menghabiskan waktu lama kekuatan G-30-S/PKI juga berhasil dilumpuhkan. Lapangan terbang Halim Perdana Kusumah diduduki RPKAD dan Bung Karno diterbangkan dengan helikopter angkatan udara ke Istana Bogor.

Sorenya Sarwo ikut terbang dengan helikopter kepresidenan ke Bogor. Dia diyakinkan Laksamana Muda Sri Mulyono Herlambang KSAU bahwa Mayjen Soeharto juga akan ke istana Bogor. Sarwo ingin melaporkan hasil operasi RPKAD selama suatu hari satu malam.

Ternyata Soeharto tidak ke istana Bogor. Sarwo hanya bertemu dengan Presiden Sukarno dan tidak melaporkan apa-apa.

Peristiwa ini di belakang hari jadi malapetaka bagi karir militernya. Pasukan RPKAD diperintahkan mencari korban penculikan dan berhasil menemukan korban di sebuah sumur tua di Lubang buaya.

Mereka adalah tujuh perwira tinggi dan seorang perwira pertama. Selanjutnya mereka para korban dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata persis pada hari ABRI 5 Oktober

Perintah berikutnya diterima Kolonel Sarwo Edhi yakni operasi pembersihan sisa-sisa komplotan G-30-S /PKI yang berada di Jawa Tengah. Satu batalion RPKAD di bawah pimpinan Mayor CI Santoso berangkat ke Jawa Tengah dengan truk militer.

Di Kota Solo yang merupakan basis kekuatan PKI disambut ribuan rakyat yang berdemo menghancurkan gedung CD (Komite Central Daerah PKI Jawa Tengah, gedung BTI (Barisan Tani), Gerwani Baperki, dan sekolah sekolah cina yang mendukung G-30-S PKI.

Sintong Panjaitan dalam buku "Perjalanan Seorang Prajurit Komando" yang ditulis oleh Hendro Subroto menceritakan mereka mengejar sisa-sisa anggota G-30-S/PKI sampai ke lereng Gunung Merapi dan Merbabu yang merupakan tempat pelarian PKI bila terdesak.

Operasi tempur yang berlangsung selama satu bulan Itu berhasil menewaskan pemberontak sekitar 500 orang.

Soeharto mendengar laporan intelijen termasuk dari Ali Murtopo yang menyebutkan bahwa Sarwo Edhie Wibowo telah pergi ke Istana Bogor dan melapor kepada Presiden Sukarno. Suharto pun tersinggung dan marah.

Sejak itu mulailah dia dijauhkan dari kekuasaan pemerintah. Pertama diangkat menjadi Panglima Kodam XII Bukit Barisan di Sumatea Utara. Kemudian dipindah menjadi panglima Kodam XVII Cenderawasih di Irian Barat (Papua). Terakhir menjadi Duta Besar RI untuk Korea Selatan.

Sarwo Edhi yang tak pernah diberi jabatan yang prestisius mulai merasa gundah. Istrinya, Sunarti sempat menceritakan nasib suaminya kepada wartawan Tempo tahun 2013.

"Bapak dikucilkan gara-gara diisukan melapor langsung kepada Presiden Sukarno di istana Bogor tidak seizin Suharto," kata Sunarti.

Akibat kegundahan hati Sarwo Edhie Wibowo terserang stroke Akhirnya ayah dari Kristiani (Ani Yudhoyono) dan mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) wafat di RS Gatot Subroto Jakarta tanggal 9 November 1989. Jenazahnya dikebumikan di kampung halamannya Purworejo Jawa Tengah

Karir militer Sarwo Edhi Wibowo sebenarnya cukup moncer. Ia masuk PETA zaman Jepang di Bogor. Setelah kemerdekaan, masuk TKR dan BKR. Kemudian masuk pasukan elit Angkatan Darat Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)dsan menjadi komandan 1963-1967.

Itulah akhir hidup seorang pejuang yang terbuang..**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Jatuh Bangun Majalah Tempo Kena Bredel Daripada Soeharto
Kisah Mimpi Ali Al Muwafiq: Jemaah Haji Mabrur Semua
Konferprov PWI Jabar 2026, Uji Nyali Wartawan Berdemokrasi
Represi Politik Itu...
Kasus Kedung Ombo, Ada Informasi dan Komunikasi yang Tersumbat