Leonardus Benjamin (Benny) Moerdani Si Raja Intel dan Spy Master

Foto : Istimewa
Leonardus Benjamin (Benny) Moerdani ketika dilantik menjadi Panglima ABRI oleh Presuden Soeharto 1984.
Oleh DEDI ASIKIN
(Reporter Senior)
BERBEDA bersama Soeharto yang dijuluki The Smiling General , Leonardus Benjamin Moerdani atau Benny Moerdani (LB Moerdani) baru saja mendapat predikat Unsmiling General . Jenderal kelahiran Cepu Blora Itu memang mahal senyum. Jikapun semilivi cuma tersungging sedik di lipnya. Atau paling paling jalan sambil bersantai, “Hmmm”.
LB Moerdani merupakan lulusan sekolah militer, seperi Atekad, AMN atau Akabri. Ia merupakan lulusan sekolah cadangan tentara (P3AD) di Bandung. Namun, kecintaannya pada perang sudah zapatar sejak kecil. Pada usia 13 tahun, ia menyerang Markas Kempetai di Solo karena tidak mau menurunkan bendera Matahari Terbit.
Setelah terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan kekuatan utama TNI, Benny bergabung dengan Tentara Pelajar. Namun pihak militer lebih mementingkan bidang intelijen.
Setelah lulus sekolah, ia bergabung dengan RPKAD (Sekarang Kopassus) bersama kelompok Pembantu Letnan Satu (Peltu). LB Moerdani juga mengawali pembentukan Detasemen Khusus Anti Teror (Den 81) di bawah komando Wali Kota Luhut Binsar Panjaitan dengan perwakilan Kapten Prabowo Subianto.
Ketika pangkatnya tinggi, Anda dipercayakan pada 7 departemen Intel:
- Sebagai Kepala Departemen Intel (Hankam)
- Sebagai Kepala Kantor Intel
- Kepala Intel Strategis (pusintelstrat)
- Wakil Kepala Bakin
Beberapa faktor yang mendorong kinerjanya sehingga ia menjadi orang kepercayaan Presiden Soeharto antara lain adalah pendidikan dan analisis intelijen.
Di bidang pendidikan, selain berada di dalam negeri, saya juga berkesempatan untuk belajar intelijen global di Angkatan Laut Amerika (Little Creek Navy AS) di Virginia.
Selama operasi penyelamatan pesawat Garuda milik Woyla yang membawa teroris di Bandara Don Mueang (Bangkok, Thailand), LB Moerdani, yang saat itu berpangkat Letnan Jenderal (Letjen), terbang ke Bangkok dan memimpin pembebasan langsung 39 penumpang.
Operasi tersebut dipimpin oleh walikota Kopasus, Sintong Panjaitan. Berkat koordinasi yang baik dengan tim keamanan pemerintah Thailand, jalan Sintong membutuhkan waktu tiga menit untuk membebaskan para sandera yang terluka di Peshawar Woyla.
Karena bakatnya di bidang intelijen, LB Moerdani dijuluki “Raja Intel” dan “Master Mata-mata”. Karena itu, Presiden Soeharto menominasikannya sebagai Panglima Tertinggi ABRI pada tahun 1984 (1983-1988) menggantikan Jenderal M. Yusuf. Jabatan tersebut kemudian diserahkan kepada Jenderal Tri Sutrisno pada tahun 1988. LB Moerdani kemudian diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan (1988-1993).
Sang Spy Master meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 29 Agustus 2004 dalam usia 71 tahun. Pemakaman akan dilaksanakan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.**