Framing dan "Ujub" dalam Berdakwah

foto

Foto: Kemenag RI.

M. Ishom el Saha (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)

Oleh M.ISHOM EL-SAHA
(Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)

ADA yang menarik dari cara kita menyambut seorang tokoh. Terkadang yang lebih sibuk bukan tamunya, melainkan tuan rumah yang ingin memperlihatkan siapa dirinya.

Tokoh datang, kamera menyala, sambutan menggelegar. Lalu identitas almamater dipasang seperti mahkota: "kami alumni ini", "kami pernah belajar di sana", "kami memiliki tradisi itu", "kami berada dalam barisan ini".

Semua tampak wajar. Bahkan indah. Bukankah mencintai guru dan lembaga pendidikan adalah bagian dari adab? Tetapi di sinilah kita perlu berhenti sebentar. Kapan cinta berubah menjadi ujub?

Pertanyaan ini tidak sederhana. Sebab ujub jarang datang dengan wajah kasar. Itulah sebabnya Rasulullah SAW pernah memberikan pesan yang mendalam dalam sebuah hadits:

"Jika kamu tidak berbuat dosa, aku akan takut akan sesuatu yang lebih besar dari itu: kesombongan, kesombongan." (HR.Imam al-Bayhaqi)

Seringkali ujub datang dengan pakaian kesalehan. Ia berbicara tentang tradisi, sanad, perjuangan, keilmuan, dan jasa guru. Namun diam-diam ada sesuatu yang sedang dibesarkan. Di sini bukan lagi nilai yang diwariskan, melainkan kebanggaan terhadap diri sendiri sebagai pemilik warisan itu.

Kita memilih bagian tertentu dari sebuah kenyataan agar orang melihat sesuatu sebagaimana yang kita inginkan. Seorang alumni tidak sekadar disambut sebagai manusia yang pernah belajar; ia diposisikan sebagai simbol kebesaran lembaga. Seorang tamu tidak sekadar dihormati sebagai pribadi. Kehadirannya dipakai untuk mengukuhkan identitas kelompok. Sehingga dakwah kehilangan kesederhanaannya.

Pesan agama yang mestinya membuat manusia berkata, “Aku masih harus memperbaiki diri,” justru dapat berubah menjadi, “Lihatlah betapa hebatnya kami.”

Di sinilah pesantren dan para alumninya justru diuji. Kebesaran sebuah lembaga pendidikan tidak semestinya diukur dari seberapa sering alumninya menyebut nama lembaga itu, tetapi dari seberapa dalam nilai-nilainya hidup setelah nama itu tidak lagi disebut.

Kalau pendidikan telah mengajarkan keikhlasan, mengapa kita begitu membutuhkan pengakuan? Kalau pendidikan telah mengajarkan tawaduk, mengapa kita perlu terus-menerus menunjukkan bahwa kita pernah berada di lingkungan yang dianggap istimewa? Dan kalau dakwah benar-benar ditujukan kepada Allah, mengapa citra kelompok menjadi begitu penting?

Barangkali kita perlu membedakan antara syukur dan ujub. Syukur diungkapkan semacam ini: "Allah telah memberi kami guru dan tempat belajar yang baik". Sementara "ujub" diungkapkan seperti ini: "Karena kami berasal dari sana, maka kami lebih baik daripada yang lain." Jadi, perbedaannya hanya sedikit dalam kalimat, tetapi sangat jauh dalam perjalanan batin.

Oleh karena itu menyambut tokoh tidak perlu menjadi perlombaan identitas. Hormatilah tamu, muliakanlah guru, cintailah almamater. Tetapi jangan sampai penghormatan berubah menjadi pengultusan dan kecintaan berubah menjadi pembenaran diri. Sebab dakwah bukan pekerjaan membesarkan nama kita.

Dakwah adalah pekerjaan mengecilkan ego agar kebenaran mempunyai ruang untuk tumbuh.

Dan mungkin, tanda bahwa sebuah lembaga pendidikan benar-benar besar justru terlihat ketika alumninya tidak merasa perlu mengatakan bahwa mereka besar. Sebab yang besar tidak selalu membutuhkan pengumuman. Ia cukup hadir dalam akhlak.

Source: Kemenag RI
Editor: Moh Khoeron

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Rahasia-Rahasia Ali Murtopo
Gibran Gugur, Apakah Prabowo Juga Ikut Gugur?
Balada Sang Juru Kasir
Tersesat Mental "Kepiting Dalam Ember"
Ohh... Ini Urusan Legal Standing