Di Balik PWI yang Hebat Ada IKWI yang Kuat

foto

Foto : Istimewa

Pelantikan Pengurus PWI Provinsi Jawa Barat di Gedung Merdeka beberapa waktu lalu.

Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)

PERGANTIAN pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Proivinsi Jawa Barat belum lama ini membersitkan harapan masyarakat jurnalistik atau para wartawan khususnya di Jawa Barat akan terciptanya kondisi yang lebih baik ke depan.

Selama bertahun-tahun ini banyak keluhan, terutama dari wartawan sepuh yang masa berlaku kartu PWI-nya sudah kedaluarsa padahal mestinya harus "SH" alias seumur hidup, mereka banyak yang tidak tahu harus bagaimana cara mereaktivisasinya.

Keberadaan dan aspirasi mereka para wartawan senior alias sepuh selama ini tidak mendapat tempat pada pengurus PWI khususnya di Jawa Barat sebelumnya.

Seperti adanya penilaian dari Dewan Pers yang menyatakan, jika mau jadi pemimpin redaksi suatu media penerbitan, maka yang "diakui" bukan Kartu PWI sekalipun sudah anggota biasa, melainkan mereka yang pernah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan nantinya akan memperoleh gelar "Wartawan Utama" .

Artinya secara tidak langsung, wartawan yang telah malang melintang di dunia jurnalistik dan menjadi anggota biasa PWI ditambah keanggotaannya "seumur hidup", tidak berarti apa-apa tanpa kartu "Wartawan Utama" yang direkomendasikan Dewan Pers. Kecuali jika wartawan sepuh aki-aki dan nenek-nenek ini ikut UKW. Suatu ironi yang teramat menyakitkan bagi wartawan- wartawan senior. 

Kini setelah Ketua PWI Jawa Barat terpilih Tantan Sulthon Bukhawan dipercaya memimpin organisasi besar ini, semua anggota PWI terutama yang senior akan mendapat tempat yang layak, paling tidak suaranya didengar meski sayup-sayup dan serak tak enak di telinga.

Tantan di mata wartawan sepertinya akan siap mengadopsi apapun saran yang baik dari anggotanya saat ia memimpin PWI Jabar. Dan di mata rekan-rekannya, juga ia dianggap layak tampil karena sosoknya yang low profile akomodatif serta pintar dan sudah terbiasa memimoin organisasi. Dan itu tercermin lewat kata-kata yang ia ucapkan saat tampil di Hotel Horison setelah dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan calon Ketua PWI Jabat.

Sikap ini yang membuat optimisme para anggota PWI di bawahnya. Bahkan kekuatan ini akan bertambah karena dalam waktu bersamaan lahir pula kepengurusan baru Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) masa bakti yang sama (2026-2031).

IKWI diharapkan menjadi pendukung (support system) bagi kerja para pekerja pencari dan pengolah berita.

IKWI memiliki kiprah sebagai organisasi massa yang memahami kerja dan pola hidup seorang wartawan. Salah satunya seorang istri atau keluarga wartawan di Indonesia jangan pernah berharap suaminya bakal menjadi orang kaya, karena pekerjaan atau profesi yang digelutinya.

Mahaguru wartawan (Wak) Haji Rosihan Anwar beberapa kali menyebut adanya paradigma, kalau mau kaya jangan jadi wartawan. Mungkin di Indonesia ini hanya dua atau tiga wartawan yang menjadi kaya raya karena pekerjaannya.

Yang saya temui mereka adalah Yacob Utama, pendiri dan pemilik grup Kompas/Gramedia. Harmoko alias Harun Mochammad Kohar, pendiri dan pemilik Pos Kota dan yang satu lagi adalah Dahlan Iskan.

Dahlan Iskan dengan kerja kerasnya mengembangkan Jawa Pos telah berhasil menstranformasi kehidupan dari keluarga miskin menjadi keluarga yang super kaya, bahkan menjadi seorang triliuner.

IKWI justru harus menjadi pendorong suami, bapak atau siapapun, menjadi wartawan hebat yang memenuhi rumus 5 AT ( Bakat. Minat, Semangat, Akal sehat dan Sepasang Kaki yang Kuat).

Tugas dan fungsi

IKWI, pertama membangun kekeluargaan rasa persatuan di antara sesama keluarga wartawan dan seluruh bangsa. Membangun rasa solidaritas dan kegiatan sosial, membantu sesama masyarakat yang berkekurangan.

Tetap teguh dan tangguh menghadapi situasi terutama ekonomi yang tidak berkecukupan., agar suami atau keluarga bekerja dengan baik dan menjadi wartawan hebat.

Dibalik wartawan hebat ada istri dan keluarga yang kuat!**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Belajar dari Wartawan Senior H.Dedi Asikin, Usia Senja Tetap Produktif Sulit Disaingi Penulis Muda
Menggeser Paku, Menyapa Layar: Saat Desa Menjajal Demokrasi Digital
Islam Ala Prabowo, Bukan Sekte Atau Madzhab Islam Baru
Prabowo Tak Terbawa Hanyut?
Persoalan Sampah, Elok di Atas Kertas Lumpuh di Lapangan