Belajar dari Wartawan Senior H.Dedi Asikin, Usia Senja Tetap Produktif Sulit Disaingi Penulis Muda

Iwan N. Irawan
Oleh IWAN N.IRAWAN *)
(Wartawan Senior)
BAGI saya, Kang H. Dedi Asikin adalah sosok senior yang layak diteladani dialam segala hal. Bayangkan saja, ketika sebagian besar dari kita mungkin belum mengenal dunia jurnalistik, beliau sudah aktif menulis di Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) pada tahun 1967. Tiga tahun kemudian, langkahnya berlanjut ke Harian Umum Mandala.
Saat saya baru pertama kali menjejakkan kaki di redaksi Mandala pada tahun 1986, Kang Dedi sebenarnya sudah tidak aktif lagi di sana. Namun, beliau masih sering datang dan menyapa kantor.
Di mata saya saat itu, beliau sudah melangkah sangat jauh, seorang penulis produktif yang karyanya tersebar di berbagai media cetak. Tak tanggung-tanggung, lebih dari 500 judul buku telah lahir dari jemarinya.
Waktu berlalu, hingga akhirnya kami kembali bersua dalam reuni wartawan eks-HU Mandala sekitar lima tahun lalu. Di usianya yang tak lagi muda, energinya masih tampak begitu meluap-luap. Kini, karena beliau menetap di Tasikmalaya, ruang dan jarak memang membuat kami jarang bertatap muka. Namun, jejak pemikirannya tak pernah benar-benar hilang; jemarinya masih cukup rajin mewarnai beberapa media daring, seperti kejakimpolnews.com.
Rasa kagum saya pada kiprahnya saat membaca salah satu tulisannya yang bertajuk "Kalau Wartawan Disuruh Pidato, Siapa yang Menulis Cerita?". Tulisannya mengulas kenangan saat beliau diundang oleh Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Cimahi sekitar tahun 2016 lalu. Meski harus menarik ingatan jauh melayang ke belakang, gaya bahasanya tetap bernas, lugas, dan mengalir renyah.
Membaca karya-karya Pak H. Dedi Asikin rasanya seperti duduk berhadapan, mendengarkan obrolan hangat di warung kopi bersama seorang wartawan gaek. Di usianya yang kini menginjak 87 tahun, cara pandangnya terhadap hidup dan karya tetap terasa jenaka, jujur, sekaligus kaya akan perenungan.
Salah satu yang paling berkesan adalah anekdot "jualan bala-bala" yang beliau lontarkan. Humor itu sebenarnya metafora yang sangat cerdas. Bayangkan prosesnya, belanja bahan sendiri ke pasar, mengaduk adonan di dapur, menggoreng hingga matang, lalu memikulnya sendiri keliling kampung.
Dalam industri penerbitan modern yang serba terstruktur, apa yang dilakukan Pak Dedi lewat bukunya, Jelajah Madrasah, adalah wujud kemandirian total. Ia tak perlu pusing menunggu dilirik penerbit raksasa atau meratapi rumitnya birokrasi distribusi toko buku. Semuanya digarap sendiri dari hulu ke hilir dengan etos kerja khas jurnalis sejati—pantang menyerah dan paham betul cara menguasai lapangan.
Dinamika interaksinya dengan Drs. H. Ahmad Bukhori, Kakanwil Kemenag Jabar kala itu, juga tak kalah menarik. Gelak tawa Sang Pejabat saat mendengar kelakar "dagang bala-bala" memperlihatkan betapa cair dan manusiawinya hubungan mereka.
Sekat birokrasi yang biasanya kaku meleleh begitu saja, berganti rasa saling percaya. Kata pengantar dari Kakanwil pun bukan lagi sekadar ornamen formalitas di lembar awal buku, melainkan sebuah stempel kredibilitas. Begitu pintu kepercayaan terbuka, karya yang jujur akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Dari kacamata strategi pemasaran, langkah Kang Ded, begitu akrab saya sapa, tergolong sangat presisi. Beliau tahu betul siapa niche market-nya. Daripada memajang buku di rak toko yang belum tentu tersentuh, beliau langsung menembak sasaran: madrasah-madrasah yang memang membutuhkan literatur tersebut. Hasilnya luar biasa. Menjual 5.000 eksemplar secara cash and carry untuk sebuah karya independen adalah prestasi fenomenal yang bahkan amat sulit dikejar oleh penulis muda masa kini.
Pada akhirnya, dari rekam jejak lahirnya Jelajah Madrasah, kita belajar tentang kerendahan hati seorang senior. Mampu mengemas kerja keras dan bobot literasi menjadi cerita sejelita adonan gorengan menunjukkan betapa membuminya seorang Dedi Asikin. Di balik derai humor itu, tersimpan pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin berkarya, kenali pasarmu, rawat silaturahmi, dan jangan pernah gengsi memikul karyamu sendiri.
Kisah ini adalah bukti nyata bagaimana perpaduan insting jurnalistik yang tajam, keluwesan pemasaran, dan kehangatan silaturahmi mampu melahirkan karya yang tak hanya bernilai secara intelektual, tetapi juga sukses secara finansial.
*) Penulis adalah mantan wartawan HU Mandala