Memperingati Hari Sumpah Pemuda, Mustahil Meniadakan Nama WR Supratman

Wage Rudolf Supratman
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
JIKA -- sengaja atau tidak -- nama Wage Rudolf Supratman (WR Supratman) ditiadakan dalam setiap Peringatan Hari Sumpah pemuda 28 Oktober, boleh saja. Tapi jika benar namanya tak ada, maka bisa dikatagorikan sebagai pengingkaran sejarah.
Sejatinya nama WR Supratman Itu berada satu paket dengan hari Sumpah Pemuda.
Di dalam penutupan Kongres Pemuda ke-2 yang berlangsung di Betawi atau Jakarta 27 dan 28 Oktober 1928. WR Supratman hadir dengan membawa copy lirik lagu Indonesia Raya. Lagu ciptaanya sendiri selaku seorang pemusik tahun 1924.
Sesungguhnya ada dua fungsi yang dibawa Wage ke penutupa Kongres Pemuda itu. Selain sebagai peserta kongres, ia juga hadir sebagai wartawan koran Sin Po. Ia ditugaskan untuk meliput jalannya Kongres sejak Kongres I tahun 1926.
Kepada ketua kongres Sugondo Djojopuspito, ia menyampaikan niatnya untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tapi Sugondo ketakutan, kerena di Kongres Pemuda itu hadir banyak pejabat dan intel Belanda.
Hal laiannya, karena di dalam lirik lagu Itu ada kata "merdeka" secara berulang-ulang. Maka untuk menyiasatinya lalu disepakati dikumandangkan secara instrumentalia saja dengan gesekan biola.
Tetapi ternyata musik instrumentalia tanpa kata-kata itu mendapat protes dari banyak peserta. Salah satunya dari Doly Salim putra pejuang H. Agus Salim utusan dari Sumatra Barat. Akhirnya berunding lagi, maka disepakati kata "Merdeka" diganti dengan kata "Mulia".
Ternyata setelah itu, banyak terjadi dalam berbagai acara, para pemuda nekad menyanyikan lagu itu dalam setiap acara dengan lirik asli ciptaan WR Supratman tanpa membuang kata "merdeka, merdeka".
Sejak itu Wage Rudolf Supratman menjadi buruan tentara Belanda. Wage lari sambil bersembunyi kian kemari. Intel Intel mancung mencurigai Wage mendukung Jepang karena dia memimpin Kepanduan Bangsa Indonesia ( KBI).
Akhirnya Belanda dapat menangkap WR Supratman ketika berada di radio NIROM ( Nederlandsch Indische Radio Omroep) di kota Malang. Disana mereka sedang menyanyikan lagu ciptaan Wage Rudolf Supratman yang terakhir berjudul Matahari Terbit. Lagu itu sangat memuji Kaisar Jepang (Hirohito).
Tak ayal lagi WR Supratman ditangkap dan dimasukan penjara Kalisosok Surabaya.
Sepuluh hari ditahan, lantaran Belanda tidak menemukan bukti dan menggunakan dalih kemanusiaan Wage dilepas pada tanggal 7 Agustus Agustus 1938.
Tetapi penyakit paru-paru yang dideritanya telah merusak hampir seluruh organ tubuhnya. Dan akhirnya, inalillahi waina ilaihi raji'un. Wage Rudolf Supratman mengembuskan napas terakhir pada tanggal 17 Agustus 1938 dalam usia 34 tahun dan masih berstatus Presiden Suharto memberinya gelar pahlawan nasional pada tanggal 2O Mei 1971.**