Gercep Tuan Presiden Pangkas KKN di BNPB

foto

Foto: BNPB

Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB yang baru menggantikan Letjen TNI Suharyanto.

Catatan IMAM WAHYUDI (iW)

(Wartawan Senior)

GERCEP! Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menggantikan Letjen TNI Suharyanto.

Acungan jempol untuk Tuan Presiden. Langkah gercep alias gerak cepat, sebelum "masuk angin". Langsung pangkas. Hanya berselang sehari, setelah peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di tubuh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pergantian kepemimpinan BNPB terkait erat dengan dugaan kasus korupsi di lingkungan lembaga itu. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan OTT (operasi tangkap tangan) pada Selasa, 13 Oktober 2026.

KPK menyita duit Rp3,3 miliar dan menetapkan lima tersangka. Kasus pengadaan barang dan jasa melalui Dana Siap Pakai (DSP) untuk penanganan bencana. Diduga menjadi tahapan korupsi yang keburu tertangkap.

Para tersangka itu adalah Bima Setyawan (Tenaga Ahli Kepala BNPB, juga adik dari Kepala BNPB Letjen Suharyanto), Gabriel Purwaka Sigit (Pejabat Pembuat Komitmen/PPK)/Kepala Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB, Richard Erlangga (Tenaga Ahli BNPB) serta dua pihak swasta (rekanan), Gery P dan Syifa NG.

Presiden boleh jadi murka. Sekurangnya pelaku utama adalah adik dari (mantan) kepala BNPB. Terlebih berstatus Tenaga Ahli (TA) Kepala BNPB yang sangat sentral dan strategis. Koq bisa, adik diangkat sebagai TA untuk dirinya sebagai pimpinan tertinggi. Daripadanya, terbukti praktik KKN (kolusi, korupsi, nepotisme). Begitu telanjang. Memalukan.

Tindak pidana korupsi di BNPB yang bertanggung jawab terhadap kedaruratan dan kebencanaan. Presiden berang, justru saat aksi mitigasi tengah dimaksimalkan. Seiring kabut tebal akibat karhutla merambah banyak daerah. Bahkan menuai protes dari warga negeri jiran.

Mencopot jabatan Kepala BNPB dalam waktu sesegera itu diharapkan mampu menjadi pelecut pelaku korupsi. Komitmen sang presiden, hendaknya terus dikobarkan. Tak cuma omon-omon.

Tabiat korupsi yang kadung mentradisi. Berkelindan di depan mata. Rakyat menjerit, ekonomi terhimpit. Berharap tongkat komando pemberantasan korupsi tak pernah berhenti.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Munasabah Jika Mendapat Julukan Tasikmalaya Islami
Menyesal Saya Tidak Melaksanakan Nasihat Oce Permana
Menggeser Paku, Menyapa Layar: Saat Desa Menjajal Demokrasi Digital
Peringatan Sejarah Sejatinya Jadi Alarm Pembuka Mata
Tragedi 1965 Setara Holokaus Jerman?