Kobaran Api Di Malam Hari: Pola Lama Petani Nagreg Makin Berbahaya

  • 1 jam lalu
foto

Foto; Iwan N. Irawan

Pola tanam dalam berkebun di Nagreg, bakar dulu sebelum ditanami masih dilakukan padahal membahayakan.

Oleh IWAN N. IRAWAN
(Wartawan Senior)

KAWASAN Lingkar Nagreg, Jawa Barat.
Di balik kelok dan riuk lalu lintas Jalur Lingkar Nagreg, Kabupaten Bandung, ada potensi ekonomi bernilai miliaran rupiah yang sedang tumbuh subur.

Nagreg kini menjelmakan diri sebagai salah satu pusat korporasi budidaya jagung terbesar dan andalan utama di Jawa Barat. Sayang, tradisi lama praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih terus dilakukan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa jelang musim tanam, sebagian petani di sepanjang Jalur Lingkar Nagreg memilih jalan pintas. Daun-daun kering dan ranting dibakar begitu saja dari pagi hingga malam hari untuk membersihkan lahan. Setelah dirasa bersih, barulah cangkul dimainkan untuk membuat barisan lubang tanam jagung.

Pola lama ini terasa makin berbahaya ketika kemarau panjang menerpa. Pembakaran yang tak terkendali acap kali merembet ke lahan sekitarnya.

"Pencegahan harus menjadi bagian dari perencanaan awal, bukan baru bergerak saat api sudah membesar," tegur Asep, salah seorang pemilik warung oleh-oleh di tepi Jalur Lingkar Nagreg.

"Pencegahan ini prioritas bersama. Kami mendorong pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk benar-benar menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar. Dengan langkah terencana, lingkungan terjaga dan bisnis pertanian kita bisa berjalan berkelanjutan," lanjutnya.

Di tengah masifnya potensi ekonomi agrikultur ini, menggali transparansi data dari instansi pemerintah ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Upaya konfirmasi dan perolehan data di tingkat lokal justru membentur tembok birokrasi yang lamban.

Dua hari berturut-turut, saya mendatangi kantor kecamatan setempat untuk meminta informasi mengenai perkembangan pesat bisnis pertanian ini. Sang camat tidak ada di tempat, padahal staf kecamatan sempat menjanjikan bahwa pimpinan mereka bisa ditemui keesokan harinya. Demikian pula dengan sekretaris camat yang dikabarkan tengah menghadiri kegiatan di Soreang.

Situasi serupa berulang ketika saya disarankan menemui Kepala Desa Ciherang, Kecamatan Nagreg. Sosok yang dicari tak berada di tempat. Seorang staf desa yang menerima kedatangan kami meminta pengisian buku tamu serta pencatatan nomor telepon genggam, namun tetap gagal menghadirkan data luasan lahan yang dikelola di desa tersebut. Padahal, informasi mengenai data wilayah dan potensi desa seharusnya bersifat terbuka untuk diakses publik.

Kendala birokrasi ini menyisakan tanya: bagaimana tata kelola pertanian daerah bisa diawasi dan didampingi secara optimal jika instansi di tingkat tapak saja terkesan tertutup atau sulit diakses?

Potensi luar biasa jagung Nagreg tidak boleh terancam oleh keteledoran mengelola lahan maupun lemahnya dukungan birokrasi. Selain mengubah pola pembukaan lahan, keberlanjutan budidaya jagung Nagreg juga membutuhkan pendampingan teknis yang konsisten.

Mengembangkan potensi jagung Nagreg tidak hanya bicara soal tonase panen dan rupiah yang berputar, tetapi juga tentang cara bertani yang bertanggung jawab.
Saatnya meninggalkan cara-cara lama yang merusak, dan beralih ke pertanian modern yang ramah lingkungan. Sebab, bumi yang kita jaga hari ini adalah rezeki yang akan terus menghidupi anak cucu kita esok hari.

Pemerintah sesungguhnya telah melarang keras praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Aturan ini bukan untuk mengekang petani, melainkan demi melindungi keselamatan bersama dan kelangsungan usaha pertanian itu sendiri.

Membuka lahan tanpa bakar sebenarnya bukan hal yang rumit atau menaikkan biaya secara berlebihan. Di tangan para petani yang mulai sadar lingkungan, pembersihan lahan kini dilakukan dengan cara-cara yang jauh lebih bersahabat dengan alam. Sisa ranting dan daun kering yang dulunya gemar disulut api, kini dicacah perlahan untuk disebar kembali sebagai mulsa organik yang menjaga kelembapan tanah.

Biomassa sisa pembersihan tersebut juga tak lagi terbuang sia-sia. Lewat proses pengomposan yang telaten, tumpukan sisa tanaman disulap kembali menjadi pupuk alami yang kaya unsur hara, mengembalikan kesuburan tanah dari hulu.

Tak kalah penting, kesadaran kelompok tani pun mulai terbangun, pengawasan terhadap titik panas atau hotspot diperketat, disertai kesiagaan sarana pemadaman sederhana di sudut-sudut lahan. Langkah-langkah kecil ini membuktikan bahwa merawat bumi tidak harus mengorbankan hasil panen.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Blokir Senyap "Rasa Orde Baru"
Menyesal Saya Tidak Melaksanakan Nasihat Oce Permana
Menggeser Paku, Menyapa Layar: Saat Desa Menjajal Demokrasi Digital
Di Balik PWI yang Hebat Ada IKWI yang Kuat
Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia, Organisasi Apakah Itu?