Adigang, Adigung, Adiguna

  • 1 jam lalu
foto

Foto : Istimewa

Dulu "Ndasmu!" sekarang "Goblok!"

Oleh HARIS SINASTRIO
(Pengamat Sosial dan Politik)

DULU saya aktivis partai. Aktivis lama, malah bisa dibilang “bangkotan”.
Pernah nyaleg dua kali.
Hasilnya?
Belum berhasil.

Bukan karena tidak punya keinginan, tetapi suara yang saya dapat belum cukup untuk mengantarkan saya menjadi legislator.
Lalu orang mungkin bertanya, “Ngapain sih keukeuh ingin jadi anggota dewan?”
Jawaban saya sebenarnya tidak rumit.

Saya ingin memperjuangkan sesuatu yang menurut saya sangat mendasar: kesehatan dan pendidikan untuk rakyat.

Saya ingin suatu hari nanti warga yang sakit tidak lagi sibuk memikirkan uang ketika harus masuk rumah sakit.

Saya ingin orang tua yang tidak mampu membayar sekolah tidak perlu merasa bersalah karena tidak bisa memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya. SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi.

Kalau negara mampu menjamin itu semua, bukankah rakyat akan merasa benar-benar dilindungi?

Bagi saya, itulah arti negara hadir. Dan jangan salah, saya tidak sedang bicara soal makan gratis. Saya bicara tentang hak dasar manusia: sehat dan berpendidikan. Mungkin karena itulah saya masih suka sensitif kalau mendengar seorang pemimpin berbicara dengan kata-kata yang menurut saya terlalu keras.

Beberapa hari lalu, misalnya, Presiden Prabowo berbicara dalam acara HUT PAN. Ketika membahas para pakar yang mengkritik pemerintah, beliau menggunakan ungkapan “saking pintarnya jadi goblok.”

Ucapan itu kemudian menjadi bahan perbincangan publik. Pemerintah melalui Menteri HAM Natalius Pigai menjelaskan bahwa kritik tersebut tidak ditujukan kepada seluruh pakar dan ilmuwan.

Dulu saya pasti marah.
Sekarang?
Aneh.
Saya malah kasihan.
Kasihan kepada diri saya sendiri.
Kenapa?
Karena dulu saya berharap presiden yang saya pilih bisa menjadi contoh.
Contoh dalam berpikir.
Contoh dalam berbicara.
Contoh dalam bersikap.
Bukan berarti presiden harus selalu lembut.
Tidak.
Presiden boleh tegas. Bahkan mungkin harus tegas.
Tetapi tegas tidak harus kasar.
Berani tidak harus merendahkan.
Kritik tidak harus dibalas dengan penghinaan.

Dan yang membuat saya semakin heran, ketika kata itu keluar, hadirin malah tertawa dan bertepuk tangan.

Saya jadi bertanya dalam hati: Kapan kita mulai menganggap kata-kata seperti itu sebagai sesuatu yang pantas hanya karena yang mengucapkannya adalah seorang presiden?

Bukankah justru karena beliau presiden, standar tutur katanya harus lebih tinggi?
Saya jadi teringat pesan orang Jawa:
Ojo dumeh.
Jangan mentang-mentang.
Mentang-mentang punya kekuasaan.
Mentang-mentang punya jabatan.
Mentang-mentang kuat.
Mentang-mentang pintar.
Karena semua itu bisa berubah.
Hari ini berkuasa, besok belum tentu.
Hari ini dipuji, besok bisa dikritik.
Hari ini berada di atas, suatu saat bisa berada di bawah.
Itulah kenapa saya kembali teringat tiga kata lama:
Adigang. Adigung. Adiguna.
Kekuatan.
Kebesaran atau kedudukan.
Kepandaian.
Ketiganya bisa menjadi berkah kalau digunakan dengan bijaksana. Tetapi bisa menjadi bumerang kalau dipakai untuk merasa paling hebat.

Sebagai orang yang dulu memilih beliau, saya hanya ingin bilang satu hal, tidak perlu marah. Tidak perlu tersinggung. Anggap saja ini suara rakyat kecil yang sedang mengingatkan:

Pak Presiden, ojo dumeh.
Jangan mentang-mentang.
Karena rakyat bukan hanya membutuhkan pemimpin yang kuat.
Rakyat juga membutuhkan pemimpin yang bisa menunjukkan kerendahan hati.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Pascakebakaran TPSA Ciniru Kuningan, Masih Terlihat Kepulan Asap Tipis dan Titik Api
Kantor Wali Kota Banjar Dilalap Si Jago Merah, Diawali dengan Bunyi Letupan Berulang-Ulang
Hadapi Potensi Gempa Dahsyat Sesar Lembang, BPBD Kota Bandung Adakan Simulasi Evakuasi Mandiri
Lagi, Tabrakan Beruntun di Tanjungsari Libatkan 3 Kendaraan, Akibatnya Sopiansyah Tewas Terlindas Truk
Dugaan Skandal Wabup Sumedang, Massa 'Koalisi 99' Kepung Gedung DPRD dan Ultimatum 14 Hari Tak Tuntas, Gedung Dewan Diduduki