Kado Rapor Merah untuk Pemkot Bandung Hadiah HJKB ke-216 dari GMNI

foto

Foto: One

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Bandung justru turun ke jalan membawa “kado” dalam bentuk kritik: rapor merah untuk Pemerintah Kota Bandung.

BANDUNG, KejakimpolNews.com — Perayaan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216 tidak hanya diwarnai seremoni dan ucapan selamat.

Di tengah kemeriahan bertambahnya usia Kota Bandung, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Bandung justru turun ke jalan membawa “kado” dalam bentuk kritik: rapor merah untuk Pemerintah Kota Bandung.

Rapor tersebut menjadi simbol kritik GMNI Bandung terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Muhammad Farhan dan Wakil Wali Kota Erwin. Menurut GMNI Bandung, bertambahnya usia kota semestinya berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Namun, sejumlah persoalan lama dinilai masih menjadi pekerjaan rumah, mulai dari lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, pengelolaan sampah, kemacetan, infrastruktur, ruang hidup, hingga kualitas pelayanan publik.

“Kota boleh bertambah usia, tetapi jangan sampai persoalannya ikut bertambah tua tanpa penyelesaian,” menjadi pesan utama yang disampaikan GMNI Bandung.

Bagi GMNI Bandung, ukuran keberhasilan pemerintahan bukan sekadar banyaknya program yang diumumkan, baliho yang dipasang, maupun seremoni yang digelar. Ukuran utamanya adalah sejauh mana kebijakan tersebut menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.

GMNI Bandung menyoroti sejumlah sektor dalam “rapor merah” tersebut, di antaranya tata kelola pemerintahan, kemiskinan dan pengangguran, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pengelolaan sampah, serta ruang terbuka hijau.

Kritik tersebut disampaikan bertepatan dengan momentum HJKB ke-216. GMNI Bandung menilai momentum hari jadi semestinya tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan capaian, tetapi juga kesempatan melakukan evaluasi terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi warga.

“Jika perayaan adalah panggung, maka GMNI Bandung memilih menjadi cermin: memperlihatkan wajah kota sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang ingin ditampilkan,” demikian pesan yang disampaikan organisasi tersebut.

GMNI Bandung juga menegaskan bahwa pemberian rapor merah bukan dimaksudkan sebagai bentuk kebencian terhadap pemerintah. Sebaliknya, kritik tersebut disebut sebagai bagian dari kontrol masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang menggunakan mandat rakyat dan anggaran publik.

Karena itu, GMNI Bandung mempertanyakan arah kebijakan Pemerintah Kota Bandung, penggunaan anggaran, serta dampak nyata berbagai program terhadap kehidupan masyarakat.

Bandung, menurut GMNI, tidak sedang kekurangan seremoni. Bandung membutuhkan penyelesaian. Bukan kekurangan slogan, tetapi membutuhkan bukti.

Momentum HJKB ke-216 pun akhirnya menjadi ruang refleksi dengan dua wajah: pemerintah merayakan perjalanan panjang Kota Bandung, sementara mahasiswa mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Sebab bagi GMNI Bandung, ketika pemerintah merayakan hari jadi kota, rakyat juga memiliki hak untuk menyampaikan evaluasi.

Dan “kado” yang diberikan kali ini bukan karangan bunga, bukan ucapan selamat, melainkan sebuah rapor merah.

Bukan ucapan selamat, tetapi pengingat bahwa Bandung masih memiliki pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.**

Author: One
Editor: Maman Suparman

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Ketika Waduk Saguling, Cirata, dan Jatigede Surut, Warga Sekitar Jadikan Kebun Palawija dan Mencari Tutut
Jasad di Perairan Enggano Ternyata ABK Surakman Pengangkut 5 Wartawan Peliput Gunung Anak Krakatau
Lagi, Gegara PJU Mati, Light Truk Fuso Mengangkut Air Mineral Terguling di Cicalengka
Hadapi Kekeringan, BPBD Kab.Kuningan Distribusikan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Desa Cihaur
Jenazah Erick dan Risyan, Korban Tragedi KM Virgo di Laut Jawa Tiba di Karangpawitan Garut