Senandung Bandung Tempo Dulu (Bagian 3)

  • 5 jam lalu
foto

Foto : Istimewa

Kereta api Si Kuik, melayani jarak pendek, Cibatu-Garut-Cikajang, Bandung-Kiaracondong-Ciwidey.

Oleh HARI SINASTRIO
(Pemerhati Sosial)

BERBICARA tentang Kiaracondong, pasti orang akan tertuju pada stasiun legendaris Kiaracondong. Stasiun peninggalan zaman Belanda, dibuat pada tahun 1894. Sudah cukup tua. Stasiun yang menyimpan seribu kenangan.

Dulu sekitar tahun 1970-an sampai awal 1980 an. Ada kereta api yang sangat legenda namanya si Gombar. Kereta dengan lokomotif  hideung lestreng  atau hitam pekat ini sangat fenomenal. Dengan tongkrongan besar, memang dikhususkan untuk medan medan berat menanjak seperti alam pegunungan.

Selain si Gombar ada juga si Kuik, dengan suaranya kuik...kuik...kuik. memang menjadi tontonan menarik kala kecil. Yang ini ukuran kecil jarak pendek, untuk menghubungkan jarak pendek dan dekat seperti Bandung Cicalengka, atau Kiaracondong-Ciwidey. 

Si Gombar atau Si Gomarm, julukan utama untuk lokomotif uap raksasa jenis CC50 (khususnya nomor lambung CC5001 dan CC5029) serta jenis DD52 (seperti seri DD5208). Lokomotif ini terkenal gagah, berbadan besar, dan suaranya menggelegar saat menaklukkan jalur pegunungan. biasa digunakan jarak jauh, seperto Jakarta Surabaya, Bandung Yogyakarta.

Si Kuik, julukan bagi lokomotif uap dari seri DD52 (seri SS 1200) atau jenis lain yang berbadan lebih ramping, bergerak lebih cepat, serta memiliki ciri khas suara peluit yang nyaring dan melengking. Untuk jarak dekat.

Saat itu jarak rumah dengan stasiun yang dekat stasiun memungkinkan saya berlari kencang demi sekadar melihat lokomotif si Gombar.

Bila terdengar kuong...kuong...kuong!. langsung mengambil langkah seribu dari rumah untuk meihat si Gombar.

Kalau dulu rumah rumah sangat jarang di seputaran kelurahan Kebon Jayanti, belum sepadat sekarang. Belum ada bangunan bangunan menjulang tinggi. Jadi bila si Kuik atau si Gombar datang, terdengar sangat nyaring dari rumah.

Anak anak sekarang mungkin hanya mendengar. Bahwa dulu ada rute kereta api si Kuik menemouh jalur Kiaracondong - Dayeuh kolot - Ciwidey. Saya pernah diajak beberapa kali oleh kakak. Hanya sekadar  ngabuburit naek si Kuik menikmati alam pengunungan nan indah Ciwidey.

Sepanjang mata memandang kita bisa melihat sungai dengan mata air yang jernh, hamparan kebon teh yang sangat luas plus para petani sedang memetik teh. Dengan suara si Kuik yang berkuik kuik mengepul asap yang menjulang tinggi ke angkasa. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Mungkin tidak kebayang sepanjang jalan Jembatan Opat, Cibangkong, Turangga, Buah batu, Dayeuh Kolot, Kopo, Soreang pernah dilintasi si Kuik.

Tapak tapak sejarah masih ada. Rel rel kereta masih ada yang terlihat. Tapi kebanyakan sudah diduduki bangunan bangunan rumah.

Pernah ada wacana, sewaktu Gubernur Ridwan Kamil, mau dihidupkan kembali jalur Kiara Condong - Ciwidey. Entah kenapa sampai sekarang tidak terwujud. Mungkin karena tantangannya yang sangat berat. Karena harus mengosongkan bangunan bangunan diatas rel yang makin lama makin menjamur.

Kalau itu terwujud, sungguh indah. Berkereta api, sambil meniikmati hamparan hamparan kebun teh, sambil berwisata ke Situ Patenggang, Ranca Upas, Ciwalini, Kawah Putih.

Bersambung

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Sarang Preman Menjadi Masjid Hijrah Kolong Tol Buahbatu
Jangan Sampai Keliru, Ini Cara Penulisan HUT RI yang Benar
Komunitas Reptil Bandung Ajak Masyarakat Terutama Anak Mengenal dan Peduli Lebih Dekat
Senandung Bandung Tempo Dulu (Bagian 2)
Rumah Pulih Jiwa Cianjur Rawat 58 Warga Binaan, Berjuang Bertahan di Tengah Keterbatasan