Perjalanan Hidup Presiden Pertama RI (3)
Dibebaskan Jepang dari Bengkulu, Bung Karno Antarkan bangsa Indonesia ke Pintu Gerbang Kemerdekaan

Foto : Istimewa
Jejak Bung Karno di Bengkulu
Oleh DEDI ASIKIN
BERHASIL masuk dan menjajah Indonesia menggantikan Belanda, Jepang butuh dukungan rakyat Indonesia untuk menghadapi sekutu. Tak lain yang harus dilakukannya adalah mencoba mengambil Hati para pemimpin besarnya, di antaranya Ir Soekarno yang sedang berada dalam pembuangan di Bengkulu. Maka pergilah utusan Jepang menemui Bung Karno di Bengkulu.
Dengan jargon "Saudara se Asia", Jepang sebagai "Sudara Tua: membujuk Bung Karno agar mau bekerja sama. Bung Karno yang cerdas menangkap sebuah pelaung, iapun menganggukkan kepala tanda setuju dan ia membuat kesepakatan dengan Jepang.
Padahal sebenarnya semua itu cuma tipu pidin semata. Melalui teman seperjuangan Bung Karno tetap memompa semangat rakyat berjuang menuju gerbang kemerdekaan.
Maka berdasarkan kesepakatan Itu Jepang membolehkan Sukarno pulang ke Jakarta. Tetapi Jepang dengan semboyan Dai Nippon Saudara Tua melancarkan aksinya dengan mengerahkan rakyat terutama kaum muda masuk "Putera" (Pusat Tenaga Rakyat) organisasi bersenjata yang disisipkan Jepang untuk menghadapi sekutu dalam Perang Pasifik.
Selain Putera, pada tahun 1943 itu Jepang pun membentuk pasukan dengan merekrut para pemuda Indonesia menjadi pejuang bersenjata dengan nama PETA (Pembela Tanah Air).
Putera Dibentuk tahun 1953 dengan pimpinan
- Sukarno
- Mohammad Hatta
- Ki Hadjar Dewantara dan
- KH Mas Mansyur.
Untuk mengembangkan sistem pertahanannya, Jepang menggerakkan jutaan rakyat Indonesia untuk bekerja pada proyek-proyek pertahanan seperti membangun benteng, gudang senjata, jalan kereta api, gua-gua pengintaian dan berbagai proyek infrastruktur.
Semua proyek dilakukan dengan kerja paksa yang tersohor dengan nama "Romusha". Kerja paksa itu telah menelan ratusan ribu korban tewas. Mereka para pekerja Romusha meninggal dunia karena kelelahan beke tanpa dibayar bahkan tidak diberi makan.
Sementara Bung Karno dan Bung Hatta terus berjuang di jalur diplomatik di antaranya mengatur persiapan proklamasi kemerdekaan bersama pejuang pejuang lain. Dari kalangan muda banya tokoh-tokoh yang terlibat antara laini Chaerul Saleh, Sukani, Wikana, Adam Malik dll.
Mereka inilah terus melakukan kordinasi dan berdiskusi memastikan proklamasi kemerdekaan. Hal itu dilakukan setelah tahu pada 1945 Jepang kalah setelah bom atom Amerika Serikat meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima.
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tunggal menunggu mementum, namun sebagian aktivis muda seperti Chaerul Saleh dkk rupanya yang tak sabar, mereka ambil momentum itu. Maka melalui peristiwa "penculikan" dari Rengasdengklok, Bung Karno diboyong ke Jakarta dan di Jalan Pegangsaan Timur itulah Bung Karno dan Bung Hata memproklamasikan KLemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945
Dari Jalan Pegangsaan Timur Jakarta inilah Bung Karno telah mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan yang hasilnya bisa dinikmati hingga saat ini.**