Ketika "The Smiling" General Marah

Foto : Istimewa
Presiden Soeharto
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
DI balik senyuman yang selalu mengembang ada sekali waktu Presiden Soeharto marah. Waktu itu 31 Desember 1970 para pengurus DPP Sekber Golkar dan beberapa aktivis muda diundang untuk konsultasi dengan presiden.
Situasi di istana berbeda dengan di lapangan Monas di mana sebagian masyarakat tengah bersiap merayakan pesta tahun baru 1971.
Di hadapan pengurus DPP Golkar, wajah Presiden Soeharto tampak memerah. Lalu berkata kepada para tamunya, di antaranya yang hadir ada Sumiskun, Rahman Toleng, David Navitupulu, Martono dan Murdopo. Mereka itu juga anggota Fraksi Karya di DPR RI. Sementara dari DPP Sekber Golkar ada Sukawati Jamin Ginting, Brigjen Gatot Suwagio dan dokter ( kepresidenan) Amino.
Soeharto geram kepada para politikus muda itu. Mereka sibuk mengampanyekan penundaan pemilu. Dengan nada tinggi Soeharto berkata, "Kalau rakyat marah dan menggantung saya, kalian senang?. Lantas teluk tangan dan menertawakan saya?".
Di hadapan presiden, aktivis muda yang dikenal sebagai Kelompencapir Tanabang duduk dengan jantung berdebar. Ada perbedaan sikap di antara mereka. Soeharto ingin pemilu dilaksanakan sesuai jadwal yaitu bulan Juli, sementara mereka ingin pemilu ditunda.
Alasan mereka pemilu ditunda, struktur politik belum tertata rapi. Sekretariat Bersama Golkar belum cukup kuat untuk menjadi mesin politik dari pada Soeharto. Mereka khawatir nasib Soeharto seperti Sukarno, kata Tjan Silalahi.
Sukarno tumbang karena dia tidak punya partai politik yang menjadi penopang kekuasaannya. Menurut Soeharto kalau pemilu diundur bisa menimbulkan gejolak.
"Bila menurut kalian sampai kiamat tidak akan ada pemilu," hardiknya.
"Sekarang saya instruksikan untuk melaksanakan pemilu sesuai dengan rencana." lanjut Soeharto.
Mendengar Itu semua berdiam kecut. Ali Murtopo yang hadir diam-diam dalam pertemuan itu menyikut Sumiskun sambil berkata berbisik, "Lawan, ayo lawan. Tak satupun mereka berani bicara,".
Usai pertemuan, Ali, Sumiskun cs berkumpul di Tanah Abang. Keputusannya, pemilu harus berlanjut.
"Sekarang mari Kita berpikir positif. Cari cara bagaimana memenangkan pemilu,".
Suharto menolak membuat partai baru seperti yang diusulkan Ali Murtopo. Alasannya terlalu sensitif dan bisa menimbulkan gejolak di kalangan tentara. Soeharto lebih setuju usul berikutnya dari Ali setelah usul bikin partai baru ditolak.
Tapi mengejar waktu yang sudah mepet bukan pekerjaan gampang. Sekber Golkar Itu didirikan angkatan darat untuk bertujuan untuk menampung masyarakat anti-PKI. Dalam waktu singkat Sekber Golkar telah menghimpun 250 organisasi kemasyarakatan yang anti komunisme.
Tapi struktur politik Sekber Golkar belum kuat, belum punya struktur organisasi sampai ke desa. Kendala lain menurut Yusuf Wanandi reputasinya kurang baik. Mereka korup dan suka main perempuan. Itu salah satu alasan kenapa kami ingin pemilu ditunda.
Tak banyak pilihan, Ali Murtopo segera ambil langkah menguasai Sekber Golkar. Pengurus yang bermasalah dikeluarkan. Badan Pemenangan Pemilu ( Bapilu) juga dikuasai. Wewenang memilih kandidat yang akan mewakili Golkar mereka ambil.
Untuk biaya awal Bapilu Ali menyuntikkan dana Rp50 juta. Juga memberikan Rp50 juta untuk menerbitkan koran Suara Karya, dananya katanya dari pengusaha yang titip diri.
Tim Ali bergerak cepat. Jusuf Wanandi dalam Shade of Grey Political Memori of Modern Indonesia 1965-1998 menulis bahwa Golkar juga memanfaatkan organisasi organisasi binaan militer untuk mempromosikan partai.
Pengurus di level bawah mendatangi rumah-rumah menyebar propaganda bahwa hanya Golkar yang mampu menjamin stabilitas dan pembangunan. Ancaman juga ditebar. Barang siapa yang tidak mendukung Golkar dianggap tidak mendukung ABRI atau dicap bersimpati kepada PKI
Dalam kampanye artis-artis diboyong untuk menarik massa . Di pihak lain diam-diam Ali melakukan operasi senyap PNI saingan terberat menjadi program utama penggembosan.
Keretakan antarpengurus dimanfaatkan. Beberapa sumber menyebutkan terpilihnya Hadi Subeno sebagai ketua umum PNI dalam Kongres tahun 1970 di Semarang tidak lepas dari peran Ali Murtopo. Hadi Subeno yang pro pemerintah dimanfaatkan untuk mendepak Hardi Ketua umum lama yang diduga Anti Dwi fungsi ABRI.
Partai Islam juga sama, Partai Muslimin Seluruh Indonesia (Parmusi) giliran kena sentuhan Ali Murtopo. Dalam kongres pertama di Malang, Mohammad Room sebenarnya sudah terpilih menjadi ketua umum menggantikan Djarnawi Hadikusumo. Namun karena pemerintah tidak suka dengan Room kepemimpinan Parmusi diambil alih kembali oleh Djarnawi Hadikusumo.
Begitu pula dalam kongres tahun 1970, manuver Djaelani Narro yang dekat dengan Ali Murtopo membuat HMS Mintareja yang propemerintah, terpilih sebagai Ketua Umum Parmusi
Kerja keras tim Ali tidak sia sia. Dalam pemilu 1997, Sekber Golkar mendapatkan 34,2 juta suara atau setara 63,3% dan mendapatkan 236 kursi dari 360 kursi di DPR.**