Ali Murtopo dan Gerakan Mahasiswa

Foto : Istimewa
Ali Murtopo tokoh Orde Baru kepercayaan Presiden Suharto.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
INI adalah cerita Ali Murtopo. salah seorang tokoh anggota "Think Tank" daripada Suharto itu bertutur. Katanya, dirinya sempat membujuk Suharto beberapa waktu sebelum peristiwa berdarah G-30-S/PKI. agar mau tampil mengantikan Presiden Sukarno yang sudah 20 tahun berkuasa tapi tidak mampu menyejahterakan rakyatnya.
Jawaban Suharto yang waktu itu menjabat Panglima Kostrad, katanya tidak ada yang bisa menggantikan Sukarno. Lalu Ali Murtopo yang waktu itu masih berpangkat letnan kolonel dan menjabat Asisten Intel Komando Tempur Kostrad, disuruh menghadap dan meminta kesediaan Menteri Pertahana dan Panglima ABRI Jendral Abdul Haris Nasution, juga dengan permintaan yang sama.
Jawaban AH Nasution juga hampir sama. Bung Karno itu takkan bisa tergantikan. Ali yang punya dasar dan talenta intelijen dan pandai bergaul serta lobi-lobi tingkat tinggi disarankan untuk bertanya kepada mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta.
Jawabanya pun begitu, idem. Bung Karno kata Bung Hatta, saat itu susah dicari bandingannya. Lagian Bung Hata mengaku sudah terlalu tua, jadi tak mungkin bisa menggantikan Sukarno.
Permintaan kepada ketuga tokoh di atas itu semua diceritakan Ali Murtopo yang tertulis dalam buku "Rahasia-Rahasia Ali Murtopo" yang diterbitkan majalah Tempo tahun 2013 dan 2014.
Ali Murtopo kemudian diangkat Suharto sebagai asisten pribadi bersama Sudjono Humardani, Suyowiryo Diputro dan Tjokro Pranolo. Bersamaan waktunya saat itu sedang terjadi gerakan mahasiswa yang dipelopori Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), yang salah satu tuntutanya meminta Bung Karno mundur dari jabatan Presiden RI seumur hidup.
KAMI yang didukung berbagai kesatuan aksi lainnya seperti KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) mengobarkan tiga tuntutan yang dikenal dengan adagium "Tritura" (Tri Tuntutan Rakyat) yang inntinya:
- Bubarkan PKI.
- Rombak Kabinet Dwikora.
- Turunkan Harga.
Dalam jabatan sebagai Kepala Operasi khusus (Opsus) Ali Murtopo aktif bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa. Di antaranya:
- Cosmas Batubara Ketua Presidium KAMI Pusat dan Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Kristen Republik (PMKRI)-
- Soe Hok Gie, aktivis dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
- Subhan Zaenul Ehsan tokoh muda Nahdatul Ulama.
- Hari Tjan Silalahi (Sekjen KAMI).
- Yusuf dan Sofyan Wanandi
Ternyata dalam pelaksanaan bukan sekedar kerja sama. Yang terjadi adalah Ali Murtopo banyak membantu para aktivis mahasiswa itu. Waktu Itu pendukung Sukarno masih kuat dan mengejar-ngejar dan menangkap para aktivis mahasiswa yang dilakukan tentara dan polisi.
Tapi Ali Murtopo melindungi dengan menyembunyikan mereka di Kantor Kopkamtib, waktu itu di Jalan Medan Merdeka Barat nomor 15. Yusuf Wanandi mengakui kebenaran cerita Itu.
Lewat instrumen Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar), 1966, Suharto dikukuhkan MPRS sebagai presiden Republik Indonesia ke dua. Sebagai imbalannya, Ali Murtopo mendapat beberapa jabatan. Selain Aspri ia diangkat jadi Menteri Penerangan (1079-1983), Wakil Ketua Dewan Pertimbangkan Agung 1983+1984
Tapi kematian adalah hal yang pasti adanya. Demikian pula dengan Ali Murtopo, pria kelahiran Blora 15 September 1924 wafat pada tanggal 5 Mei 1984 karena serangan jantung dalam usia 60 tahun.**