Memajukan Koperasi Ibarat Mendorong Mobil Butut

Ilustrasi
Ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
TAHUN 1969 Jessy Wennas mencipta lagu yang kemudian dipopulerkan oleh Titik Sandora dan Muksin Alatas dan kemudian juga pernah dibawakan oleh Puput Novel ( 1970).
Kawanku punya mobil mewah
Mengajak ku perginya keliling kota
Tetapi mogok di jalan
Pulangnya jalan kaki berdua
Si jago mogok namanya kuberikan
Keluar bengkel sebulan masuk lagi
Apaan tuh
Jangan Itu dong namanya
Nanti ayahku marah
Mogok lagi mogok lagi
Dorong yu dorong
Ketika belakang ini pemerintah merah putih pimpinan presiden Prabowo Subianto mengumbar niat mau mendirikan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di 80 ribu desa banyak orang terkesiap.
Banyak yang mencibir dan menyindir dan juga ada juga proters dan berkomentar yang isinya berbau menolak. Bisa jasa masyarakat banyak yang trauma atas pengalaman masa lalu tentang lembaga yang namanya koperasi.
Tahun 1986 Pemerintah saat rezim Orde Baru pernah meluncurkan pembentukan Koperasi Unit Desa (KUD). Niatnya baik agar produksi para petani ditampung oleh koperasi dan barang koperasi dibeli oleh petani. Saling mendukung, simbiosis mutualistis. Hebatlah itu!.
Tapi lain teori dan harapan lain pula kenyataan di lapangan. Satu persatu KUD itu rontok berguguran. Akhirnya metong semuanya, istilah bahasa Sunda ka luhur henteu sirungan ka handap henteu akaran.
Nah sekarang Pemerintah Prabowo-Gibran juga akan membentuk Kodes Merah Putih, bahkan target perdana mau membangun 80 ribu unit Kopdes Merput.
Belum bicara soal perkembagannya ke depan, namun tekadnya sama dengan Orde Baru yakni ingin menyejahterakan masyarakat desa. Untuk itu pemerintah konon siapkan modal dengan anggaran antara Rp240 sampai 400 triliun, wow!.
Bahkan ini tak main-main, selain mulai membangun bangunan untuk Kopdes Merput di beberapa desa menyaingi minimarket-minimarket yang telah ada, juga melahir kader calon manajer Kopdes Merput nanti.
Lataihan calon manajer itu dilakukan mirip retret para menteri dan pejabat negara di Blitar dulu, latihan dasar diberikan, seragamnya kayak serdadu. Bahkan banyak yang nyinyir, kenapa harus berlatih dasar kemiliteran, manajer koperasi ini bukan untuk berperang melainkan berdagang?.
Bahkan selama latihan di berbagai tempat, ternyata mmakan korban lima calon manajer meninggal dunia. Bisa jadi karena penyakit bawaan atau kecapean, entahlah. Namun semua tak membuat pemerintah bergeming. Latdiksar bagai jargon TNI saat berperang, maju terus pantang mundur!,
Kini para calon manajer tengah digembleng agar kuat mental dan fisik, bangunan untuk Kopdes Merput telah dibangun di perdesaan, bahkan ada yang dibangun di hutan katanya. Mudah-mudahan saja benar-benar bisa maju, bisa menyejahterakan bangsa Indonesia khususnya orang desa.
Kita tinggal melihat dan menyaksikan bagaimana kelanjutnnya, semoga kekhawatiran seperti era KUD masa lalu tak terulang, dan semoga pula lagu mobil tua "Si Jago Mogok" takkan kembali bergema, "Mogok lagi... mogok lagi, apaan tuh!?"**