Pucuk Pimpinan GBN, Hilang Jabatan Lenyap Pula Kebebasan

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BERITA paling anyar dan mengagetkan adalah dicopot nya para pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Mereka bertiga yakni Kepala BGN Dadan Hindayana dan dua Wakil Kepala BGN, Lodewyk Pusung dan Sonny Sonjaya.
Cuman sehari setelah mereka bertiga dicopot jabatannya oleh Presiden RI Prabowo Subianto, Rabu subuh dijemput petugas Kejaksaan Agung, selanjutnya Rabu sore harinya ketiganya ditetapkan sebagai tersangka korupsi dan ditahan dengan dilengkapi rompi warna pink dan tangan diborgol, Dadan cs dikirim ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salemba. Dan sejak itu kebebasan mereka hilang lenyap.
Apalagi kalau yang jemput petugas hukum maka hampir pasti terlibat perkara hukum. Berbeda maknanya kalau yang jemput senior saya. H. Achmad Saelan, bisa dipastikan akan diajak salat di masjid.
Di hari tuanya saat ini, mantan Ketua PWI Jawa Barat itu getol sekali mengingingatkan saya untuk selalu salat berjamaah di mesjid.
"Laki-laki itu wajib salat di masjid," kembali ia mengingatkan kemarin, peringatan untuk yang ke beberapa kalinya. Pertanyaan saya kalau udzur bagaimana?.
Makna sosial terutama bagi para netizen, bahwa pencopotan Dadan cs itumembuktikan bahwa macan Asia itu mulai menerkam tidak cuma mengaum seperti bahan ledekan selama ini.
Soal macan cuma mengaum itu ada cerita lucu dan sangat humoristis. Cerita itu ada di rubrik tempo dulu "Serial Heureuy Parahyangan" yang diasuh Kang Nay (almarhum Sanaya), Rubrik ini terbit rutin di surat kabar Gala edisi tahun 1970.
Seribu ampun sejuta maaf, saya terdesak hati untuk menceritakan heureuynya (alm) Kang Nay sang pengasuh rubrik Serial Heureuy Parahiyangan Itu.
Tidak ada maksud apa-apa selain cuma ingin heureuy yang katanya budaya orang Sunda. Maaf mas kata, sory sorry to say kalau terkesan por'on.
Begini kata kang Nay:
Zaman dahulu kala di sebuah hutan ada seekor macan betina yang terjebak di antara dua dahan kayu. Lehernya terjepit diantara dahan itu. Macan itu tentu tak bisa bergerak.
Syahdan lewatlah sekor kancil. Melihat penderitaan yang dialami oleh penguasa hutan itu, bukannya ditolong malah dipandang, namanya juga hewan.
Tapi pandangannya bukan kasihan ingin menolong melepaskan lehernya dari jepitan dua dahan kayu, bukan pula ingin balas dendam membunuh karena macan adalah musuhnya nomor satu.
Yang terjadi, melihat macan nungging dengan leher terjepi, si kancil malah berotak ngeres. Libido dan hormon testoteronnya mendadak naik dan atau gairah seksual mendadak meningkat, hingga kancil tam mampu menahan ketika melihat 'imbit' macan betina yang demplon ini menungging.
Apa yang dilakukan sang kancil, dia malah kerjain itu macan yang mengaum ingin bebas dari jepitan dahan kayu itu. Caranya, ya dirudaksa dari belakang. Kancil bebas melampiakan libidonya, sang macan betina hanya mampu nyengir dan marah, namun bolah juga menikmati, namun tak mampu berbuat banyak.
Sang kancil pergi sambil bersiul, sementara sang macan kemudian dibebaskan seorang pencari kayu dengan menebang dahan kayu itu.
Tetapi beberapa bulan kemudian, rupanya sperma sang kancil dan macan itu sedang subur sehingga sang singa hamil dan melahirkan seekor bayi macan.
Pada suatu hari itu macan itu sedang jalan-jalan di hutan bersama anaknya yang masih kecil. Eh mendadak lewat sang kancil nakal dan don yuan ini.
Rupanya keluarga macan itu termasuk suku Sunda ya. Tiba-tiba anak macan Itu berteriak kepada ibunya:
"Mama mama, kunaon itu mencek teu dirontok (Mama kenapa kancil tak diterkam)?".
"Hus teu kaci, itu mah emang meneh (hus tak boleh, itu mah pamanmu)".
Mohon maaf saya tidak bisa menahan tawa dan terbahak bahak. Mohon maaf seribu ampun sejuta hampura pembaca.
Hahaha.**