Kemitraan Antara Pers dengan Pemerintah Sebuah Keniscayaan

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
DUA hari yang lalu saya naik taksi di Kota Tasikmalaya. Kebetulan melewati Jalan Jajaway, saat menengok Balai Wartawan/Gedung PWI, mendadak sontak hati terkesiap. Ingatan berputar berpuluh tahun lalu. Soalnya saya ikut terlibat dalam upaya mewujudkan tempat berkumpul untuk kami para kuli tinta.
Waktu itu saya sedang menjadi Koordinator PWI Wilayah V Priangan berkedudukan (sekarang) di Kota Tasikmalaya. Selama saya menunaikan tugas telah terbina kemitraan atau hubungan baik kami para wartawan dengan Bupati Tasikmalaya --waktu itu -- Hudli Bambang Aruman.
Kemitraan itu seni bukan peraturan, apalagi dikaitkan dengan undang-undang, sama sekali bukan. Kemitraan adalah seni membangun komunikasi agar semua pihak enak hati. Saling menghormati dan menghargai. Kalau perlu saling membantu.
Waktu Itu kami para wartawan merasa butuh kantor atau sekretariat. Butuh balai tempat kami berkumpul, berdiskusi dan tempat rehat sehabis meliput atau wawancara dengan nara sumber dari berbagai tempat.
Balai atau sekretariat itu urgen atau sangat dibutuhkan, sebab bisa multiguna. Di gedung, kami bisa bekerja menulis berita atau artikel sebelum dikirim ke Redaksi di Bandung atau Jakarta.
Sebelumnya saya bicara dengan Kepala Humas Apang Sopyan. kami berdua bersepakat dan berencana untuk bertemu bupati.
Dan besoknya kami bertemu di ruang kerja bupati, lantai II gedung-Pemda Kabupaten Tasikmalaya. Tidak pakai bicara lama dan juga tidak berbelit belit. Pak Bupati Hudli sanget paham kebutuhan kami. Saat itu juga Kepala Humas diminta menemui Kepala Bagian Pembangunan Drs. Oon Urawan. Tak pake lama juga saya ditelepon stafnya Pak Oon untuk menemui beliau.
"Begini Pak Dedi, kita ini tidak punya lahan (tanah) kosong untuk membangun balai wartawan itu. Bagaimana kalau di atas susukan (brangang) Ciromban. Kita bisa bangun bertingkat disana," urai Pak Oon ketika saya menemuinya di ruang kerjanya, juga lantai dua gedung- Pemda,tak jauh dari ruang kerja Bupati Hudli.
Saya tak pake berpikir lama, langsung mengiyakan.
Dan yang terjadi kemudian, tahun 1982 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Balai Wartawan yang langsung dilakukan Bupati Tasikmalaya Pak Hudli dan saya masih sempat hadir. Cuma waktu upacara peresmian penggunaan gedung atau balai wartawan Itu saya sudah pindah ke Bandung. Saya tak ingat lagi siapa yang menjadi kordinator PWI Wilayah Priangan waktu itu, apakah kang Edi Padmadisastra (Sinar Harapan) atau Syamsul Ma'arif (Pikiran Rakyat).
Waktu menyelesaikan tulisan ini, saya masih terkesiap. merenungi bahwa kemitraan pers dengan pemerintah Itu sebuah keniscayaan agar terjalin komunikasi dan kerjasama yang saling menguntungkan. Bagaimana pun kedua institusi itu saling memerlukan.
Pers butuh pemerintah sebagai narasumber utama darimana bahan berita diperoleh. Sebaliknya Pemerintah butuh media sebagai corong untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat. 'Kan tak mungkin atau malah tidak lucu kalau bupati sendiri gogorowokan peke Toa masjid.**