Rayakan Karnaval Agustusan dengan Miras dan Obat Keras

  • 2 jam lalu
foto

Foto : Istimewa

Inilah dampak obat keras dan minuman keras, orang jadi lupa diri, Kapolsek pun ditinju oleh seorang pemuda pada pesta karnaval di Cicalengka

Oleh HARI SINASTRIO
(Pemerhati Sosial)

SALAH satu yang bikin "sport" jantung hampir semua Ketua RW adalah menghadapi kegiatan perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini. Perayaan yang seharusnya penuh kegembiraan dan suka cita oleh seluruh lapisan masayaralat, termasuk warga di setiap RW biasanya justru ada "efek sampingnya".

Tidak ada undang-undangnya dan aturan tertulis yang mengharuskan secara khusus rakyat merayakan hari bangsa kita  bebas dari belenggu penjajahan bangsa asing. Kecuali pasang bendera bagi perkantoran lembaga negara atau swasta, dan rumah pribadi yang letaknya di pinggir jalan.

Akan tetapi yang namanya Ketua RW rasa kurang afdol jika tidak merayakan secara khusus dengan melibatkan seluruh warga,  dan itu mau tidak mau tidak bisa juga tutup mata tutup telinga terhadap perayaan hari yang sakral dan keramat itu.

Mungkin hukumnya menjadi "wajib" merayakan. Kalau tidak, bisa dicap Ketua RW euweuh kadaek, Ketua RW euweuh gadag.

Salah satu perayaan wajib ada, Agustusan adalah karnaval. Biasanya tua muda, kakek nenek tumpah ruah merayakannya dengan berbagai aksi.

Sebagai Ketua RW di salah satu negara padat penduduk. Untuk pesta rakyat ini. Saya berusaha untuk membuat karnaval semeriah mungkin. Akan tetapi cemas dan waswas menghantui. Pasalnya tidak dapat dipungkiri hampir di semua RW, karnaval identik dengan "minuman heuras".

Katanya pula,  tidak afdol kalau karnaval tidak menegak "cai kawani" katanya dengan minum air ajaib itu. Jelema yang tadinya lungguh jadi ngadak ngadak liar dan beringas. Apalagi dengan dibarengi atraksi "Reak" yang konon kabar pesertanya diasupan jurig hasilnya jadi pesta jurig bukan pesta rakyat lagi.

Biasanya karnaval berbarengan se-kelurahan, hasilnya ketika berpapasan bukannya tidak mau saling mengalah. Karena sama sama minum "cai kawani". Tawuranlah. Ujung ujungnya saling serang.

Jangankan saya, yang hanya ketua RW bisa melerai. Kapolsek dan Danramil di suatu daerah habis dikeroyok karena bermaksud melerai karnaval. Malah ada seorang Kiai diserang rumahnya buntut dari karnaval.

Selama saya jadi gegeden daerah level sudra. Kejadian ini hampir selalu terjadi. Biangnya bukan sulap bukan sihir pasti akibat miras ditambah sekarang mah "kolaborasi" dengan obat keras yang bikin orang hilang kesadaran.

Saya pernah bertanya pada mantan mantan "pendekar mabuk" hawana teh hayang gelut dan bikin onar kalau sudah "minum" ( maksudnya minuman heuras) dan "ngepel" ( bukan ngepel lantai tapi minum obat terlarang).

Sudah itu tentu para Ketua RW pada sibuk lobi-lobi antarketua RW buat meredakan warganya supaya konflik tidak berkembang dan berkepanjangan. Hanya itu yang bisa dilakukan para ketua RW.

Semoga untuk selanjutnya para pemangku jabatan di atas bisa mencari solusi buat kedepannya ketika karnaval agustusan bisa berjalan aman dan tentram. Saya bukan sok tahu, ternyata biang dari tawur segala tawur adalah minuman heuras alias miras ditambah pil obat terlarang. Jika perlu jangan berhenti merazia para tukang jualan minuman keras, baik pabrikan maupun oplosan, dan juga tangkapi para penjual obat keras.**

Bagikan melalui
Berita Lainnya
Badai Dahsyat Dibalik Mundurnya Daripada Soeharto
Titik-Titik Kosmis Sebelum Baitullah
Drama Rengasdengklok, Penculikan Atau Pengamanan?
Tiada Maaf Bagimu Jurnalis!
Teks Proklamasi Dikemas Dini Hari