Tiyo di Pusaran Politik "Belah Bambu"

Foto: Sanudera/Istimewa
Ilustrasi Politik Belah Bambu.
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
DIBERITAKAN aktivis Tiyo "dikeroyok" secara politik oleh rekan-rekan mahasiswa. Ia mendapat serangan balik dari aliansi mahasiswa yang menamakan diri BEM Bersatu.
Aliansi ini menuding mantan Ketua BWM-UGM Tiyo tidak murni menyuarakan aspirasi rakyat. Melainkan ditunggangi jaringan elite tertentu.
Malah disebutkan, ia menerima fasilitas kendaraan dari mantan jenderal yang berafiliasi dengan partai non-koalisi.
Dilaporkan
Akibat kritiknya yang keras, Tiyo juga dilaporkan ke kepolisian atas dugaan penghasutan dan fitnah terhadap program prioritas pemerintah.
Politik "Belah Bambu"
Fenomena mahasiswa yang saling menjatuhkan sesama aktivis kampus sangat kental dengan metafora politik "belah bambu".
Secara histori, politik "Belah Bambu" diserupakan dengan "devide et impera yang berarti "pecah belah dan kuasai".
Hal ini yang merujuk pada pengalaman sejarah Indonesia pra-kemerdekaan dimana seluruh elemen kekuatan politik dilemahkan.
Strategi adu domba atau memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil untuk tujuan lebih mudah ditaklukkan dan dikuasai tercatat pada era Orde Lama fam Orde Baru.
Melanggengkan
Politik belah bambu keniscayaan melanggengkan kekuasaan yang terinspirasi dari sifat fisik batang bambu yang dibelah. Satu sisi diinjak agar sisi lainnya terangkat naik.
Dalam hal ini pihak mahasiswa yang kritis sekaligus representasi kekuatan oposisi terhadap rezim penguasa diinjak hingga dimatikan langkahnya dengan membenturkan kepentingan dengan aliansi mahasiswa lainnya yang berseberangan.
Dan, Tiyo kini sedang berada dalam pusaran politik itu.**