Sepak Bola Pancasila. Apaan Tuh?

Dedi Asikin
Dedi Asikin
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
JUJUR saya tidak terlalu senang berolah raga. Jalan pagi lima puluh meter saja dua kaki ini sudah terpincang-pincang./ Ya,sudah istirahat sajalah sambil napas ngos-ngosan.
Alih-alih orang lain gemar dan pintar main sepak bola, bola voli atu olahraga lainnya, membuat berita olahraga saja saya sangat jarang. Mohon jangan disalahin. Ini soal kesenangan dam insting belaka. Kalau saya suka dan kaya teman-teman lain yang menjadi wartawan olahraga tentu saya sudah beberapa kali bertugas ke PON. ASEAM Games, Asian Games atau olimpiade, atau meliput Persib bertanding.
Oleh karenanya, pada dasarnya saya ini wartawan generalis bukan spesialis. Wartawan buntel kadut. Paling sering menulis berita kriminal. Itu yang disenangi oleh publik waktu itu.
Sekalinya saya membuat berita olahraga adalah ketika ketua umum PSSI Bardosono melempar ide "Sepak Bola Pancasila".
Ada seharian saya menebak-nebak apa gerangan yang ada di otak sang mayor jenderal purnawirawan itu. Bagaimana cara main sepak bola yang Pancasilais.
Bisa jadi mungkin pemain bolanya atau pengurus, wasit, ofisial, dan suporter harus ber-Ketuhanan Yang Mahaessa, selalu ingat Tuhan Yang Mahapencipta yang mengawasi kita saat bermain. Tak ada match fixing artau pengaturan skor, dan jual beli gol.
Harus pula ber-Perikamunisaan yang Adil dan Beradab, tak boleh mengasari lawan di lapangan, tak boleh caci maki, rasis, wasitnya haruis adil, pemain dan suporter harus beradab.
Persatuan Indonesia, mungkin Bardosono mau setiap kompetisi Liga nasiona harus mempersatukan bangsa. Jangan ada perpecahan seperti Jakmania dan Viking, saling ejek apalagi rasialisme membawa suku bangasa dan warna kulit.
Sepakbola juga harus menjunjung tinggi Kerakyatan yang Dipimpin Hikmah Kebijaksaan Dalam Permusyawaratan dan Perwakilan. Artinya haris demokrasi, jangan mau menang sendiri, jangan merasa diri paling benar, jika ada masalah harus bermusyawarah melalui perwakilannya.
Dan mungkin Bardosono ingin bahwa orang-orang sepekabola termasuk wasit harus bersikap adil dalam memutus suatu kesalahan, sebab keadilan sepakbola di lapangan ini bisa menjadi cermin bagi bangsa Indionesia yang menganut asas demokrasai agar beraku adil juga dalam mengurus bangsa.
Itu hanya analisis atau persepsi saua doang secara kirata, dikira-kira semoga jadi nyata. Yang jelas jika saja Bung Karno mssif hidup mungkin penggali Pancasila itu juga terbengong-bengong mendengar ide ketum PSSI yang aneh suraneh itu. Siapa tahu sahabat saya bung Haji Omay Komar bisa memberi pencerahan kepada saya dan yang lain.
Terima kasih, hatur thank you.**