Segelintir Belanda-Belanda yang Humanis

Foto: Wikipedia
Ernest François Eugène Douwes Dekker alias Multatuli orang Belanda yang peduli terhadap pribumi,
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BAGI teman diskusiku, Boys Iskandar, jahat dan kejamnya kolonial itu biasa dan wajar.
"Mana ada kolonial yang baik hati," ucapnya dalam beberapa kali diskusi di Grup Ngadu Bako.
Boys benar. Ditinjau secara umum kolonial atau bangsa penjajah itu memang berwatak jahat, bahkan kejam. Tujuan mereka menjajah untuk mengeksploitasi bangsa dan negara lain untuk kepentingan negaranya.
Tapi jika diurut secara seksama ternyata masih ada satu dua orang bangsa kolonial Belanda yang secara pribadi baik hati. Malahan mereka berjuang dengan mengorbankan integritasnya membela bangsa yang terjajah.
Ada Ernest François Eugène Douwes Dekker. Di ranah politik dan kenegaraan terkenal dengan nama Douwes Dekker. Ia lahir di Amsterdam 8 Oktober 1826. Leluhurnya memang orang Blnds bernama Doiwea Dekker.
Ayahnya Katijo orang Pasuruan Jawa Timur. Dalam perjalanan hidupnya, Douwes Dekkermemiliki dua kewarganegaraan. Tinggal di Indonesia aepi tetap warga Belanda.
Doewes Dekker termasuk orang Belanda yang baik hati. Dalam istilah sosial biasa disebut humanis. Ia mrnentang kekejaman pemerintahnya terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda (Indonesia).
Doewes Dekker adalah seorang wartawan. Sebagai Wartawan ia sering menulis di koran De Locomotief yang terbit di Surabaya. Iapun menjadi seorang pegawai negeri.
Sebagai ambtenar atau pegawai negeri ia sempat menjabat asisten residen Banten tahun 1856. Di sanalah dia menulis buku yang diberi judul Max Havelaar.
Dalam bukun Max Haveavelaar, Dekker menggunakaan nama pena Multatuli. Berdasar apa yang didengar dan dilihatnya ia tulis kekejaman dsn penderitaan rakyat pribumi akibat politik tanam paksa yang dilakukan gubernur jenderal Hindia Belanda Johanes Van de Bosch mulai tahun 1830.
Multatuli "Douwes Dekker" dalam buku itu menulis tentang korupsi yang dilakukan pejabat kolonial dan pejabat lokal (bupati dan antek-anteknya). Douwes Dekker hanya beberapa bulan bekerja sebagai Aden (Asisten Residen), lalu berhenti. Bahkan ada yang bilang Dekker dipecat oleh pemerintah yang berkuasa, ada pula yang omon-omon karena permintaan sendiri keluar dari pegawai negeri.
Benar tudaknya dipecat atau mengundurkan diri, wallahu alam. Pasalnya Gubernur Jenderal Van de Bosch -nya juga sudah berpulang, jadi ya tak bisa dikonfirmasi.
Baron van Hovel
Orang Belanda humanis lainnya ada lagi, yakni Baron Van Hovel. Dia seorang pendeta dan juga anggota parlemen. lalu ada pula, Fransen de Putte, wartawan dan politikus liberal yang sering menulis tentang pendirian petani pribumi akibat politik tanam paksa.
Bung Karno dalam pledoinya atau pembelaan diri saat diadili di Landrad atau pengadilan kolonial di Bandung (1930) menyebut nama Pieter Broo Shoot seorang wartawan yang kritis. Ia pernah keliling pulau Jawa selama beberapa bulan.
Pieter Broo Shoot lalu pulang ke Nederland, di negaranya ia menyerahkan laporan kepada 12 orang anggota parlemen disertai sebuah buku dan 1.255 surat pernyataan dari tokoh-tokoh pribumi tentang penderitaan rakyat pribumi akibat politik tanam paksa Itu.
Diserang 13 anggota serta desakan pihak eksternal, Parlemen Belanda merekomendasikan dihentikannya politik tanam psksa. Dan itulah yang terjadi. Pemerintah Belanda secara resmi menghentikan tanam paksa pada tahun 1870 dn mengganti dengan Undang Undang Agraria. Menyusul kemudian diluncurkan Politik Etis, Open The Door dsn Balas Budi.
Implementasinya antara lain pembangunan irigasi untuk kesejahteraan dan membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak pribumi untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapan.
Mungkin Belanda tidak sadar bahwa politik etis atau politik balas budi yang diterapkannya itu menjadi entry point atau pintu masuk bangsa Indonesia meraih kecerdasan dan pada gilirannya mengkristal menjadi gesekan kemerdekaan
Dan buktinya lahirlah sejumlah pribumi yang berpendidkan dan cerdas hingga meningkatkan kekritisannya terhadap pemerintah kolonial Belanda. Di antaranya kelahiran Boedi Oetomo.
Diawali di sebuah sekolah kedokteran pribumi di Batavia, sekelompok anak muda cerdas mulai membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada ruang kelas mereka. Merasa hidup di bawah bayang-bayang kolonialisme. mereka merasakan pendidikan masih menjadi barang mahal bagi banyak orang pribumi. Kesempatan belajar tidak terbuka merata.
Mereka mulai sadar bahwa nasib sebuah bangsa tidak akan berubah jika rakyatnya terus dibiarkan tertinggal. Dari kegelisahan itulah maka pada tanggal 20 Mei 1908 lahirlah Boedi Oetomo. Organisasi ini tidak langsung besar tetapi disinilah mereka mulai menyadarkan bangsanya, bahwa kaum pribumi harus bangkit melalui pendidikan, pengetahuan, dan persatuan.
Organisasi yang digagas dr. Wahidin Soedirohoesodo, seorang dokter Jawa kemudian disambut oleh para pelajar STOVIA, termasuk Soetomo. Mereka melihat bahwa penjajahan tidak hanya membuat rakyat kehilangan kebebasan politik, tetapi juga membatasi akses terhadap pengetahuan.
Inilah yang mungkin damnpak dari politik etis Belanda yang melahirkan pribumi yang cerdas, kritis berpendidikan. Semua itu lahir karena jasa segelintir orang Belanda yang merasa bahwa kaum pribumi memang menderita karena penjajahan ini.**