Lagi, Presiden: Ndasmu!

Ilustrasi
Ilustrasi, Prabowo: Ndasmu!
Catatan RIDHAZIA
(Wartawan Senior)
PRESIDEN Republik Indonesia Prabowo Subianto yang hadir di Puncak Pekan Nasional (Pebas) Petani dan Nelayan XVII kembali menanggapi gelombang aksi demonstrasi dan kritik dengan sikap cuek.
Ucapan “Ndasmu” dan “Emang gue pikirin” yang terlontar di dalam forum resmi kenegaraan tersebut itu langsung viral di media sosial dan memicu beragam reaksi,
Apa kata Psikologi Komunikasi?
Dalam studi psikologi komunikasi dan perilaku, kedua Kepala Negara tersebut mencerminkan mekanisme pertahanan ego yang disebut defense mechanism.
Selain pernyataan itu sebagai ekspresi pelepasan emosi. Juga pertahanan ego untuk melindungi diri dari kecemasan, pikiran menyakitkan, atau ancaman emosional.
Dalam sejumlah studi, mekanisme pertahanan diri sesungguhnya identik dengan menolak untuk mempercayai atau menghadapi kenyataan.
Selain sebagai reaksi model kepemimpinan yang represif dengan menyembunyikan pengalaman dan pikiran traumatis ke alam bawah sadarnya agar terlupakan.
Dengan kata lain, mengalihkan sifat, pikiran, atau perasaan negatif diri sendiri kepada orang lain untuk mencari alasan atau pembenaran yang masuk akal untuk menutupi kesalahan atau perilaku buruk.
Pertahanan diri ini identik dengan apa yang disebut displacement yakni pengalihan frustrasi agar merasa lebih aman. Selain sebagai sublimasi saja yaitu mengubah dorongan atau emosi negatif menjadi aktivitas yang lebih positif, produktif, dan diterima secara sosial.
Ndasmu!
Kata "ndasmu" yang dinyatakan dalam keadaan sadar sebagai pemimpin negara -- berasal dari bahasa Jawa kasar yang berarti "kepalamu" -- bisa dimaknai bentuk umpatan verbal untuk mengekspresikan kekesalan.
Sedangkan kata "Emang gue pikirin" sebagai bentuk mekanisme pertahanan ego berupa represi selektif atau sikap masa bodoh (emotional detachment).
Keduanya kata-kata Presiden itu dalam studi komunikasi psikologi merupakan ekspresi yang berfungsi sebagai dinding pertahanan mental (coping mechanism) untuk melindungi diri dari kecemasan.
Presiden juga menolak kritik sosial, dan tidak merasa perlu merespons karena berpotensi menimbulkan stres dan dianggap hanya mengganggu pikiran.**