Bung Karno: Jembatan Ampera Dibangun Demi Kebutuhan Rakyat Bukan Gengsi Pejabat

Foto : Istimewa
Jembatan Ampera Palembang masih tetap kokoh melintang di atas Sungai Musi hingga kini.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
SAYA masih ingat pidato Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno atau Bung Karno pada peresmian jembatan Ampera yang menghubungkan kota Palembang dengan kota Plaju II yang merupakan pusat perminyakan Pertamina saat itu.
Tanggal 10 November 1965 itu Bung Karno berpidato begitu retorik. Ia menegaskan bahwa jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi di Palembang itu dibangun demi kebutuhan rakyat, bukan demi gengsi pejabat.
"Tahun 1961 telah datang kepada saya Presiden Panglima Tertinggi ABRI Pemimpin Besar Revolusi dan Penyambung Lidah Rakyat, Pemerintah Kota Palembang dan Provinsi Sumatra Selatan disertai pimpinan DPRD masing-masing menyampaikan aspirasinya rakyat ingin membangun jembatan di atas Sungai Musi yang memisahkan kota Palembang dengan kota lainnya," kata Bung Karno di hadapan massa warga Palembang.
Bung Karno juga mengusulkan. agar di kedua ujung jembatan itu dibangun taman yang indah. Lantas Presiden menyetujui dan akan dibangun oleh pemerintah pusat. Selanjutnya presiden pertama RI ini melobi Perdana Menteri Jepang Hayato Ikeda dengan mengajukan pampasan perang. Karena ada hak Bangsa Indonesia yang telah dijajah Jepang yang cuma seumur sayur kacang membuat Indonesia telah hancur lebur.
Ternyata lobi Bung Karno berhasil. Saudara Tua (Jepang) itu bersedia menjadi membiayai pembangunan jembatan itu dengan instrumen pampasan perang. Dalam tender yang dilakukan panitia gabungan Fuji Car Manufaktur Jepang dinyatakan sebagai pemenang. Dalem pelaksanaannya Diwakili 3 subkontraktor dari Jepang Fuji Sharyo Co Ltd, Okayashi Gumi Co Ltd, dan Fuji Electric Levzo Co Ltd. Sementara sub kontraktor dari Indonesia adalah Cipta dan Nindya Karya, Nilai kontrak adalah $7 juta dengan kurs waktu itu pe Dllar US Rp200.
Pekerjaan dimulai bulan April 1962 dan diresmikan tanggal 10 November 1965. J emnatan yang bukan hanya menjadi kebanggaan warga Sumsel saja tapi juga seluruh bangsa indonesia. Jembnatan tersebut memiliki panjang 1.117 meter dengan lebar 22 m meter yang dibagi untk kendaraan 14 meter, 3,10 untuk sepeda dan 3,90 untuk pejalan kaki.
Hingga kini jembatan ini masih tetap kokoh melintang di atas oermukaan Sungai Musi Palembang, dan maish tetap dijadikan jalur utama yang menghubungkan Kota Palembang dengan kota kota dan daerah lainnya di seberangnya.**