Konferensi Pers Terpanjang yang Bikin Wartawan Sempoyongan

Gambar/ilustrasi: iStock
Ilustrasi konferensi pers.
Oleh DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
INILAH pengalaman dari idola saya Bang Mahbub Djunaidi yang menceriatakan tentang pengalamannya saat mengikuti konferensi pers, suatu pekerjaan wartawan untuk mendengarkan keterangan atas suatu kegiatan atau kejadian dari narasumber.
Kali ini Bang Mahbub menceritakan pengalaman uniknya saat mengikuti konferensi pers dengan beberapa tokoh dunia.
Pertama saat konferensi pers dengan narasumber Menteri Luar Negeri Indonesia Dr. Subandrrio pada tahun 196. Kehgiatan jumpa dengan para wartawan itu berlangsung di Deplu Pejambon, Jakarta. Yang hador saat itu sekitar 500 orang wartawan dari berbagai media baik dalam maupun luar negeri.
Pak Ban, demikian panggilan Menlu Subandrio, menguraikan upaya Indonesia merebut kembali Irian Barat (kini Papua) yang dikangkangi terus oleh Belanda yang terus mengingkari kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) November 1949.
Dalam KMB yang berlangsung di Denhaag, Belanda itu delegasi Indonesia dipimpin Wakil Presiden Mochammad Hatta, Indonesia sepakat membayar utang Belanda sebesar 20 juta gulden. Selain Itu Indonesia berjanji tidak akan menasionalisasi perpisahan Belanda dan Amerika di Indonesia.
Sebaliknya Belanda akan menyerahkan kedaulatan secara de facto kepada Indonesia atas pulau Jawa dan Madura. Sedangkan soal Irian Barat, Belanda akan membicarakan lagi setahun kemudian.
Tetapi setahun berlalu bahkan lebih, Belanda mengingkari janji itu. Sampai tahun 1961 berarti sudah 12 tahun Nederland tak jua menyerahkan Irian Barat. Oleh karena itu Indonesia juga terpaksa membatalkan kesanggupan membayar utang Belanda kepada Amerika dan Inggris, seraya menutup perusahaan (perkebunan) yang dikelola Belanda menjadi perusaan milik Indonesia.
Begitu panjang lebar dr Subandrio bicara kepada wartawab, sekitar tiga jam berlangsung belum lagi acara tanya jawab antara Pak Ban dengan wartawan yang berlangsung sekitar satu jam. suatu konferensi yang begitu panjang yang lain dari biasanya, padahal biasanya konpers takkan lebih dfari setengah jam.
Tetapi apa yang terjadi setelah konpers, tak satupun pers Barat yang memuat cerita dari Menlu Indonesiau. Bisa dimaklum pers Barat saat itu lebih berpihak kepada Balanda yang dilindungi Amerika, begitu ditulis Mshbub Djunaidi pada Harian Pelita 30 Juli 981.
Selanjutnya Mahbud menulis tentang Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau China, Choe En Lai. Tanpa membuat catatan sedikitpun, PM Choe mampu menjawab puluhan pertanyaan wartawan yang disampaikan sekaligus. Semua pertanyaan disimak di dalam kepalanya. Pada saat menjawan sang PM menjawab semua pertanyaan dengan bahasa yang teratur dan terstruktur, apik.
Yang paling kata Bang Mahbub, adalah konpres di Istana Presiden Sadam Husein di Bagdad Irak. Tak kurang dari 275 orang wartawan hadir sejak pukul 16:30. Para wartawan yang hadir dalam konpers itu dipanggil satu persatu sesuai nomor pedaftaran.
Memang begitu SOP -nya. Mereka para wartawan juga harus melalui pemeriksaan yang sangat ketat. Semua peralatan liputan seperti kamera foto, televisi dan peralatan lainnya, termasuk pemeriksaam fisik dilakukan dengan sangat ketat.
Ada pengalaman buruk yang pernah terjadi. Saat konpers berlangsyng tiba-tiba ada suata meledak dari sebuah mikrofon yang diduga disisipi bom. Sgenap sekuriti langsung turun tangan, dan setelah semuanya dianggap aman, maka selepas magrib munculah Presiden Saddam Husein. Ia tampil dengan seragam militer kebesarannya walaupun sebenarnya tidak punya latar belakang tentara.
Di hadapan wartawan, Penguasa Irak ini menyampaikan salam dengan mengacungkan kedua tangannya di atas kepala. Wajahnya ganteng, lebih ganteng dari bintang film Arab Omar Syarief atau bintang India Syah Rukh Khan. Cara bersalamnya mirip campuran antara gaya Hitler dan Paus.
Selama hampir empat jam konperes berlangsung, lebih lama dibandung konpres dengan Menlu RI Subandrio. Semua pertanyaan dijawab Saddam dengan baik dan sungguh-sungguh. Ia juga menyatakan siap membantu Bani Sadr atau Ayatollah Khomeini jika mereka melarikan diri ke Irak. Penyataan itu direspon oleh para wartawan dengan tertawa riuh rendah.
Pukul 01:30 konpers selesai, dan para pencari berita itu baru keluar istana. Mereka wartawan keluar dengan berbagai mimik muka dan gestur tubuh yang menandakan kelelahan. Ada yang terhuyung-hujung seperti berjalan sambil tidur, ada yang oleng bagai orang mabuk miras, maklum lebuh dari emoat jam harus mendengarkan keterangan dari sang penguasa Irak saat itu.
Itulah sederet konferensi pers di masa dulu yang dialami wartawan senior yang kini telah almnarhum, Mahbub Djunaidi. Dibanding sekarang yang rata-rata singkat jelas, terarah efektif dan efisien, waktunya tak lebih dari satu jam biasanya, malah ada yang cukup dengan 15 menit, tuntas...tas.**